: Dirja Wiharja
Sebuah Kritik terhadap Simbol, Identitas, dan Kesadaran Beragama
Peringatan:
Jika Anda seorang Muslim, saya berharap Anda membaca tulisan ini dengan pikiran yang tenang.
Tulisan ini bukan serangan terhadap Islam sebagai agama, melainkan kritik terhadap cara sebagian orang memahami dan menghayatinya.
Menurut pengamatan saya, salah satu persoalan dalam kehidupan beragama adalah ketika simbol-simbol budaya tertentu perlahan dianggap identik dengan kebenaran agama itu sendiri.
Dalam konteks Islam, hal ini sering tampak pada cara sebagian umat memandang segala sesuatu yang berbau Arab.
Bahasa Arab.
Nama-nama Arab.
Pakaian Arab.
Kota-kota di Arab.
Bahkan berbagai simbol budaya Arab lainnya.
Tanpa disadari, semua itu sering memperoleh status yang nyaris sakral.
Seolah-olah semakin dekat seseorang dengan budaya Arab, semakin dekat pula ia dengan Islam.
Padahal keduanya tidak selalu identik.
Bahasa Arab adalah bahasa.
Pakaian Arab adalah produk budaya.
Nama Arab adalah identitas sosial.
Semuanya lahir dari ruang sejarah dan kebudayaan tertentu.
Sedangkan agama berbicara tentang nilai, makna, dan orientasi hidup yang jauh melampaui batas etnis maupun geografis.
Namun dalam praktiknya, simbol sering kali menggantikan substansi.
Akibatnya, tulisan berbahasa Arab lebih mudah dipercaya dibanding isi yang benar-benar dipahami.
Lagu berbahasa Arab lebih mudah diasosiasikan dengan religiusitas, meskipun belum tentu memiliki kandungan keagamaan.
Nama yang terdengar Arab lebih mudah memperoleh legitimasi moral, meskipun karakter pemiliknya belum tentu mencerminkan nilai-nilai moral yang baik.
Demikian pula pakaian.
Sering kali pakaian tertentu diasosiasikan dengan kesalehan, padahal pakaian tidak pernah otomatis menjamin kualitas akhlak seseorang.
Kebaikan tidak memiliki seragam.
Kejahatan pun tidak memiliki satu model pakaian tertentu.
Karena itu saya melihat adanya kecenderungan yang menarik:
Sebagian orang lebih mudah menilai simbol daripada substansi.
Lebih cepat menilai identitas daripada karakter.
Lebih terkesan pada atribut daripada kualitas kemanusiaan.
Dalam situasi seperti itu, agama berisiko berubah menjadi proyek imitasi budaya.
Menjadi usaha untuk menyerupai bentuk luar suatu peradaban tertentu.
Padahal esensi keberagamaan tidak selalu terletak pada kemiripan budaya.
Melainkan pada kedalaman kesadaran.
Akibat lain dari kecenderungan ini adalah munculnya ruang yang sangat mudah dimanfaatkan.
Dalam politik, simbol-simbol keagamaan sering dijadikan alat mobilisasi massa.
Dalam bisnis, istilah-istilah religius kerap digunakan sebagai strategi pemasaran.
Dalam kehidupan sosial, identitas lebih mudah dijual daripada integritas.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Karena manusia pada umumnya memang lebih mudah merespons simbol daripada melakukan pemeriksaan kritis terhadap substansi.
Dan fenomena itu tidak hanya terjadi dalam Islam, tetapi juga dalam hampir semua tradisi keagamaan dan ideologi.
Bagi saya, kesadaran religius yang sejati tidak terletak pada seberapa Arab seseorang.
Tidak pula pada seberapa fasih ia menggunakan istilah-istilah keagamaan.
Tidak pada pakaian.
Tidak pada nama.
Tidak pada aksen.
Tidak pada simbol.
Kesadaran religius adalah kualitas batin.
Ia adalah kemampuan manusia untuk mengalami makna, belas kasih, kejujuran, kerendahan hati, dan cinta terhadap sesama.
Karena nilai-nilai tersebut tidak memiliki kewarganegaraan.
Tidak memiliki etnis.
Tidak memiliki bahasa tunggal.
Tidak lahir dari satu peradaban saja.
Ia bersifat universal.
Mungkin pada akhirnya agama tidak sedang meminta manusia menjadi Arab, Persia, India, Bugis, Jawa, atau bangsa apa pun.
Mungkin agama sedang mengajak manusia menjadi lebih manusia.
Karena jika simbol telah menggantikan substansi, dan identitas telah menggantikan moralitas, bukankah yang sedang kita sembah pada akhirnya bukan lagi kebenaran, melainkan bayangan budaya yang kita anggap suci?
Dan jika suatu hari seluruh simbol, bahasa, pakaian, dan identitas keagamaan lenyap dari dunia, masihkah kita mampu mengenali nilai-nilai ketuhanan hanya melalui kejujuran, kasih sayang, dan kemanusiaan yang hidup di dalam diri manusia?