"Apa-apaan kamu ini...!"
Bentak La Caddo' kepada pikirannya sendiri.
"Biarpun negara ini kacau-balau, isi kepalamu jangan kau biarkan ikut kacau-galau, dong!
Walau pemerintahnya tolol-tolol, kamu jangan terganggu dan jangan pernah terpengaruh seincipun oleh ketololannya.
Sehancur apa pun bangsamu, jangan turut serta dalam kehancurannya.
Sebusuk apa pun tingkah dewan wakilmu, jangan sampai kamu larut campur terhadap bau busuknya.
Biarkan saja mereka membusuk dengan segala teknologi keburukannya."
"Pisahkan segera dirimu dari Indonesia yang model begitu.
Kamu jangan ikut-ikutan bangsat seperti mereka.
Kamu jangan joinan beleng dan dongo' seperti mereka, apalagi nebeng selfie bareng dengan latar belakang landscape air mata penderitaan jutaan manusia Indonesia.
Dasar tidak punya malu...!!!"
"Tolong jauhkan hati dan pikiranmu dari dajjal Nusantara yang seperti itu.
Cabut ruhmu dari semua kepicikan, kelicikan, kekerdilan, kejumudan, serta kemunafikan Indonesia yang seperti itu.
Wahai pikiranku, hijrahlah kamu...!!!!
Minazh-zhulumaati ilan-nuur...!!!
Dari kegelapan Indonesia menuju Indonesia mulia yang bercahaya di atas cahaya...!!!!
Hahahah... hahahah...."
"Sok hebat kamu, Caddo'!"
Potong La Bunrekke, salah seorang sahabatnya yang sejak tadi khusyuk menonton La Caddo' berkelahi dengan dirinya sendiri.
"Lha iya, saya memang sok, tapi hebat kan?"
Hehehehheheh....
"Dasar La Caddo', selalu saja menjadikan kata-kata sebagai senjatanya.
Kamu mengumpat sendiri seperti itu apa bisa mengubah keadaan negara?
Kamu yang hobimu mannau-nau, mannoko-noko tidak jelas seperti itu memangnya sanggup mensejahterakan rakyat?
Memangnya kalimat-kalimatmu itu bisa menegakkan sila kelima dari Pancasila itu?
Yakin kamu bisa membela kebenaran dan membasmi kebatilan di dunia ini?
Kamu yang suka menuduh-nuduh pemerintah, apa kamu sanggup membereskan kemiskinan moral bangsa ini?
Menyelesaikan persoalan-persoalan ruwet tanah air ini?
Melunasi tumpukan utangnya yang tingginya setujuh lapis langit?
Apa kamu mampu menolong rakyat dari penjajahan dan penindasan yang tidak kentara ini?
Weleh-weleh.....
Boro-boro rakyat, sedang dirimu saja tidak bisa kau urusi.
Beli celana dalam saja kamu tak sanggup, eh malah sibuk melaknat-laknat pemerintah.
Sapako cowo'?"
"Atau jangan-jangan kamu mau jadi pahlawan kesiangan di negara yang sudah bukan negara lagi ini?
Mau menyaingi Erommeng, Suparmeng, dan Sapidermeng-nya Amerika?
Hoek...
Kwkwkwkw....
Bangunki cappo', de' gaga jago.
Jagoan Barat itu cuma dongeng.
Mitos modern.
Palsu.
Bohong.
Proyek manipulasi global.
Hasil editan.
Agenda cuci otak.
Hipnotis massal.
Tidak ada di dunia nyata ini.
Tidak bakalan nyata di dunia ada ini.
Itu seribu persen omong kosong belaka."
"Wah, parah....
Kayaknya kamu sudah kesurupan film-film kiri, juga keracunan buku-buku kiri.
Tergoda sama bujuk rayu tayangan-tayangan kiri.
Akibat makan pakai tangan kiri, pakai sandal cuma yang sebelah kiri, keseringan melirik kiri, akhirnya pikiran dan kebiasaanmu jadi kekirian.
Walhasil, jadilah kamu seperti ini.
Kratak-kritik.
Protas-protes.
Marah-marah tidak karuan.
Dan bicara ngawur sendiri persis orang gila.
Blablablablablabla...."
"Woe.... La Bunrekke...!!!
Aja' marukka alias jangan ribut, dasar cerewet...!!!
Calleda' tokkoje' okkotu nanamo bolana lamappa' de' to muitai.
Aja' magganggu ccu, woi...
Lihat....."
La Caddo' lalu menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Saya sedang latihan teater....!!!!!"
"Agara' wasengngi bandang, bilan don dari tadi."
Balas La Bunrekke sambil kentut dan berlalu.
(Heheheheh)
