Berkisahlah Lacaddo' suatu ketika tentang salah seorang kenalan akrabnya; Laborti.

"Laborti adalah seorang pecinta Tuhan yang sejati dan asli. Kalau dia sudah terjebak dalam kondisi ekstase spiritualnya, maka seketika ia tidak akan mengenal orang-orang di sekitarnya, bahkan dirinya sendiri.

Ia secara tiba-tiba menjelma menjadi sosok sufi sekaligus sastrawan hebat.

Seperti Rumi dia menyair kata.

Seperti Tardji dia berpuisi.

Seperti Hallaj yang sedang merasuki.

Ia kehilangan dirinya.

Sungguh adegan yang begitu menegangkan."


"Ia menumpahkan segenap kerinduannya kepada Tuhannya.

Ia melantunkan bait-bait cinta dengan penuh kesungguhan hati.

Ia mendendangkan lagu-lagu nada langit dengan kemesraan yang menggelora membara-bara.

Ia bersenandung, menari mistik, berputar-putar seperti seorang darwis.

Segala bentuk kata, puisi, lagu, musik, tarian, dan kegilaannya itu dipersembahkan hanya untuk Tuhan kekasihnya.

Ia benar-benar telah mabuk Tuhan.

Sungguh, ia telah lebur dalam puncak gairah cinta kepada Tuhan...."


O... wahai Tuhan kekasihku,

Aku sungguh dalam mencintaimu.

Lebih dalam dari dalamnya samudramu yang terdalam.....

O.... duhai Tuhan pujaanku,

Aku benar-benar luas mencintaimu.

Melebihi luasnya seluruh alam semestamu seluruhnya.....


O.... Tuhanku, ketahuilah,

Lautan luas dan ganas pasti aku seberangi,

Gunung tertinggi aku rela daki,

Tebing terjal tercuram dan terjurang aku panjati,

Hutan paling semak dan terbelantara aku lewati,

Badai terdahsyat dan terbengis aku terjang,

Goa tergelap dan termenakutkan aku telusuri,

Jalanan yang penuh paku dan duri-duri ganas aku lalui,

Tsunami dan gempa terbuas aku lompati,

Segala aral, rintangan, dan tantangan aku taklukkan,

Hanya demi engkau, kekasih sejatiku...

Demi engkau, Tuhanku.


O.... Tuhanku, ketahuilah....

Cintaku padamu sungguh tak terperi,

Tiada di dalam hatiku selain dirimu.

Tiada yang kurindu, hanya dirimu...

Tiada yang kupuja, hanya dirimulah....

Akan aku lakukan apa saja demi engkau, kekasihku...

O... tu....


Belum selesai dia membacakan maha-puisi cintanya, tiba-tiba terdengar suara gaib dari atas langit....

"Apa benar kau mencintaiku?

Do you really love me....????!

Bersungguh-sungguhkah engkau mencintaiku?"


"Ya,... ya,... sa... sa... ya sungguh bersungguh-sungguh mencintaimu, Tuhanku...."

Laborti kaget hebat bukan kepalang, namun masih bisa berkata-kata, meskipun agak terbata-bata akibat tidak percaya dengan pendengarannya.

Belum pernah seumur hidup ia mengalami hal seperti itu.


Suara itu lalu kembali muncul di telinga batinnya, tetapi kini dengan karakter yang berbeda....

"Hei...!!!

Kalau benar kau mencintaiku,

Jika memang engkau bersungguh-sungguh mencintaiku,

Lalu kenapako pale' tidak pergi salat Magrib tadi di masjid???!!!!"


"O... maaf, sekali lagi maaf, Tuhan....

Hujan gerimiski itu tadi...

Hehhheheh...."


Tuhan akhirnya menggeleng-gelengkan maha-kepala-Nya, lalu berkata:

"Hu........ Borti..!!

Untung ini hanya imajinasi La Caddo...."


"Ceddekko...

Hehehehh....."