Peta Perjalanan Seorang Sufi

Aqabah al-Taubah (Tahapan Tobat)


Setelah seseorang berhasil melewati Lembah Pengetahuan, ia memasuki lembah berikutnya, yaitu Lembah Pertobatan.

Mengapa pertobatan muncul setelah pengetahuan?

Karena begitu seseorang mulai benar-benar mengenal dirinya sendiri, ia akan melihat dengan sangat jelas siapa dirinya selama ini.

Kesadaran yang mulai jernih akan menyingkap seluruh kehidupan yang selama ini tertutup oleh ketidaksadaran.

Dan dari sanalah pertobatan yang sejati lahir.

Bukan karena dipaksa.

Bukan karena diperintah.

Melainkan karena seseorang akhirnya melihat kenyataan apa adanya.

Ia mulai menyadari semua kesalahan yang pernah dilakukannya.

Semua luka yang pernah ia sebabkan.

Semua kebohongan yang pernah ia pelihara.

Semua kemarahan.

Semua keserakahan.

Semua kecemburuan.

Semua kekerasan.

Semua keegoisan.

Bahkan ia mulai melihat bagaimana selama ini ia tidak hanya menyakiti orang lain, tetapi juga menyiksa dirinya sendiri.

Kesadaran itu datang begitu saja sebagai buah dari hadirnya cahaya di dalam diri.


Ketika kesadaran bertumbuh, sesuatu yang baru ikut lahir.

Yaitu hati nurani yang sejati.

Namun hati nurani ini berbeda dengan hati nurani yang selama ini kita kenal.

Hati nurani yang biasa kita miliki sering kali hanyalah hasil pendidikan masyarakat.

Sejak kecil kita diberi tahu:

"Ini baik."

"Itu buruk."

"Ini boleh."

"Itu haram."

"Ini sopan."

"Itu memalukan."

Sebagian besar penilaian itu berasal dari luar diri kita.

Ia adalah hati nurani pinjaman.

Karena itu, sering kali kita tahu sesuatu itu salah, tetapi tetap saja melakukannya.

Kita tahu marah itu buruk.

Tetapi kita tetap marah.

Kita tahu iri hati itu merusak.

Tetapi kita tetap iri.

Kita tahu rakus itu tidak baik.

Tetapi kita terus menimbun.

Bukan hanya menimbun harta.

Bahkan kita ingin memiliki manusia.

Kita menganggap pasangan adalah milik kita.

Anak-anak adalah milik kita.

Sahabat adalah milik kita.

Kita mencintai dengan cara menguasai.

Padahal justru di situlah banyak penderitaan lahir.

Kita sebenarnya tahu semua itu salah.

Namun pengetahuan itu tidak cukup kuat untuk mengubah hidup kita.

Karena yang bekerja hanyalah hati nurani pinjaman.

Bukan hati nurani yang lahir dari kesadaran.


Begitu Lembah Pengetahuan berhasil dilewati, lahirlah hati nurani yang asli.

Kini seseorang tidak lagi sekadar "percaya" bahwa sesuatu itu salah.

Ia benar-benar melihatnya.

Ia mengalaminya secara langsung.

Kesalahan bukan lagi teori.

Kesalahan terasa nyata.

Dan ketika sesuatu sudah terlihat dengan begitu jelas, hampir mustahil kita mengulanginya.

Di sinilah ungkapan Socrates menjadi hidup:

"Pengetahuan adalah kebajikan."

Namun pengetahuan yang dimaksud bukan sekadar informasi.

Melainkan pengetahuan yang lahir dari kesadaran.


Meski demikian, Lembah Pertobatan juga memiliki jebakannya sendiri.

Jebakan itu bernama rasa bersalah.

Seseorang bisa tenggelam dalam penyesalan terhadap masa lalunya.

Ia terus menghitung dosa-dosanya.

Terus mengingat kesalahannya.

Terus menyalahkan dirinya sendiri.

"Aku orang yang buruk."

"Aku telah menghancurkan hidup banyak orang."

"Aku tidak pantas diampuni."

"Aku gagal."

Semakin lama ia memandang ke belakang, semakin berat langkahnya.

Pertobatan berubah menjadi keputusasaan.

Kesedihan berubah menjadi penyakit batin.

Ia terus menangisi masa lalu.

Memukul dadanya sendiri.

Meratapi semua kesalahannya.

Dan akhirnya ia berhenti melangkah.

Ia terjebak di lembah kedua.


Lalu bagaimana cara melewati lembah ini?

Para sufi mengatakan:

Lihatlah masa lalu.

Tetapi jangan tinggal di sana.

Akuilah semua kesalahanmu.

Namun jangan menjadikannya beban yang terus kau pikul.

Mengapa?

Karena ketika semua kesalahan itu terjadi, engkau masih hidup dalam ketidaksadaran.

Orang yang sedang tertidur memang mudah tersandung.

Orang yang berjalan dalam gelap memang mudah menabrak.

Karena itu, tidak ada gunanya terus-menerus menghukum diri sendiri.

Cukuplah menyadarinya.

Cukuplah mencatatnya.

Kesadaran itu sudah cukup.

Justru karena sekarang engkau sudah sadar, kesalahan yang sama tidak perlu diulang lagi.

Masa lalu telah selesai menjalankan tugasnya.

Ia telah menjadi guru.

Bukan penjara.

Tentu masih ada rasa sedih ketika mengingat orang-orang yang pernah kita sakiti.

Tetapi bersama kesedihan itu hadir pula rasa syukur yang mendalam.

Karena kini kita tahu, kita tidak akan lagi hidup seperti dulu.

Kita telah dibebaskan.

Bukan hanya dari kesalahan.

Tetapi juga dari rasa bersalah.


Kini perhatian kita tidak lagi tertuju pada masa lalu.

Melainkan kepada masa depan.

Ada kehidupan baru yang terbuka.

Ada kemungkinan-kemungkinan baru.

Ada cara hidup yang sama sekali berbeda.

Kini kita memiliki hati nurani yang lahir dari dalam diri sendiri.

Dan hati nurani sejati tidak membutuhkan pengawasan.

Tidak membutuhkan ancaman.

Tidak membutuhkan hukuman.

Ia membimbing secara alami.

Ketika hati nurani yang sejati telah bangkit, melakukan kebaikan tidak lagi terasa berat.

Justru itulah yang paling mudah dilakukan.

Sebaliknya, jika suatu saat kita ingin berbuat jahat lagi, kita harus melawan suara hati kita sendiri.

Dan itu jauh lebih sulit.

Dulu, ketika hati nurani masih tertidur, kita harus bersusah payah agar bisa berbuat baik.

Sekarang keadaannya terbalik.

Berbuat baik menjadi alami.

Berbuat salah justru terasa berat.


Inilah tanda bahwa seseorang telah benar-benar melewati Lembah Pertobatan.

Ia memang sedih ketika menoleh ke belakang.

Tetapi kesedihan itu tidak lagi membelenggunya.

Karena masa lalu telah selesai.

Yang ada sekarang hanyalah perjalanan baru.

Ia merasa seolah Tuhan baru saja menghadiahkan sesuatu yang sangat berharga:

Sebuah hati nurani yang hidup.

Sejak saat itu, hidupnya bergerak di jalur yang sama sekali baru.

Di sinilah moralitas yang sejati mulai lahir.

Bukan moralitas karena takut dihukum.

Bukan karena ingin dipuji.

Bukan karena mengikuti aturan.

Melainkan kebajikan yang tumbuh secara alami dari kesadaran.

Dan itulah awal dari kehidupan yang benar-benar baru.


(Bersambung ....)