Peta Perjalanan Seorang Sufi

Aqabah al-Hamd wa al-Syukr (Tahapan Pujian dan Syukur)


Sesudah melewati enam lembah yang penuh perjuangan, akhirnya tibalah sang pejalan pada lembah terakhir.

Lembah Ketujuh.

Inilah tujuan seluruh perjalanan.

Inilah puncak yang sejak awal telah dicari.

Al-Ghazali menyebutnya The Valley of HymnsLembah Nyanyian, atau Lembah Pujian.

Mengapa disebut demikian?

Karena setelah semua perjalanan itu selesai, tidak ada lagi yang tersisa selain nyanyian syukur.


Kebangkitan yang Sebenarnya

Jika pada lembah keenam seseorang mengalami kematian ego, maka pada lembah ketujuh terjadi kelahiran kembali.

Dalam tradisi Kristen, pengalaman ini disebut kebangkitan (resurrection).

Nabi Isa bangkit kembali.

Namun yang bangkit bukan lagi manusia lama.

Yang bangkit adalah manusia baru.

Tubuh kemuliaan.

Tubuh cahaya.

Tubuh Ilahi.

Ini bukan sekadar peristiwa sejarah.

Bagi para mistikus, kebangkitan adalah pengalaman batin.

Ego telah mati.

Yang lahir adalah kesadaran yang telah menyatu dengan Tuhan.


Tidak Ada Lagi Dualitas

Di lembah-lembah sebelumnya selalu ada dua sisi.

Ada positif dan negatif.

Ada terang dan gelap.

Ada keraguan dan kepercayaan.

Ada ego dan kepasrahan.

Ada hidup dan mati.

Namun di lembah ketujuh semua pertentangan itu berakhir.

Tidak ada lagi dua.

Yang ada hanya Satu.

Inilah yang dalam filsafat Hindu disebut Advaita—ketidakdualan.

Hulul, Ittihad, Wahdatul-Wujud, Manunggaling kawula Gusti.

Tidak ada lagi "aku" yang terpisah dari Tuhan.

Tidak ada lagi pencari.

Tidak ada lagi yang dicari.

Yang ada hanyalah Kesatuan.

Sang musafir akhirnya pulang ke rumahnya sendiri.


Yang Tersisa Hanyalah Nyanyian

Al-Ghazali memberikan nama yang sangat indah untuk lembah terakhir ini.

Lembah Nyanyian.

Karena setelah semua perjuangan selesai, manusia tidak lagi sibuk mencari.

Tidak lagi bertanya.

Tidak lagi menuntut.

Tidak lagi melawan.

Yang tersisa hanyalah pujian.

Syukur.

Kegembiraan.

Hidup berubah menjadi lagu.

Setiap napas menjadi doa.

Setiap langkah menjadi tarian.

Seluruh keberadaan berubah menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan.

Inilah Orgasme Total

Yang dimaksud tentu bukan pengalaman biologis.

Melainkan ledakan kesadaran yang paling sempurna.

Seluruh keberadaan mekar.

Seperti bunga yang akhirnya berkembang sempurna.

Harumnya menyebar ke mana-mana.

Tidak ada lagi yang harus dicapai.

Tidak ada lagi tujuan yang harus dikejar.

Karena sang pencari telah menjadi apa yang selama ini ia cari.


Paradoks Manusia

Para sufi mengatakan bahwa manusia adalah sebuah paradoks.

Kita bukanlah apa yang tampak sekarang.

Kita juga belum menjadi apa yang sesungguhnya.

Kita hidup sebagai sebuah kemungkinan.

Sebagai benih.

Sebagai potensi.

Seluruh perjalanan spiritual hanyalah proses agar benih itu tumbuh menjadi pohon.

Namun ketika akhirnya seseorang sampai di tujuan, sesuatu yang aneh terjadi.

Ia justru tertawa.

Mengapa?

Karena ia menyadari bahwa selama ini apa yang ia cari sebenarnya tidak pernah berada di luar dirinya.

Ia selalu memilikinya.

Sejak awal.

Hanya saja ia belum menyadarinya.

Yang dicari ternyata adalah dirinya sendiri.

Tuhan yang dicari ternyata selalu hadir.

Kesadaran yang dicari ternyata tidak pernah pergi.

Seluruh perjalanan hanyalah proses membuka apa yang sejak awal sudah ada.


Tujuh Lembah Adalah Tujuh Penemuan

Karena itu, tujuh lembah ini bukanlah perjalanan untuk memperoleh sesuatu yang baru.

Bukan pula perjalanan menjadi orang lain.

Melainkan perjalanan menemukan apa yang selama ini tersembunyi di dalam diri.

Bukan menciptakan hakikat.

Melainkan menyingkapnya.

Bukan membangun Tuhan.

Melainkan menyadari kehadiran-Nya.

Potensi itu selalu ada.

Masa depan itu telah tersimpan di dalam benih sejak awal.

Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk berjalan.

Melewati setiap lembah.

Melewati setiap ujian.

Hingga akhirnya kita menemukan bahwa rumah yang selama ini kita cari ternyata tidak pernah berada di tempat lain.

Ia selalu ada di dalam diri kita sendiri.


Peta Perjalanan Seorang Pencari

Tujuh lembah yang dijelaskan Al-Ghazali bukan sekadar teori mistik.

Melainkan sebuah peta perjalanan jiwa.

Peta tentang bagaimana manusia bergerak dari pengetahuan menuju kesadaran.

Dari kesadaran menuju pertobatan.

Dari pertobatan menuju pelepasan.

Dari pelepasan menuju kegelapan.

Dari kegelapan menuju kematian ego.

Dari kematian ego menuju kehampaan.

Dan akhirnya...

Menuju nyanyian.

Menuju syukur.

Menuju keheningan yang penuh sukacita.

Menuju Kesatuan.

Di sanalah perjalanan berakhir.

Atau, mungkin lebih tepat dikatakan:

Di sanalah untuk pertama kalinya kehidupan yang sesungguhnya dimulai.


(Selesai ...)