: Dirja Wiharja
Sekali lagi, maaf.
Ini sudah menjadi pilihan hidup saya.
Tidak ada yang memaksa.
Tidak ada yang menyuruh.
Murni atas kemauan saya sendiri.
Kenapa saya memilih menjadi pelacur?
Karena nikmatnya luar biasa.
Anda boleh munafik.
Tapi saya tidak.
Saya tahu, pada kalimat pertama tadi, sebagian dari Anda langsung berpikir ke arah yang "itu-itu".
Tidak apa-apa.
Mungkin karena imajinasi Anda memang lebih rajin berlari daripada kemampuan Anda memahami metafora.
Tapi saya berbeda.
Saya tidak melacur hanya di satu bidang.
Saya melacur dalam tiga hal.
Pertama: Pelacur Gagasan
Saya tidak pernah puas menyerap gagasan hanya dari satu sumber.
Tidak pernah puas hanya membaca satu buku.
Tidak pernah puas hanya mendengarkan satu tokoh.
Apalagi hanya berputar-putar di dalam kepala saya sendiri.
Sejauh yang saya ketahui, hampir tidak ada pemikir besar yang tumbuh dari hasil onani intelektualnya sendiri.
Setiap gagasan besar lahir dari persetubuhan panjang dengan banyak gagasan lain.
Setiap pemikiran besar adalah anak hasil perkawinan silang berbagai pengaruh.
Tidak ada filsuf yang lahir dari ruang hampa.
Tidak ada pemikir yang tumbuh sendirian di dalam kandang pikirannya sendiri.
Mereka membaca.
Mereka menyerap.
Mereka berdebat.
Mereka membongkar.
Mereka mencuri inspirasi dari mana-mana.
Lalu mengolah semuanya menjadi sesuatu yang baru.
Gagasan yang hanya berputar-putar di kandangnya sendiri tidak pernah menjadi besar.
Paling jauh hanya merasa besar.
Dan biasanya, dari kandang sempit seperti itulah lahir fanatisme.
Buta terhadap dunia luar.
Tetapi mabuk terhadap dirinya sendiri.
Hidup di bawah langit tempurung sambil mengira dirinya sedang menatap cakrawala.
Itulah sebabnya saya melacur ke mana-mana.
Menyetubuhi buku-buku yang menggoda pikiran.
Mengintip wawasan orang-orang yang saya temui.
Menjelajahi rimba gagasan tanpa peduli dari mana asalnya.
Karena saya sadar:
pikiran yang sehat tidak dibangun oleh kesetiaan pada satu gagasan, melainkan oleh keberanian bergaul dengan banyak gagasan.
Kedua: Pelacur Spiritual
Pada mulanya saya adalah seorang Muslim yang sangat fanatik.
Islam adalah pusat dunia saya.
Segala sesuatu saya ukur dengan Islam.
Segala sesuatu saya nilai dengan Islam.
Segala sesuatu saya lihat melalui kacamata Islam.
Saya dibesarkan dalam lingkungan yang religius.
Di rumah.
Di sekolah.
Di pesantren.
Di masjid.
Di pengajian.
Di mana-mana.
Namun entah mengapa, selalu ada satu penghuni liar di dalam kepala saya:
rasa ingin tahu.
Ia tidak pernah mau diam.
Ia terus bertanya.
Terus mengganggu.
Terus mengetuk.
Dan saya tidak pernah benar-benar puas dengan jawaban-jawaban yang diwariskan begitu saja.
Saya merasa sesak.
Merasa sempit.
Merasa seperti sedang hidup di dalam ruangan yang jendelanya dikunci dari luar.
Maka saya mulai keluar.
Saya memasuki hutan berbagai pemikiran.
Berbagai mazhab.
Berbagai tafsir.
Berbagai keyakinan.
Berbagai cara manusia memahami Tuhan.
Saya membaca pemikiran para sufi.
Para teolog.
Para filsuf.
Para agnostik.
Para ateis.
Para pencari.
Para peragu.
Para pemberontak.
Bukan karena saya ingin kehilangan iman.
Tetapi karena saya ingin memahami iman.
Dan saya sadar, memahami sesuatu tidak sama dengan memenjarakan diri di dalamnya.
Dari perjalanan itu saya belajar bahwa dogma tidak pernah berbicara.
Dogma hanyalah teks yang diam.
Manusialah yang menghidupkannya.
Manusialah yang menafsirinya.
Manusialah yang menjadikannya rahmat atau bencana.
Manusialah yang membuatnya menjadi cahaya atau menjadi api.
Karena itu saya membiarkan hati dan pikiran saya menjadi pelabuhan.
Tempat berbagai keyakinan datang dan pergi.
Tempat berbagai pandangan saling berjumpa.
Tempat pertanyaan dan jawaban saling berkelahi.
Dan itulah sebabnya saya terus melacur secara spiritual.
Bukan untuk kehilangan arah.
Melainkan untuk memahami betapa luasnya kemungkinan arah.
Ketiga: Pelacur Gaya Menulis
Pada awalnya saya belajar menulis seperti kebanyakan orang.
Di sekolah.
Di kampus.
Di ruang-ruang akademik.
Saya diajari tata bahasa.
Struktur paragraf.
Metodologi penulisan.
Cara menyusun argumen.
Cara mengutip.
Cara menyimpulkan.
Semuanya benar.
Semuanya penting.
Tetapi ada satu masalah.
Saya tidak menikmatinya.
Menulis terasa seperti hukuman.
Bukan petualangan.
Satu paragraf pertama saja kadang terasa lebih berat daripada mengangkat lemari.
Saya mulai bertanya:
Apa gunanya menulis jika hanya menjadi siksaan?
Apa gunanya menulis jika tidak menghadirkan kegembiraan?
Maka saya kembali melacur.
Saya mengintip cara menulis siapa saja.
Penulis sastra.
Filsuf.
Jurnalis.
Esais.
Novelis.
Penyair.
Pengkhotbah.
Bahkan para provokator.
Saya mencuri teknik mereka.
Meminjam ritme mereka.
Membongkar dapur mereka.
Lalu mencampur semuanya.
Saya mengaduk.
Memblender.
Meracik.
Menggabungkan berbagai bumbu hingga lahir gaya yang terasa nyaman bagi saya sendiri.
Dan apa yang Anda baca hari ini adalah hasil dari pelacuran itu.
Bukan hasil kesetiaan kepada satu guru.
Melainkan hasil perselingkuhan panjang dengan banyak guru.
Sampai akhirnya saya menemukan suara saya sendiri.
Sampai akhirnya menulis tidak lagi terasa seperti pekerjaan.
Melainkan seperti kebutuhan.
Seperti hasrat.
Seperti dorongan kreatif yang terus mencari jalan keluar.
Kurang lebih begitulah kisah pelacuran saya.
Pelacuran gagasan.
Pelacuran spiritual.
Dan pelacuran gaya menulis.
Karena mungkin kesetiaan terbesar seorang pencari bukanlah kepada satu buku, satu keyakinan, atau satu cara berpikir.
Melainkan kepada keberanian untuk terus belajar, terus berubah, dan terus mengakui bahwa apa yang belum ia ketahui selalu lebih luas daripada apa yang sudah ia pahami.