: Dirja Wiharja




Saat itu saya mendengar seorang ustad berceramah dengan penuh keyakinan. Keyakinan yang begitu tebal hingga tidak lagi menyisakan ruang bagi keraguan, apalagi pertanyaan.

"Haram hukumnya, jamaah muslim yang beriman. Allah sudah menetapkan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Dan hukum yang benar adalah hukum Tuhan. Selama manusia tidak kembali kepada agama Islam, mereka akan tetap berada dalam kesesatan yang nyata. Nauzubillah...

Dan Allah telah mengingatkan kita melalui firman-Nya:

'Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir, maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga manakala kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka...'

Saya memperhatikannya.

Bukan isi ceramahnya yang membuat saya terkejut.

Tetapi keberanian seorang manusia untuk berbicara seolah-olah baru saja sarapan pagi bersama Tuhan.

Begitu yakin.

Begitu mantap.

Begitu percaya diri.

Seakan-akan seluruh misteri alam semesta telah selesai ia audit dan tandatangani sendiri.

Lalu dalam imajinasi saya, sebuah tombak meluncur.

Bukan ke tubuhnya.

Melainkan ke kesombongan yang berdiri di atas mimbar.

"Huuk!"

Yang roboh bukan manusia.

Yang tumbang adalah klaim bahwa dirinya memegang sertifikat resmi kebenaran dari langit.

Suasana masjid mendadak hiruk-pikuk.

Raungan "Allahu Akbar!" menggema ke segala penjuru.

Sebagian marah.

Sebagian panik.

Sebagian lagi mungkin bahkan belum sempat memahami apa yang sedang terjadi.

Mereka hendak menyerbu.

Maka saya naik ke mimbar.

"Ini pekerjaan kalian yang membuat rusuh.

Katakan kebenaran, tetapi jangan menghasut.

Tuhan tak pernah turun ke sini untuk mengumumkan siapa yang paling benar di antara kita.

Tetapi kalian begitu berani mengubah dugaan menjadi kepastian.

Mengubah keyakinan menjadi vonis.

Mengubah tafsir menjadi senjata.

Dan mengubah Tuhan menjadi juru bicara ego kalian sendiri."

Saya berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan:

"Kalian lucu.

Kalian mengaku membela Tuhan Yang Mahakuasa.

Tetapi cara kalian membela-Nya seperti sedang menjaga bayi yang mudah tersinggung.

Sedikit dikritik, marah.

Sedikit dipertanyakan, mengamuk.

Sedikit berbeda, langsung dicap sesat.

Tuhan macam apa yang begitu rapuh hingga harus terus-menerus dibela oleh manusia yang bahkan tidak mampu mengendalikan emosinya sendiri?"

Dalam imajinasi itu, saya melemparkan sebuah granat.

Tetapi granat itu tidak meledakkan masjid.

Ia meledakkan fanatisme.

Ia meledakkan kesombongan intelektual.

Ia meledakkan ilusi bahwa manusia dapat berbicara atas nama Tuhan tanpa kemungkinan salah.

Dan setelah ledakan itu reda, yang tersisa hanyalah debu pertanyaan.

Malamnya saya duduk sendirian.

Mengingat siapa saja yang mati dalam ledakan imajinasi tersebut.

Dan saya terkejut.

Ternyata yang mati bukan hanya para fanatik.

Di antara mereka ada sahabat-sahabat saya.

Ada guru-guru saya.

Ada keluarga saya.

Bahkan ada sebagian dari diri saya sendiri.

Karena setiap kali kita menghancurkan fanatisme, kita juga sedang menghancurkan fanatisme yang diam-diam hidup di dalam diri kita.

Untunglah semua ini hanya imajinasi.

Sebab dalam kenyataan, manusia tidak perlu membunuh siapa pun untuk membela Tuhan.

Yang perlu dibunuh hanyalah kesombongan yang membuat kita merasa paling memahami Tuhan.

Karena mungkin tragedi terbesar dalam sejarah bukanlah manusia yang membunuh atas nama Tuhan.

Melainkan manusia yang begitu yakin sedang membela Tuhan, padahal yang sebenarnya sedang ia bela mati-matian hanyalah pendapatnya sendiri.

Dan jika Tuhan memang Mahabesar, Mahatahu, dan Mahabenar, mengapa begitu banyak manusia merasa perlu menjadi pengacara-Nya, sementara mereka bahkan belum selesai mengadili kesesatan yang bersembunyi di dalam dirinya sendiri?