: Dirja Wiharja
Maaf.
Tulisan ini mungkin akan menjungkirbalikkan gambaran tentang Nabi Muhammad yang selama ini Anda puja-puja.
Silakan marah.
Silakan naik pitam.
Silakan berteriak:
"Allahu Akbar!"
"Astaghfirullah!"
"Masya Allah!"
Atau bahkan:
"Tobaaaatttt...!"
Tetapi izinkan saya menyampaikan satu hal terlebih dahulu:
Saya menggugat cara memandang Nabi Muhammad justru karena saya mengagumi sosoknya.
Bukan karena saya membencinya.
Saya tidak sedang berbicara tentang Muhammad yang sering diteriakkan dalam banyak pengajian.
Bukan Muhammad yang dipoles sedemikian rupa hingga kehilangan sisi kemanusiaannya.
Bukan Muhammad yang digambarkan seolah-olah makhluk setengah malaikat yang tidak pernah salah, tidak pernah ragu, tidak pernah sedih, dan tidak pernah mengalami pergulatan batin.
Karena terus terang, telinga saya hampir pecah mendengar kalimat-kalimat seperti ini:
"Itu Nabi. Jangan disamakan dengan kita manusia biasa."
Atau:
"Namanya juga Nabi. Utusan Tuhan yang tidak pernah berbuat salah."
Saya ingin mencoret puja-puji yang berlebihan terhadap Muhammad.
Karena menurut saya, kemuliaan Muhammad justru terletak pada kemanusiaannya.
Muhammad tetap pernah salah.
Muhammad tetap pernah keliru.
Muhammad tetap pernah sedih.
Muhammad tetap pernah takut.
Muhammad tetap pernah ragu.
Muhammad tetap pernah bimbang.
Muhammad tetap pernah marah.
Muhammad tetap pernah bergulat dengan dirinya sendiri.
Dan tentu saja, beliau juga tidak pernah menjadi operator komputer.
Lalu di mana letak kemuliaannya?
Bagi saya, kemuliaannya justru terletak di sini:
Ia mengakui kekeliruannya.
Ia meminta maaf ketika salah.
Ia memohon ampun kepada Tuhan.
Ia berusaha memperbaiki dirinya.
Ia tetap rendah hati.
Ia tetap sederhana.
Ia tetap pemaaf.
Ia terus berusaha menjadi pribadi yang arif dan bijaksana.
Bukankah berbagai riwayat juga menggambarkan bahwa beliau banyak beristighfar?
Jika demikian, bukankah itu menunjukkan kesadaran akan keterbatasan dirinya sebagai manusia?
Ketika pertama kali menerima wahyu di Gua Hira, Muhammad tidak tampil sebagai sosok manusia super.
Beliau justru ketakutan.
Gemetar.
Pulang tergesa-gesa.
Meminta diselimuti oleh Khadijah.
Dan berkali-kali Khadijah menenangkan serta meyakinkannya.
Khadijah menghibur beliau karena melihat kualitas moral yang telah lama melekat pada dirinya.
Bahkan untuk memperkuat keyakinannya, Khadijah membawa Muhammad menemui kerabatnya yang memahami tradisi kenabian.
Pada masa awal dakwah, Muhammad juga tidak langsung tampil secara terbuka.
Dakwah dilakukan secara terbatas dan sembunyi-sembunyi.
Sedikit demi sedikit.
Penuh kehati-hatian.
Bukan dengan sikap serba tahu dan serba berani seperti yang sering dibayangkan orang.
Dalam berbagai riwayat juga tergambar bahwa beliau pernah mengalami kegelisahan ketika wahyu tidak turun dalam waktu tertentu.
Beliau menunggu.
Beliau berharap.
Beliau bertanya-tanya.
Semua itu adalah pengalaman manusiawi.
Dalam urusan sosial dan strategi kehidupan, beliau juga berdialog dengan para sahabatnya.
Tidak semua keputusan langsung diambil atas dasar wahyu.
Ada kalanya beliau menyampaikan sebuah pendapat, lalu para sahabat bertanya:
"Apakah ini wahyu atau pendapat pribadi?"
Ketika beliau menjawab bahwa itu adalah pendapat pribadi, para sahabat pun ikut memberikan pandangan dan usulan.
Artinya, ruang musyawarah tetap terbuka.
Ruang berpikir tetap hidup.
Ruang kritik tetap ada.
Muhammad juga pernah dicegah oleh para sahabatnya untuk maju terlalu jauh ke garis depan pertempuran.
Bukan karena beliau pengecut.
Melainkan karena para sahabat khawatir jika beliau gugur, maka misi penyampaian ajaran yang diembannya akan terputus.
Di sana kita melihat hubungan manusiawi antara pemimpin dan para pengikutnya.
Bukan hubungan antara manusia dengan makhluk setengah dewa.
Dan masih banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa Muhammad adalah manusia biasa.
Manusia yang sangat manusiawi.
Manusia yang mengalami kegelisahan, harapan, ketakutan, dan perjuangan sebagaimana manusia lainnya.
Justru karena itulah beliau layak menjadi teladan.
Karena apa yang beliau lakukan masih berada dalam jangkauan manusia untuk ditiru.
Dalam tradisi Islam, hal itu dikenal sebagai uswatun hasanah — teladan yang baik.
Teladan yang mungkin dicontoh.
Teladan yang mungkin diusahakan.
Bayangkan jika Muhammad digambarkan sebagai sosok yang serba sempurna, serba ajaib, serba supranatural, dan serba luar biasa di luar batas kemanusiaan.
Apa yang akan terjadi?
Menurut saya, sosok seperti itu justru sulit dijadikan teladan.
Karena manusia biasa tidak mungkin meniru makhluk yang sepenuhnya berada di luar pengalaman manusia.
Ia akan lebih mirip tokoh legenda daripada sosok panutan.
Lebih dekat dengan cerita khayangan daripada realitas kehidupan.
Di sinilah saya melihat bahaya kultus yang berlebihan.
Ketika manusia begitu sibuk mengagungkan sosok Nabi hingga melupakan sisi kemanusiaannya.
Padahal justru pada sisi kemanusiaan itulah letak inspirasi terbesar beliau.
Karena itu saya melihat ada dua dimensi yang melekat pada diri Muhammad:
Pertama: Dimensi Kemanusiaan
Yaitu seluruh sifat manusiawinya:
takut, sedih, ragu, berharap, berjuang, belajar, memperbaiki diri, dan berinteraksi dengan sesama manusia.
Inilah sisi yang dapat diteladani.
Kedua: Dimensi Kenabian
Yaitu pengalaman menerima wahyu.
Inilah sisi yang tidak bisa ditiru oleh manusia lain.
Karena wahyu bukan sesuatu yang dapat dihadirkan sesuka hati.
Ia bukan keterampilan.
Bukan teknik.
Bukan kemampuan yang bisa dilatih.
Ia berada di luar kehendak manusia.
Mungkin karena itulah Muhammad juga pernah mengalami kegelisahan ketika menunggu wahyu.
Karena bahkan beliau sendiri tidak mengendalikan datang atau tidaknya wahyu tersebut.
Maka pertanyaannya:
Masihkah kita ingin membayangkan Muhammad sebagai makhluk yang sepenuhnya berada di luar kemanusiaan?
Ataukah justru kemanusiaannya itulah yang membuat beliau relevan bagi manusia sepanjang zaman?
Karena seorang teladan yang sejati bukanlah sosok yang mustahil ditiru.
Melainkan sosok yang menunjukkan bagaimana manusia yang penuh keterbatasan tetap berusaha mendekati kemuliaan.
Dan mungkin itulah sebabnya Muhammad diutus untuk manusia.
Bukan untuk malaikat.