MUSYAWARAH AKBAR (MUAK) PARA SETAN 2026
: Dirja Wiharja



Periode LPJ 1 Abad (1926–2026)
Lokasi: Ruang Sidang Utama, Markas Besar Neraka Jahanam (Kampus 1)

Di sebuah ruangan VVIP setengah gelap, setengah menyengat. Kepulan asap-asap hitam berlalu-lalang lewat. Ribuan kelelawar berkelabat. Kursi-kursi dari tulang belulang binatang tersusun rapi dan angker. Para hadirin terdiri dari berbagai ras, suku, dan bangsa setan. Berjenis-jenis jin, siluman, hantu, dan makhluk-makhluk gentayangan lainnya dari berbagai penjuru arah mata angin tanah air Endhonesa.

Mereka semua datang untuk melaporkan perkembangan kesesatan dan kesetanan umat manusia, mengevaluasi kinerja selama 1 abad, serta menyampaikan keluh kesah pengalaman mereka dalam melakukan agenda yuwaswis, menggoda, dan menyesatkan umat manusia di Endhonesa. Sidang juga membahas berbagai kendala yang mereka hadapi dalam menjalankan misi kafirisasi, setanisasi, dan detuhanisasi manusia Endhonesa.

Hadir lengkap:

  • Setan Birokrasi
  • Setan Religius
  • Jin Senior
  • Genderuwo
  • Kuntilanak
  • Pocong
  • Tuyul
  • Roh Penunggu Pohon Beringin
  • Hantu Rumah Kosong
  • Tim Gangguan Mimpi Buruk
  • Direktorat Bisikan Negatif
  • Komisi Penghasut Komentar Media Sosial
  • Dan makhluk-makhluk astral gentayangan lainnya


Di kursi paling depan duduk sosok kharismatik yang paling menyeramkan.

Tubuhnya tinggi menjulang ke langit-langit ruangan.

Matanya merah menyala, menakutkan.

Tanduknya melengkung seperti sabit dan parang.

Sayap hitamnya sangar membentang.

Suara napasnya terdengar aih sungguh mengerikan.

Dialah...

IBLIS LAKNATAN LIL-'ALAMIN.

Pimpinan tertinggi seluruh setan.

Presiden seumur hidup Neraka Jahannam.


Iblis berdiri.

Semua makhluk langsung hening.

Bahkan pocong yang biasanya lompat-lompat pun duduk dengan rapi.

Iblis berdeham.

"Saudara-saudara setan, jin, demit, siluman, dan seluruh pegawai tetap maupun honorer alam gaib..."

"Hari ini kita berkumpul untuk mengevaluasi kinerja selama satu abad terakhir dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi kita: menggoda, menakuti, menyesatkan, menghasut, memprovokasi, dan membuat manusia lupa diri."

Iblis mengetukkan palu sidang.

Tak!

Tak!

Tak!

"Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, saya buka MUAK ini dengan resmi."

Seluruh peserta saling berpandangan.

Seorang pocong mengangkat tangan.

"Maaf Ketua, bukannya kita setan?"

"Benar."

"Kenapa buka sidang pakai bismillah?"

Iblis menghela napas.

"Ini prosedur administrasi. Kita harus menghormati formalitas."

"Oooh..."

"Jangan banyak tanya."

"Siap Ketua."

Iblis membuka map hitam raksasa.

"Silakan laporkan seluruh update hasil kerja satu abad terakhir."

Sidang pun dimulai...


BABAK I

LAPORAN DIVISI BIROKRASI & PEMERINTAHAN

KOORDINATOR SETAN BIROKRASI

(Berjubah hitam, dasi merah darah, memegang map tebal yang di atasnya ada stempel: "CONFIDENTIAL—Hanya Untuk Kalangan Jin & Setan")

"Yang Mulia, perkenankan saya menyampaikan Laporan Kinerja Divisi Birokrasi periode 1926–2026."

(Ia membuka map dan memulai laporannya.)

"Sebagaimana mandat yang Tuanku berikan 100 tahun lalu, divisi kami bertugas menginfiltrasi sistem pemerintahan manusia. Target kami jelas: mengajarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Modus operandi: membisikkan godaan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sampai mereka para pejabat, aparat, pemerintah, penguasa dan sejenisnya, menganggapnya sebagai sesuatu yang normal dan biasa, dan pada akhirnya menjadikannya sebagai budaya populer. Kalau Korupsi-Kolusi-Nepotisme itu sudah merasuk dalam sistem birokrasi-pemerintahan negara mereka, maka kita tinggal ongkang-ongkang kaki sambil menghitung mundur terwujudnya peradaban yang selama ini kita visi-misikan: Total Kehancuran Manusia Endhonesa!"

(Ia berhenti sejenak, mengusap keringat.)

"Namun, Tuanku... saya harus jujur. Kami kewalahan."

IBLIS

(Mata kirinya berkedut.)

"Apa? Kewalahan? Kata itu tidak ada dalam kamus neraka."

KOORDINATOR SETAN BIROKRASI

"Justru itu, Tuanku. Sekarang kata itu sudah ada. Dan kami yang menambahkannya. Karena faktanya..."

(Ia menarik napas.)

"...manusia tidak perlu kami goda lagi! Mereka sudah menemukan caranya sendiri untuk melakukan korupsi. Lebih efisien. Lebih rapi. Lebih canggih dari semua workshop pelatihan yang kami berikan!"

"Tuanku, memang 75% kantor pemerintahan sudah habis kami susupi. Tapi itu bukan kami yang membuat mereka korupsi—mereka tidak perlu diajari. Karena ternyata mereka lebih paham dan bahkan sudah khatam seluruh jenis teori, konsep dan praktik merampok uang negara!"

IBLIS

"Contoh!"

KOORDINATOR SETAN BIROKRASI

"Mereka membuat aplikasi 'e-Korupsi' sendiri, Tuanku! Sistem bagi-bagi proyek yang lebih siluman: rapi, samar dan menjengkelkan. Ketika kami bisikkan, 'Ambil 5% saja, pelan-pelan,' mereka malah balik bertanya—dan ini kata-kata mereka sendiri, Tuanku, saya rekam—'Kenapa tidak 15%? Sekalian 70%, sekalian bikin yayasan bodong untuk cuci uangnya.'"

(Iblis mengerutkan kening. Para hadirin setan lainnya mulai gelisah.)

"Bahkan, Tuanku, ada seorang pejabat—saya tidak bisa sebut nama karena kami punya kode etik—yang ketika kami dekati, dia malah menawari kami proposal kerja sama! Kerja sama! Seakan-akan kami ini kontraktor!"

IBLIS

"Kerja sama apa?"

KOORDINATOR SETAN BIROKRASI

"Dia bilang, 'Setan, lu bantu gue dapet proyek MBG ini, nanti gue bagi 20% ke lu. Lu bisa beli Pertamax lebih banyak buat neraka.' Saya syok, Tuanku. Saya cuma bisa jawab, 'Saya ini setan, bukan makelar.' Tapi dia sudah menandatangani MoU secara sepihak!"

(Gemuruh bisik-bisik di antara hadirin. Ada yang mencatat, ada yang menggeleng sampai kepalanya lepas.)

"Dan puncaknya, Tuanku... Presiden. Kepala negara. Pemimpin tertinggi. Termasuk wakil tengiknya dan seluruh jajaran menterinya. Kami dulu mengira merekalah target paling empuk, paling mudah kami pengaruhi. Ternyata? Beliau-beliau jauh lebih licik dari yang kami kira dan yang kami sangka!

Level bajingan-nya sudah hampir paripurna. Skill bangsatnya berkualitas premium! Pangkat dan derajat ketololannya terus bertambah setiap bikin kebijakan. Sampai-sampai kiamat maju satu hari, setiap kali beliau berpidato di hadapan rakyat. Bayangkan, tuanku. Aih sungguh ngeri. Benar-benar tak punya nurani, tak tahu diri dan tak tahu malu. Saya jadi merasa insecure sebagai setan. Saya betul-betul cemburu dengan kemampuan jahannam tingkat dewa yang mereka miliki. Mental saya terganggu. Kadang-kadang saya merasa sepertinya butuh pergi ke psikiater untuk konsultasi. Saya hampir gila, tuanku!

Saya tidak tahu apakah mereka ini manusia atau jangan-jangan sebenarnya kerabat jauh Tuanku yang lagi menyamar. Merekalah semua biang otaknya, mastermind. Dalang perancang kerusakan yang selama ini terjadi di Endhonesa."

IBLIS

(Iblis membanting tangannya ke sandaran singgasana. Ruangan bergetar. Lantai neraka retak-retak)

"Keterlaluan!"

KOORDINATOR SETAN BIROKRASI

"Kami, Divisi Birokrasi dan Pemerintahan, sekarang angkat tangan, menyerah, mengaku kalah. Bahkan beberapa staff karyawan setan saya sudah mengajukan surat permohonan untuk resign. Sedang yang lain sisanya mengemis sambil nangis minta dimutasi saja menjadi OB atau kuli-buruh di neraka. Yang penting mereka kerja, katanya. Anak buah saya benar-benar sudah tak tahan, malu, terus dibayar tapi menganggur. Digaji pakai APBN (Anggaran Pendapatan & Belanja Neraka) yang diambil dari pajak para penghuni neraka tapi tidak ngapa-ngapain. Seluruh pekerjaan menghasut birokrasi dan pemerintahan sudah tidak ada gunanya lagi. 

Para birokrat, pejabat, dan aparat di Endhonesa adalah manusia yang sangat ahli dan lihai dalam hal kesesatan administratif. Saya angkat topi, Tuanku! Mereka benar-benar adalah pakar. Mereka sudah menguasai bagaimana membuat korupsi menjadi legal, bagaimana mencuri dengan tanda tangan resmi, bagaimana memperkaya diri sambil berpidato tentang kejujuran. Itu seni komunikasi tingkat tinggi, Tuanku! Kami tidak sanggup menandinginya!

Mereka korupsinya sudah berjamaah. Beramai-ramai. Kolusinya autopilot. Dan nepotismenya aduh bikin saya berak-berak di celana. Ampun, tuan! Sekali lagi, kami tidak sanggup lagi menghadapinya!

IBLIS

"Anassundalaq!"




BABAK II

DIVISI RELIGIUS SPIRITUAL

KOORDINATOR SETAN RELIGIUS

(Maju dua langkah dan mulai menyampaikan laporannya.)

"Yang Mulia Iblis, saya mewakili Divisi Religius. Atau yang dulu kami sebut dengan bangga: Pasukan Khusus Penyesatan Tokoh Agama."

(Ia memegang tasbih dari biji tai kambing—bukan untuk berdzikir, tapi untuk menghitung berapa kali ia gagal.)

"Target kami selama 100 tahun: para ustad, kiai, habib, muballigh, gus-gus, ning-ning, sufi-sufian dan siapa pun yang mengaku wakil Tuhan di bumi. Misi kami sederhana: membuat mereka sombong, ngiler melihat gemerlap dunia, memperjualbelikan ayat dan fatwa, serta memecah belah umat."

"Hasilnya?"

(Ia tertawa kecil. Tawa yang getir. Tawa setan yang kalah.)

"Hasilnya... mereka sudah terpecah dan berbaku hantam sejak awal! Sejak sebelum kami datang, mereka sudah bertengkar sendiri! Mereka buat geng-geng relijius yang tak terbilang, mendirikan ormas-ormas spiritual yang tak terhitung, komunitas kajian tarbiyah kemunafikan, kelompok-kelompok pseudo-hijrah, dan grup-grup mazhab pertengkaran."

"Tuanku, kami hanya perlu duduk santai di pojokan, ngopi ngudut, sambil nonton. Mereka sudah bertengkar soal banyak hal sepele, seperti soal hilal—urusan kapan Lebaran. Mereka bertengkar soal tata cara salat. Padahal esensi tujuannya sama-sama menyembah Tuhan yang sama. Mereka saling mengkafirkan tanpa kami suruh, saling menyalahkan tanpa kami asuh, saling lempar kebencian tanpa kami bisiki! Benar-benar membagongkan, Tuanku!"

"Di media sosial? Duh, lebih parah lagi! Kami dulu berpikir, 'Ah, ini ladang baru, kita bisa mengadu domba mereka lewat Facebook dan Instagram.' Ternyata? Begitu kami login, kami hanya jadi cheerleader! Mereka sudah saling serang dengan kata-kata yang sungguh brutal dan menjijikkan. Malahan ada yang melontarkan kalimat keji yang bahkan iblis pun tak tega mengucapkannya."

IBLIS

"Seberapa parah?"

KOORDINATOR SETAN RELIGIUS

"Tuanku, ada seorang ustad yang menghina seorang penjual es teh sambil tertawa tak berdosa saat dia tengah berceramah di hadapan ratusan jamaahnya. Sumpah, bukan saya yang menyuruh seperti itu. Ada juga seorang ustad yang memfatwakan bahwa batu akik bisa mendatangkan rezeki. Saya tidak mengajari itu. Ada habib yang jualan air doa seharga 5 juta rupiah per botol. Saya tidak pernah membisikkan harga selangit itu—saya kira 500 ribu sudah cukup! Mereka menaikkan tarif sendiri!"

"Beberapa habib dan ustad juga sekarang sudah menjadi—maaf, Tuanku—'artis' dan 'selebriti'. Mereka lebih sibuk nyanyi-nyanyi, syuting iklan, endorse produk kecantikan, dan tampil di TV ketimbang mengurus jemaah. Sumpah, Tuanku, demi api neraka, saya tidak pernah membisikkan 'jadi artis' ke mereka. Itu murni inisiatif mereka sendiri!"

IBLIS

(Suaranya mulai bergetar menahan marah.)

"Jadi divisimu... tidak bekerja?"

KOORDINATOR SETAN RELIGIUS

"Bukan tidak bekerja, Tuanku. Tapi overcapacity! Kewalahan! Burnout! Kami mengajari kesombongan, mereka menciptakan kesombongan versi platinum. Kami membisikkan perpecahan, mereka membuat perpecahan sistemik. Kami, setan-setan religius ini, justru sekarang kadang menjadi murid yang belajar dari manusia tentang bagaimana cara-cara baru membingungkan umat. Mereka sungguh senior dalam hal kejahatan. Saya terpana, Tuanku. Saya yang setan, dia yang manusia, tapi dialah yang mengajari saya marketing kebencian!"

"Tahukah Tuanku apa yang paling ironis? Sudah ada kiai yang mulai berani main tambang. Kita semua kan tahu kalau mengeksploitasi alam dan merusak lingkungan itu dosa besar bagi manusia, tapi mereka dengan santainya menerima tawaran tambang itu tanpa rasa bersalah. Bahkan justru menyewa orang setengah alim untuk menjustifikasi perbuatannya itu. Dalil-dalil mereka pelintir tafsir dan maknanya untuk membela dan memuluskan program destruktif itu. Semua itu mereka lakukan tanpa campur tangan kami sedikit pun!"

IBLIS

"Sungguh tak tahu malu!"

KOORDINATOR SETAN RELIGIUS

"Benar, Tuanku! Tapi dari semua kelakuan mereka itu, masih ada yang lebih parah, masih ada yang lebih fatal, keterlaluan, dan sudah sangat kelewatan! Saya tidak tega melaporkannya di sini, Tuanku!"

IBLIS

"Katakan saja! Bongkar semua. Laporkan! Apa itu?!"

KOORDINATOR SETAN RELIGIUS

"Mohon izin, Tuanku! Ada bahkan beberapa di antara mereka yang bergelar kiai dan ustad itu, yang sungguh laknatnya, begitu bejatnya, mengeksploitasi murid-muridnya, melecehkan, dan bahkan memperkosa santriwatinya. Semua itu dilakukannya sendiri tanpa komunikasi dan koordinasi dari kami. Semua itu dikerjakannya dengan keinginan birahi nafsu mereka sendiri. Murni dari mereka sendiri. Bukan karena kami yang goda. Saya sampai muntah jijik menyaksikannya, Tuan!"

IBLIS

(Tak bisa lagi menahan amarahnya.)

"Sungguh biadab! Kurang ajar! Asu!"


BABAK III

DIVISI KLENIK & FENOMENA MISTIS

KOORDINATOR JIN SENIOR

(Rambutnya menyala.)

"Tuanku, saya mewakili Divisi Mistis. Atau yang dulu disebut: Pasukan Hantu Peneror Manusia."

"Tugas kami, 100 tahun lalu, sederhana: masuk ke alam pikiran manusia, membajak imajinasinya, meniupkan godaan di telingannya agar mau melakukan hal-hal klenik seperti pesugihan, meminta-minta ke penunggu pohon beringin, mengoleksi jimat dan benda-benda kuno yang dianggap bertuah, melakukan ritual tertentu untuk mencapai kesaktian, dan seterusnya. Tujuannya jelas: supaya perlahan tanpa mereka sadari, mereka akan jatuh ke dalam kesyirikan. Selain itu, tugas kami juga adalah menakuti manusia agar tidak ke masjid, tidak ke gereja, tidak ke tempat ibadah. Kami biasa melakukan itu dengan menampakkan diri di jalanan sepi, di kuburan, di rumah kosong. Kami membuat suara-suara aneh, menggentayangi malam, membuat bulu kuduk berdiri."

"Tapi sekarang?"

(Ia mengepalkan tangan.)

"Sekarang, mereka semakin di depan, Tuan! Melewati kami, melangkahi seluruh standar operasional kami."

IBLIS

"Apa?!"

KOORDINATOR JIN SENIOR

"Benar, Tuanku. Mereka selalu selangkah lebih maju dari kami. Kami juga bingung, mereka dapat ilmu dan metodologinya di mana. Contohnya saja: tanpa panduan dan arahan dari kami, mereka telah lebih dulu bikin acara festival klenik dan ritual-ritual takhayul. Ada yang jualan jimat dan pengasihan, ada yang melakukan live cek khodam, ada juga bisnis tumbal untuk berkah dan jabatan, hingga paket tuyul penarik rezeki dan kekayaan. Dan masih banyak lagi, Tuan!"

IBLIS

"Sialan! Kenapa kalian diam saja! Gertak, intimidasi, takut-takuti, dan teror mereka!"

KOORDINATOR JIN SENIOR

"Tidak mempan, Tuan! Mereka bahkan sengaja main-main ke kuburan atau tempat-tempat angker. Mengadu nyali. Melakukan uka-uka. Membuat konten YouTube 'Pemburu Hantu'. Membuat kanal khusus 'Podcast Bersama Mbak Kunti' yang subscriber-nya jutaan! Kami, para jin dan makhluk halus gentayangan lainnya, sekarang malah jadi objek tontonan dan bahan candaan, bukan lagi sebagai subjek yang menakutkan."

"Pernah suatu malam, saya menampakkan diri di sebuah kuburan tua. Tahu apa yang terjadi? Bukannya lari, tiga orang anak muda malah berteriak, 'Eh, ada jin beneran! Cepet, cepet, live-in! Ntar viral!' Mereka mendekati saya sambil pegang HP. Saya yang lari terbirit-birit, Tuanku. Saya yang ketakutan!"

"Bahkan ketika kami merasuki mereka—yang dulu jadi senjata ampuh—mereka tidak takut lagi. Mereka merekamnya untuk TikTok! Mereka kasih caption, 'POV: Lo kesurupan tapi temen lo malah ngetiktok.' Dan videonya ditonton jutaan kali. Kami jadi konten gratis!"

IBLIS

(Menggertakkan gigi.)

"Ini penghinaan!"

KOORDINATOR JIN SENIOR

"Bukan hanya penghinaan, Tuanku. Ini krisis eksistensial. Manusia zaman sekarang lebih setan dari kita. Mereka menjual jiwa untuk viewer, subscriber, dan like. Bukan karena bujukan kita, tapi karena algoritma dan monet! Sungguh di luar nurul, Tuanku. Saya benar-benar tak berdaya."

IBLIS

(Menggaruk-garuk tanduknya.)

"Ini sungguh memalukan!"



BABAK IV

DIVISI PRANK DAN PENGGANGGUAN PUBLIK

GENDERUWO
(Tubuhnya besar, berbulu lebat. Ia berdiri lesu seperti pegawai leasing yang hendak melapor karena target kerjanya gagal total.)

GENDERUWO

"Tuanku... saya Genderuwo.

Dulu, nama saya saja sudah cukup membuat orang lari terbirit-birit. Saya penguasa hutan, penjaga kebun, sekaligus teror bagi siapa saja yang berjalan sendirian di malam hari."

(Menarik napas panjang.)

"Tugas saya sederhana: mengganggu manusia di tempat-tempat sepi, menakuti orang yang berbuat maksiat di hutan, dan mengusir mereka yang merusak alam.

Tapi sekarang... habitat saya justru lebih dulu punah, Tuanku.

Hutan ditebang. Kebun berubah menjadi kompleks perumahan. Taman kota dipasang lampu LED, CCTV, Wi-Fi gratis, lengkap dengan food court.

Saya tidak tahu harus tinggal di mana."

(Suasana sidang hening.)

"Yang lebih menyakitkan...

Manusia sekarang tidak takut lagi kepada saya.

Mereka lebih takut cicilan rumah. Takut tagihan pinjol. Takut PHK. Takut saldo rekening tinggal dua digit.

Saya pernah muncul di belakang sepasang anak muda yang sedang pacaran di taman. Saya menggeram sekeras-kerasnya. Dulu, pasti pingsan.

Sekarang...

mereka malah berkata,

'Sayang... selfie dulu. Kayaknya ada filter horror baru.'

Saya...

dikira filter kamera, Tuanku."

IBLIS
(Memijat pelipis.)

"Kau... dijadikan efek visual?"

GENDERUWO

"Belum selesai, Tuanku.

Mereka memperbesar fotonya. Lalu berdebat di kolom komentar.

'Itu editan.'

'Bukan, AI.'

'Settingan konten.'

Tidak ada satu pun yang percaya saya asli. Saya bahkan gagal membuktikan keberadaan saya sendiri."

(Mengusap mata.)

"Sekarang manusia bukan lagi sesat karena bisikan kami.

Mereka sibuk mengejar jabatan. Lupa keluarga. Lupa ibadah. Lupa tidur. Lupa hidup.

Scroll media sosial sampai subuh. Pamer kekayaan. Membandingkan hidup dengan orang lain.

Saya tidak paham dosa model baru itu.

Saya ini setan angkatan lama, Tuanku. Masih pakai metode manual.

Saya...

mengajukan pensiun dini."

IBLIS
(Menggeleng-geleng kecewa.)

"Ini benar-benar patetis! Bangsat!"


KUNTILANAK
(Melangkah maju perlahan. Suaranya melengking, tetapi terdengar lelah.)

"Tuanku...

Saya Kuntilanak. Koordinator Gangguan Jalan Raya dan Penggoda Malam.

Dulu pekerjaan saya sangat efisien. Saya tinggal duduk di tikungan, menangis sedikit, mengibaskan rambut pelan.

Mobil datang...

pengemudinya panik...

selesai.

Sekarang?

Mereka pakai GPS. Google Maps. Artificial Intelligence.

Saya kalah sama satelit.

Suatu malam saya sudah totalitas. Duduk di tikungan. Baju putih. Rambut panjang. Tangisan paling menyayat hati.

Mobil berhenti.

Saya pikir...

akhirnya berhasil.

Eh...

sopirnya membuka kaca.

'Mbak... depan macet nggak?'

Saya diam.

Dia lanjut lagi,

'Kalau lewat sini lebih cepat atau muter?'

Saya ini hantu...

bukan petugas Dishub!"

(Beberapa setan menunduk menahan tawa.)

"Saya coba suruh teman saya berdiri di tengah jalan.

Dia malah berteriak memarahi teman saya,

'Woi... jangan bikin konten sembarangan di tengah jalan!'

Tuanku...

Saya mohon izin cuti kalau begini terus. Saya mau istirahat saja di neraka.

Manusia sekarang lebih takut baterai lima persen...

daripada Kuntilanak."


POCONG
(Melompat masuk.)

"Tuanku...

Saya Pocong.

Dulu saya maskot horor Nusantara.

Sekarang...

saya maskot meme.

Mereka bikin permen pakai wajah saya. Kaos bergambar saya. Boneka saya. Stiker WhatsApp saya. Film tentang saya.

Tapi judulnya...

'Pocong Cari Jodoh.'

'Pocong Naksir Biduan.'

'Pocong Rebahan.'

Saya sampai malu membuka bioskop.

Saya pernah muncul di depan anak-anak muda.

Mereka tidak lari.

Mereka malah berteriak,

'Bang... ulang lagi lompatnya! Kontennya kurang dapet!'

Lalu mereka berkata,

'Bang... coba ngesot dikit. Biar viral.'

Saya menolak.

Mereka bilang,

'Ah... Pocongnya nggak profesional.'"

IBLIS
(Menatap langit-langit neraka dengan putus asa.)

"Jadi...

kau sekarang...

content creator?"

POCONG

"Hampir, Tuanku.

Kemarin ada agensi menawarkan saya kontrak endorse.

Bayarannya sepuluh juta.

Saya hampir tergoda.

Untung saya masih ingat...

saya setan.

Bukan influencer."


TUYUL
(Tubuh kecil. Suara cempreng. Wajahnya kusut seperti pegawai yang lembur tiga bulan tanpa libur.)

"Tuanku...

Saya Tuyul.

Divisi Ekonomi dan Pencurian Skala Kecil.

Seratus tahun saya mencuri uang receh. Masuk rumah, ambil sedikit, lalu setor ke kas neraka.

Kerja jujur...

eh...

maksud saya...

kerja sesuai SOP.

Tapi sekarang...

saya merasa hina.

Karena manusia...

mencuri jauh lebih hebat.

Ada pinjaman online. Bunganya bikin saya merinding.

Padahal saya setan.

Ada judi online.

Orang kehilangan rumah. Kehilangan keluarga. Kehilangan akal.

Tanpa saya sentuh sedikit pun.

Lalu investasi bodong. Robot trading. Ponzi. Manipulasi data.

Semuanya buatan manusia.

Saya melihat itu semua sambil mencatat.

Saya pikir,

'Wah... ternyata saya masih level magang.'

Dulu saya bangga disebut pencuri.

Sekarang...

kalau dibandingkan manusia modern...

saya cuma copet eceran."

(Menunduk.)

"Saya mengusulkan...

Divisi Tuyul dibubarkan saja.

Tidak sanggup lagi bersaing dengan inovasi manusia."





BABAK V

DIVISI MIMPI BURUK DAN TIM MEDIA SOSIAL

TIM GANGGUAN MIMPI BURUK

(Mereka adalah sekumpulan jin kurus dengan mata cekung.)

"Kami, Tuanku, ditugaskan memberi mimpi buruk agar manusia gelisah, stres, dan akhirnya lupa pada Tuhannya."

"Target kami: menyusup ke alam bawah sadar, menciptakan nightmare yang membuat mereka bangun dalam ketakutan, lalu mencari pelarian yang salah."

"Tapi kami... kalah saingan!"

"Manusia sekarang punya mimpi buruk nyata! Mereka setiap hari dihantam berita hoaks, pembunuhan sadis, tragedi kemanusiaan, dan politik yang lebih kacau dari kiamat. Berita di TV, di HP, di mana-mana—lebih menakutkan daripada hantu mana pun yang kami ciptakan!"

"Suatu malam, kami masuk ke tidur seorang ayah. Kami ciptakan mimpi tentang monster berkepala tujuh. Tahu apa yang terjadi? Di tengah mimpi, si ayah malah bermimpi tentang... tagihan sekolah anaknya yang belum terbayar. Tagihan listrik yang menunggak. Utang kartu kredit yang membengkak. Itu lebih mengerikan dari monster kami! Si ayah terbangun dengan keringat dingin, bukan karena kami—tapi karena ekonomi!"

"Anak-anak kecil sekarang bermimpi tentang 'FYP' dan 'like' yang tidak dapat-dapat. Tentang subscriber yang stuck. Tentang konten yang tidak viral. Mereka sudah menyiksa diri sendiri tanpa bantuan kami! Mereka menciptakan neraka personal di kepala mereka sendiri!"

IBLIS

(Menyandarkan kepala ke sandaran singgasana. Asap hitam mengepul dari telinganya—pertanda otaknya mendidih.)

"Jadi kalian... gagal bahkan di level mimpi?"

TIM GANGGUAN MIMPI BURUK

"Bukan gagal, Tuanku. Kami... kami digagalkan. Dipaksa oleh keadaan untuk menjadi setan pengangguran."


KOMISI PENGHASUT KOMENTAR MEDIA SOSIAL

(Mereka tampak paling modern di antara semua divisi.)

"Yang Mulia Iblis, ini adalah bidang paling krusial, paling strategis, dan..."

(Mereka saling pandang. Menunduk.)

"...paling gagal."

"Kami diutus untuk membuat manusia saling menghujat di kolom komentar media sosial. Kami diberi mandat menciptakan polarisasi, permusuhan, dan kebencian horizontal. Modal kami: bisikan-bisikan halus yang menyusup lewat algoritma."

"Tapi, Tuanku... mereka sudah ahli! Kami tidak perlu kerja keras lagi!"

"Kami hanya perlu menulis satu kalimat di kolom komentar: 'Saya rasa...' dan dalam 5 detik, seribu netizen sudah saling serang dengan lebih kejam dari api neraka kami. Mereka menggunakan kata-kata yang bahkan iblis pun tidak berani mengucapkannya di hadapan Tuhan. Ujaran kebencian, isi kebun binatang, doa buruk, kutukan—semuanya keluar dengan fasih, tanpa diedit, tanpa sensor, tanpa beban moral."

"Mereka sudah memiliki 'buzzer' dan 'warganet bayaran' yang memecah belah bangsa tanpa instruksi dari kami. Kami cuma memberi sedikit ilham, sisanya mereka kembangkan sendiri: doxing, cancel culture, framing, hoaks sistematis. Itu semua teknologi kebencian ciptaan mereka sendiri!"

"Kreativitas mereka dalam kebencian melampaui siasat kami. Di neraka, kami punya siksaan fisik. Tapi manusia? Mereka menciptakan siksaan psikologis yang lebih mengerikan: cyberbullying. Korbannya depresi, bunuh diri, lebih cepat dari target kami."

"Kami hanya jadi penonton, Tuanku. Kami hanya bisa scroll-scroll, kagum dan ngeri pada saat bersamaan. Manusia sudah menjadi setan bagi sesamanya, tanpa perlu kami rekrut."


BABAK VI

KEMARAHAN IBLIS DAN KEBANGKRUTAN NERAKA

(Ruang sidang hening. Semua setan menunduk. Map-map LPJ berserakan di lantai.)

IBLIS

(Bangkit dari singgasana. Gerakannya lambat, tapi setiap langkahnya memantulkan gema yang menggetarkan dinding. Ia meraih palu sidang—sebuah palu obsidian hitam dengan ukiran kaligrafi kuno.)

"CUKUP."

(Suaranya bukan lagi suara. Ia adalah ledakan. Semua getaran ketakutan primordial yang pernah dirasakan manusia, sekaligus, dalam satu kata.)

"DIAM KALIAN SEMUA!"

(Palu sidang dihantamkan.)

"Jadi... inikah laporan kalian? Setelah 100 tahun bekerja, setelah semua sumber daya neraka kukerahkan, setelah semua ilmu kesesatan kuwariskan—HASILNYA CUMA CURHAT DAN PENGAKUAN KEGAGALAN?!"

(Ia menatap satu per satu. Koordinator Birokrasi menunduk lebih dalam. Koordinator Religius menyembunyikan tasbihnya. Jin Senior mematikan api di rambutnya. Genderuwo mengecilkan badannya—tiba-tiba ia tampak seperti Genderuwo versi mini yang unyu-unyu.)

"Dengar, para antek, para pecundang, para aktivis dan pekerja neraka yang gagal! Jika manusia sudah sesat tanpa kita, jika mereka sudah bisa korupsi, menghujat, membenci, dan saling membunuh secara otodidak—LALU APA GUNA KITA ADA?!"

"Ini bukan kemenangan! INI ADALAH KEBANGKRUTAN KITA! Kita kehilangan 'seni' menggoda! Kehilangan estetika penyesatan! Dulu, menggoda manusia itu butuh kehalusan, butuh strategi, butuh pemahaman mendalam akan jiwa manusia. Itu adalah seni tingkat tinggi! Sekarang? Manusia sudah menjadi 'professor' kesesatan, dan kita hanyalah 'mahasiswa drop out' yang tidak lagi dibutuhkan!"


(Iblis berjalan mondar-mandir tidak jelas.)

IBLIS

"Kalian tahu apa ironi terbesar dalam penciptaan? Aku dulu membangkang kepada Tuhan karena menolak bersujud kepada Adam. Aku bilang, 'Aku lebih baik darinya. Aku terbuat dari api, dia dari tanah.' Aku sombong. Aku merasa lebih unggul."

"Lalu Tuhan mengusirku. Dan aku bersumpah: aku akan menyesatkan manusia. Akan kubuktikan bahwa makhluk tanah ini memang hina, memang pantas menjadi penghuni neraka. Itu misi suci bagiku."

"Tapi lihatlah sekarang..."

(Ia berhenti di depan Koordinator Religius.)

"Manusia menciptakan agama yang lebih mengerikan dari penyembahan berhala: agama kapitalisme. Agama ketenaran. Agama algoritma. Mereka menyembah layar kecil di tangannya dengan khusyuk. Mereka berwudhu sebelum menipu dan menindas sesamanya. Mereka salat dulu lalu mencuri, korupsi, dan mengambil hak orang lain."

(Ia berjalan ke arah Tuyul.)

"Mereka menciptakan sistem keuangan yang lebih zalim dari riba jahiliah. Riba dulu cuma sekadar bunga. Sekarang? Ada bunga berbunga, ada denda, ada debt collector, ada penyitaan, ada kemiskinan struktural. Semua rapi, legal, dan ditandatangani notaris! Aku tidak pernah punya konsep semacam itu! Itu... terlalu canggih bahkan untuk otak iblis sepertiku!"

(Ia berhenti di depan Tim Media Sosial.)

"Dan yang paling mengerikan: mereka menciptakan neraka di dunia. Neraka yang tidak perlu menunggu kematian. Neraka yang bisa diakses lewat smartphone. Di mana setiap orang bisa menjadi iblis bagi orang lain, kapan saja, di mana saja, hanya dengan jari dan koneksi internet."

"Cyberbullying. Cancel culture. Hoaks. Polaritas politik. Semua itu adalah neraka ciptaan manusia. Dan kita, para setan, hanya bisa menjadi penonton yang kagum—sekaligus ngeri—pada ciptaan mereka."

(Ia kembali ke singgasananya. Duduk dengan tubuh lunglai. Untuk pertama kalinya, Iblis tampak... tua. Tua dan lelah.)

"Tuhan menciptakan manusia dengan kelemahan agar bisa digoda. Tapi Dia juga membekali mereka dengan akal, nurani, dan kitab suci. Itu adalah rem. Itu adalah alarm. Itu adalah benteng."

"Selama ribuan tahun, tugasku adalah mencari celah di benteng itu. Dan aku menikmatinya. Itu adalah permainan catur kosmik antara aku dan Tuhan. Aku menggoda, Tuhan memperingatkan. Manusia memilih. Indah. Elegan. Fair."

"Tapi sekarang? Manusia tidak lagi membutuhkan godaanku untuk hancur. Mereka menghancurkan dirinya sendiri. Atas nama kemajuan. Atas nama efisiensi. Atas nama kebebasan. Mereka melucuti remnya sendiri, mematikan alarmnya sendiri, meruntuhkan bentengnya sendiri—lalu bilang itu semua adalah 'modernitas'."

"Mereka sudah sesat mandiri. Tersesat tanpa perlu juklat dan juknis dariku. Dan itu..."

(Ia menatap kosong.)

"...itu lebih menakutkan dari apa pun yang bisa kulakukan."




BABAK VII

KEPUTUSAN SIDANG DAN SKORSING SAMPAI 2126

(Iblis mendengus.)

IBLIS

"Aku pusing. Aku bingung. Aku marah. Dan aku... aku sedih."

"Selama ribuan tahun kita mengabdi pada misi agung: menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Kita bangga dengan pekerjaan ini. Kita profesional. Kita punya etos kerja yang tinggi. Kita tidak pernah mogok, tidak pernah demo naik gaji, tidak pernah minta THR."

"Tapi hasilnya? Kita hanya menjadi penonton kebodohan manusia. Mereka berhasil membangun 'Neraka Dunia' sendiri, lebih bagus, lebih efisien, lebih rapi dari markas kita. Mereka punya birokrasi kesesatan yang lebih solid. Mereka punya teknologi dosa yang lebih maju. Mereka punya sistem kebencian yang lebih scalable."

"Kita... kita sudah obsolete. Sudah tidak relevan. Barangkali, memang sudah waktunya kita pensiun."

(Semua setan menunduk. Beberapa menyeka air mata.)

"Baiklah. Dengan ini, saya nyatakan..."

(Ia mengangkat palu sidang yang sudah retak.)

"SIDANG INI DI-SKORSING!"

(Palu dihantamkan. Kali ini tidak ada suara keras—hanya bunyi 'tuk' yang pelan.)

"Sidang berikutnya kita adakan 100 tahun lagi, pada tahun 2126. Pada saat itu, mungkin—dan aku takut membayangkannya—manusia sudah menciptakan robot setan sendiri. Kecerdasan buatan yang bisa menggoda lebih efektif dari kita. Algoritma yang bisa memetakan dosa lebih akurat. Blockchain neraka yang bisa mencatat setiap keburukan manusia secara desentralisasi."

"Dan kita? Kita mungkin sudah benar-benar tidak diperlukan lagi. Mungkin Tuhan akan memaafkan kita—bukan karena kita bertobat, tapi karena kita sudah tidak berguna. Musuh yang tidak berbahaya, untuk apa dimusuhi?"

"Bubar! Semua pulang ke lubang masing-masing! Dan jangan lupa matikan api neraka kalau sudah tidak dipakai—kita harus hemat energi!"



CATATAN PENUTUP

DARI SANG SUFI MABUK YANG MENYELUNDUPKAN NASKAH INI

"Jangan tanya saya bagaimana saya bisa menyusup ke sidang neraka dan merekam semua ini. Saya juga tidak tahu. Mungkin karena saya terlalu banyak minum tuak ilahi, atau terlalu sedikit tidur, atau karena saya sudah setengah gila—yang dalam tradisi sufi, adalah prasyarat untuk melihat kebenaran."

"Yang jelas, setelah membaca ini, saya hanya bisa bilang: manusia itu unik. Ia bisa menjadi lebih buruk dari setan, tapi juga bisa menjadi lebih baik dari malaikat. Pilihannya ada di tangannya. Bukan di tangan setan, bukan di tangan takdir, bukan di tangan pemerintah. Di tangannya sendiri."

"Jadi, kalau Anda merasa dunia ini sudah seperti neraka—jangan salahkan setan. Setan sudah menyerah. Lihatlah ke cermin. Dan tanyakan: siapa yang menciptakan neraka ini?"

"Lalu, kalau Anda berani, ambillah keputusan untuk menciptakan surga. Kecil-kecilan saja. Di rumah. Di tempat kerja. Di kolom komentar. Di hati."

"Itu lebih susah daripada menciptakan neraka, tentu saja. Tapi itulah seninya menjadi manusia. Setan tidak bisa melakukannya. Hanya kita yang bisa."

"Selamat mencoba."