MUSYAWARAH AKBAR PARA SETAN
Periode LPJ 1 Abad (1926–2026)
Lokasi: Ruang Sidang Utama, Markas Besar Neraka Jahanam (Kampus 1)
Di sebuh ruangan VIP setengah-gelap, setengah-menyengat. Kepulan asap-asap hitam lewat berlalu-lalang. Kursi-kursi dari tulang belulang tersusun rapi. Para hadirin terdiri dari berbagai ras, suku dan bangsa setan. Berjenis-jenis jin, siluman, hantu dan makhluk-makhluk gentayangan lainnya dari berbagai penjuru arah mata angin Indonesia.
Mereka semua datang untuk melaporkan perkembangan kesesatan dan kesetanan umat manusia, mengevaluasi kinerja selama 1 abad, serta menyampaikan keluh kesah pengalaman mereka dalam melakukan agenda yuwaswis, menggoda, dan menyesatkan umat manusia di Indonesia. Sidang juga membahas berbagai kendala yang mereka hadapi dalam menjalankan misi kafirisasi, setanisasi, dan detuhanisasi manusia Indonesia.
Hadir lengkap:
Setan Birokrasi
Setan Religius
Jin Senior
Genderuwo
Kuntilanak
Pocong
Tuyul
Roh Penunggu Pohon Beringin
Hantu Rumah Kosong
Tim Gangguan Mimpi Buruk
Direktorat Bisikan Negatif
Komisi Penghasut Komentar Media Sosial
Dan makhluk-makhluk gentayangan lainnya
Di kursi paling depan duduk sosok kharismatik yang paling menyeramkan.
Tubuhnya tinggi menjulang ke langit-langit ruangan.
Matanya merah menyala menakutkan.
Tanduknya melengkung seperti sabit dan parang.
Sayap hitamnya sangar membentang.
Suara napasnya terdengar aih sungguh mengerikan.
Dialah...
IBLIS LAKNATAN LIL-'ALAMIN.
Pimpinan tertinggi seluruh setan.
___________
Iblis berdiri.
Semua makhluk langsung hening.
Bahkan pocong yang biasanya lompat-lompat pun duduk rapi.
Iblis berdeham.
"Saudara-saudara setan, jin, demit, siluman, dan seluruh pegawai tetap maupun honorer alam gaib..."
"Hari ini kita berkumpul untuk mengevaluasi kinerja selama satu abad terakhir dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi kita: menggoda, menakuti, menyesatkan, menghasut, memprovokasi, dan membuat manusia lupa diri."
Iblis mengetukkan palu sidang.
Tak!
Tak!
Tak!
"Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, saya buka MUAK ini dengan resmi."
Seluruh peserta saling berpandangan.
Seorang pocong mengangkat tangan.
"Maaf Ketua, bukannya kita setan?"
"Benar."
"Kenapa buka sidang pakai bismillah?"
Iblis menghela napas.
"Ini prosedur administrasi. Kita harus menghormati formalitas."
"Oooh..."
"Jangan banyak tanya."
"Siap Ketua."
Iblis membuka map hitam raksasa.
"Silakan laporkan hasil kerja satu abad terakhir."
Sidang pun dimulai...
_______________________
BABAK I
LAPORAN DIVISI BIROKRASI & PEMERINTAHAN
KOORDINATOR SETAN BIROKRASI
(Berjubah jas hitam, dasi merah darah, memegang map tebal yang di atasnya ada stempel: "CONFIDENTIAL—Hanya Untuk Kalangan Jin")
"Yang Mulia, perkenankan saya menyampaikan Laporan Kinerja Divisi Birokrasi periode 1926–2026."
(Ia membuka map. Ada yang aneh: di sela-sela lembaran laporan itu terselip beberapa lembar struk ATM, selembar kwitansi proyek fiktif, dan—astaga—sebuah kartu nama bertuliskan "Konsultan Spiritual".)
"Sebagaimana mandat yang Tuanku berikan 100 tahun lalu, divisi kami bertugas menginfiltrasi sistem pemerintahan manusia. Target kami jelas: mengajarkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Modus operandi: membisikkan godaan pelan-pelan, sedikit demi sedikit, seperti menanam benih di tanah yang subur."
(Ia berhenti sejenak, mengusap keringat)
"Namun, Tuanku... saya harus jujur. Kami kewalahan."
IBLIS
(Mata kirinya berkedut.)
"Kewalahan? Kata itu tidak ada dalam kamus neraka."
KOORDINATOR SETAN BIROKRASI
"Justru itu, Tuanku. Sekarang kata itu sudah ada. Dan kami yang menambahkannya. Karena faktanya..."
(Ia menarik napas)
"...manusia tidak perlu kami goda lagi! Mereka sudah menemukan caranya sendiri untuk korupsi. Lebih efisien. Lebih rapi. Lebih canggih dari pelatihan yang kami berikan!"
"Tuanku, 75% kantor pemerintahan sudah kami susupi. Tapi bukannya kami yang mengajari mereka—merekalah yang mengajari kami!"
IBLIS
"Contoh!"
KOORDINATOR SETAN BIROKRASI
"Mereka membuat aplikasi 'e-Korupsi' sendiri, Tuanku! Sistem bagi-bagi proyek yang lebih rapi dari database neraka. Ketika kami bisikkan, 'Ambil 5% saja, pelan-pelan,' mereka malah balik bertanya—dan ini kata-kata mereka sendiri, Tuanku, saya rekam—'Kenapa tidak 15%? Sekalian 20%, sekalian bikin yayasan bodong untuk cuci uangnya.'"
(Iblis mengerutkan kening. Para hadirin setan lainnya mulai gelisah.)
"Bahkan, Tuanku, ada seorang pejabat—saya tidak bisa sebut nama karena kami punya kode etik, atau setidaknya kami sedang mencoba membuatnya—yang ketika kami dekati, dia malah menawari kami kerja sama! Kerja sama! Seakan-akan kami ini kontraktor!"
IBLIS
"Kerja sama apa?"
KOORDINATOR SETAN BIROKRASI
"Dia bilang, 'Setan, lu bantu gue dapet proyek ini, nanti gue bagi 20% ke lu. Lu bisa beli belerang lebih banyak buat neraka.' Saya syok, Tuanku. Saya cuma bisa jawab, 'Saya ini setan, bukan makelar.' Tapi dia sudah menandatangani MoU sepihak!"
(Gemuruh bisik-bisik di antara hadirin. Ada yang mencatat, ada yang menggeleng sampai kepalanya lepas.)
"Dan puncaknya, Tuanku... Presiden. Kepala negara. Pemimpin tertinggi. Kami dulu mengira dialah target paling empuk, paling mudah kami pengaruhi. Ternyata? Beliau kadang lebih licik dari ular kami sendiri! Lebih pandai bersilat lidah dari iblis penjaga pintu neraka! Saya tidak tahu apakah beliau ini manusia atau sebenarnya kerabat Tuanku yang menyamar."
(Iblis membanting tangannya ke sandaran singgasana. Retakan baru muncul.)
"Kami, Divisi Birokrasi dan pemerintahan, sekarang angkat tangan, menyerah, bahkan beberapa karyawan setan saya mau resign dan minta pensiun dini. Para birokrat, pejabat, aparat di Indonesia adalah manusia yang sangat ahli dan lihai dalam hal kesesatan administratif. Mereka sudah menguasai bagaimana membuat korupsi menjadi legal, bagaimana mencuri dengan tanda tangan resmi, bagaimana memperkaya diri sambil berpidato tentang kejujuran. Itu seni tingkat tinggi, Tuanku! Kami tidak sanggup menandinginya!"
______
BABAK II
DIVISI RELIGIUS SPIRITUAL — ATAU YANG TERSISA DARINYA
KOORDINATOR SETAN RELIGIUS
(Berjubah putih kotor—katanya dulu putih bersih, tapi jadi kotor karena terlalu sering dipakai di tempat-tempat suci yang seharusnya tak bisa dimasuki setan, tapi ternyata bisa karena yang di dalamnya lebih kotor.)
"Yang Mulia Iblis, saya mewakili Divisi Religius. Atau yang dulu kami sebut dengan bangga: Pasukan Khusus Penyesatan Tokoh Agama."
(Ia memegang tasbih dari biji tai kambing—bukan untuk berdzikir, tapi untuk menghitung berapa kali ia gagal. Biji-biji itu sudah habis, tandanya kegagalannya tak terhitung.)
"Target kami selama 100 tahun: para ustad, kiai, habib, pendeta, biksu, dan siapa pun yang mengaku wakil Tuhan di bumi. Misi kami sederhana: membuat mereka sombong, memperjualbelikan fatwa, dan memecah belah umat."
"Hasilnya?"
(Ia tertawa kecil. Tawa yang getir. Tawa setan yang kalah.)
"Hasilnya... mereka sudah terpecah sejak awal! Sejak sebelum kami datang, mereka sudah bertengkar sendiri!"
"Tuanku, kami hanya perlu duduk santai di pojokan, ngopi belerang, sambil nonton. Mereka sudah bertengkar soal hilal—padahal hilal itu cuma bulan sabit kecil, tapi bisa bikin umat terbelah dua. Mereka bertengkar soal tata cara shalat—padahal sama-sama menyembah Tuhan yang sama. Mereka saling mengkafirkan tanpa kami suruh, tanpa kami bisiki!"
"Di media sosial? Lebih parah lagi! Kami dulu berpikir, 'Ah, ini ladang baru, kita bisa mengadu domba mereka lewat Facebook dan Twitter.' Ternyata? Begitu kami login, kami hanya jadi penonton! Mereka sudah saling serang dengan kata-kata yang bahkan iblis pun tak tega mengucapkannya."
IBLIS
"Seberapa parah?"
KOORDINATOR SETAN RELIGIUS
"Tuanku, ada seorang ustad yang memfatwakan bahwa batu akik bisa mendatangkan rezeki. Saya tidak mengajari itu. Ada habib yang jualan air doa seharga 5 juta rupiah per botol. Saya tidak pernah membisikkan harga selangit itu—saya kira 500 ribu sudah cukup! Mereka menaikkan tarif sendiri!"
"Beberapa habib dan ustad juga sekarang sudah menjadi—maaf, Tuanku—'artis' dan 'selebriti'. Mereka lebih sibuk syuting iklan, endorse produk kecantikan, dan tampil di TV ketimbang mengurus jemaah. Sumpah, Tuanku, demi api neraka, saya tidak pernah membisikkan 'jadi artis' ke mereka. Itu murni inisiatif mereka sendiri!"
IBLIS
(Suaranya mulai bergetar menahan marah.)
"Jadi divisimu... tidak bekerja?"
KOORDINATOR SETAN RELIGIUS
"Bukan tidak bekerja, Tuanku. Tapi overcapacity! Kewalahan! Burnout! Kami mengajari kesombongan, mereka menciptakan kesombongan versi platinum. Kami membisikkan perpecahan, mereka membuat perpecahan sistemik. Kami, setan-setan religius ini, justru sekarang kadang menjadi murid yang belajar dari manusia tentang bagaimana cara-cara baru membingungkan umat. Mereka sungguh senior dalam hal kejahatan. Saya terpana, Tuanku. Saya yang setan, dia yang manusia, tapi dialah yang mengajari saya marketing!"
"
"Tahukah Tuanku apa yang paling ironis? "Ada bahkan beberapa kiai dan ustad yang begitu bejatnya mengeksploitasi santrinya, melecehkan dan bahkan memperkosa santriwatinya. Semua itu dilakukannya sendiri tanpa koordinasi dari kami. Semua itu dikerjakannya dengan keinginan birahi mereka sendiri. Bukan karena kami yang goda. Saya sampai muntah jijik menyaksikannya, tuan!"
IBLIS
(Tak bisa lagi menahan amarahnya)
"Sungguh biadab! Kurang ajar!"
___________
BABAK III
DIVISI MISTIS & FENOMENA SUPERNATURAL — DARI MENAKUTI JADI DITONTON
KOORDINATOR JIN SENIOR
(Rambutnya menyala—api, tentu saja—tapi nyalanya redup, seperti lampu petromaks kehabisan minyak. Ia menghela napas panjang.)
"Tuanku, saya mewakili Divisi Mistis. Atau yang dulu disebut: Pasukan Hantu Penakut Manusia."
"Tugas kami, 100 tahun lalu, sederhana: menakuti manusia agar tidak ke masjid, tidak ke gereja, tidak ke tempat ibadah. Kami biasa melakukan itu dengan menampakkan diri di jalanan sepi, di kuburan, di rumah kosong. Kami membuat suara-suara aneh, menggentayangi malam, membuat bulu kuduk berdiri."
"Tapi sekarang?"
(Ia mengepalkan tangan. Api di rambutnya berubah jadi abu seketika—mungkin pertanda depresi.)
"Sekarang, anak-anak muda justru mencari kami!"
IBLIS
"Apa?!"
KOORDINATOR JIN SENIOR
"Benar, Tuanku. Mereka sengaja main-main ke kuburan. Mengadu nyali. Membuat konten YouTube 'Buru Hantu'. Membuat kanal khusus 'Mistik Hunter' yang subscriber-nya jutaan! Kami, para jin, sekarang jadi objek tontonan, bukan lagi subjek penakut."
"Pernah suatu malam, saya menampakkan diri di sebuah kuburan tua. Tahu apa yang terjadi? Bukannya lari, tiga orang anak muda malah berteriak, 'Eh, ada jin beneran! Cepet, cepet, live-in! Ntar viral!' Mereka mendekati saya sambil pegang HP. Saya yang lari terbirit-birit, Tuanku. Saya yang ketakutan!"
"Bahkan ketika kami kerasukan—yang dulu jadi senjata ampuh—mereka tidak takut. Mereka merekamnya untuk TikTok! Mereka kasih caption, 'POV: Lo kesurupan tapi temen lo malah ngetiktok.' Dan videonya ditonton jutaan kali. Kami jadi konten gratis!"
IBLIS
(Menggertakkan gigi—padahal giginya terbuat dari obsidian, tapi mulai retak.)
"Ini penghinaan."
KOORDINATOR JIN SENIOR
"Bukan hanya penghinaan, Tuanku. Ini krisis eksistensial. Manusia zaman sekarang lebih setan dari kita. Mereka menjual jiwa untuk viewer, subscriber, like. Bukan karena bujukan kita—tapi karena algoritma!"
__________
BABAK IV
GENDERUWO DAN KUNTILANAK — PAMOR YANG HILANG DI ERA DIGITAL
GENDERUWO
(Badan kekar, tinggi menjulang, tapi entah kenapa sekarang pundaknya membungkuk. Bau tanah yang biasanya wangi mistis, sekarang bercampur bau semen dan aspal. Ia mewakili Divisi Alam.)
"Tuanku... saya Genderuwo. Dulu saya ditakuti. Saya adalah raja hutan, penguasa malam, teror bagi siapa pun yang berani melintas di wilayah saya."
(Suaranya berat, tapi getar-getar seperti orang mau nangis.)
"Saya diutus menggoda manusia di hutan, kebun, taman, dan tempat-tempat alami lainnya. Mengganggu pasangan yang berpacaran, menakuti pembalak liar, menghalau mereka yang hendak mengotori alam."
"Tapi Tuanku... sekarang habitat saya sendiri sudah hancur! Hutan digunduli, kebun jadi perumahan, taman kota berubah jadi tempat nongkrong dengan Wi-Fi gratis. Di mana saya harus tinggal? Di pinggir tol?"
"Manusia tidak takut lagi sama Genderuwo. Mereka lebih takut sama KPR, cicilan motor, inflasi, dan harga BBM naik! Saya coba mengganggu sepasang pengantin baru di taman kota—dulu, sekali saya menggeram, mereka lari terbirit-birit. Sekarang? Mereka malah sibuk swafoto. Selfie! Saya berdiri di belakang mereka, muka saya melong ke kamera, mereka malah bilang, 'Eh, bagus nih, ada filter Genderuwo!' Filter! Saya dijadikan filter!"
IBLIS
"Ini... keterlaluan."
GENDERUWO
"Lebih keterlaluan lagi, Tuanku. Sekarang manusia sesat bukan karena bisikan hutan—karena hutannya sudah tidak ada. Mereka sesat karena kesibukan duniawi, karena pekerjaan yang menumpuk, karena mengejar karier, karena scrolling media sosial sampai lupa waktu. Dosa-dosa mereka sekarang lebih sophisticated: workaholism, shopaholism, flexing di Instagram. Saya tidak mengerti itu semua! Saya cuma Genderuwo generasi tua!"
(Ia menyeka mata. Batu-batu kecil jatuh dari pelupuknya.)
"Saya... saya mogok kerja, Tuanku. Percuma. Kita sudah tidak relevan."
KUNTILANAK
(Suaranya melengking, tapi lesu. Panjang. Seperti suara perempuan yang baru bangun tidur dan langsung lihat tagihan kartu kredit.)
"Tuanku... saya Kuntilanak. Divisi Jalanan dan Penggoda Malam."
"Saya bertugas menyesatkan para pengendara malam, supaya celaka atau tersesat di jalan. Dulu, taktik saya sederhana: duduk di pinggir jalan, menangis, atau tiba-tiba melompat ke kap mobil. Manusia panik, nabrak, celaka. Efektif."
"Sekarang? Mereka punya Google Maps, Waze, dan GPS!"
"Suatu malam, saya duduk di tikungan jalan yang gelap. Rambut saya panjang, baju saya putih, saya siapkan tangisan paling menyedihkan. Ada mobil datang. Saya mulai menangis. Sopirnya menurunkan kaca. Saya kira dia mau menjerit ketakutan. Tapi dia malah bilang, 'Mbak, maaf, di depan ada macet nggak? Saya buru-buru nih.'"
"Saya coba menghalangi jalan. Dia bilang, 'Ah, macet lagi,' lalu buka aplikasi Waze, nyari jalur alternatif. Saya tidak ada di peta, Tuanku! Saya tidak terdeteksi satelit! Saya irrelevant!"
"Di rumah kosong, mereka tidak takut setan. Mereka takut sama 'indekosnya nggak ada Wi-Fi'. Kalau saya menampakkan diri di depan anak kos, dia bilang, 'Mbak, ganggu aja deh asal jangan bikin koneksi internet putus.' Saya sudah kehilangan pamor, Tuanku. Manusia lebih takut baterai HP habis daripada bertemu Kuntilanak. Saya depresi."
_________
BABAK V
POCONG, TUYUL, DAN PASUKAN EKONOMI KEGELAPAN
POCONG
(Melompat-lompat masuk ke ruang sidang. Setiap lompatannya memantulkan bunyi "duk-duk-duk" yang anehnya membentuk irama dangdut koplo. Ia adalah perwakilan Divisi Kejutan.)
"Tuanku! Saya Pocong! Dulu saya ikon horor Indonesia! Saya ditakuti anak-anak, orang dewasa, bahkan kucing kalau lihat saya langsung lari!"
(Ia berhenti melompat, tapi masih bergoyang-goyang—mungkin kebiasaan.)
"Tapi sekarang? Manusia menjadikan saya bahan dagang!"
"Mereka bikin permen merek 'Pocong'! Permen, Tuanku! Isinya cuma gula dan perisa buah, tapi dibungkus gambar saya! Mereka bikin baju 'Pocong'—bukan buat serem, tapi buat lucu-lucuan di acara ulang tahun! Mereka bikin film horor tentang saya—tapi judulnya 'Pocong Jomblo' atau 'Pocong Ngesot ke Hatimu'! Saya malu nontonnya, Tuanku!"
"Suatu kali, saya melompat-lompat di depan sekumpulan anak muda. Tahu apa reaksi mereka? Mereka tertawa sambil video call ke temannya. 'Eh, bro, lihat nih, ada pocong beneran! Lucu banget! Kayak di film itu lho!' Lalu mereka meminta saya untuk 'ngesot' sambil bilang 'saya pocong ganteng'. Saya menolak, dan mereka bilang saya 'nggak asik'!"
IBLIS
(Berkata dengan nada setengah putus asa.)
"Jadi kau... jadi bahan lelucon?"
POCONG
"Lebih parah, Tuanku. Saya jadi bahan endorse! Ada brand pakaian yang nawarin saya jadi bintang iklan. Bayarannya 10 juta. Saya tolak, tentu saja—saya ini setan, bukan selebgram. Tapi godaannya sangat kuat, Tuanku. Sangat kuat..."
TUYUL
(Bersuara kecil, cempreng. Tubuhnya mini, botak, tapi matanya sayu seperti pegawai bank yang lembur terus-menerus tanpa dibayar.)
"Saya... Tuyul. Divisi Ekonomi dan Pencurian Skala Kecil."
"Saya diutus mencuri uang dan harta manusia. Modus: menyusup ke rumah-rumah, menggasak recehan, perhiasan kecil, dan kadang-kadang surat berharga. Selama 100 tahun, saya bangga dengan pekerjaan ini. Uang saya kumpulkan, saya setor ke kas neraka, digunakan untuk biaya operasional."
"Tapi Tuanku..."
(Suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca—meskipun tuyul tidak punya air mata, jadi cuma keluar asap tipis.)
"Manusia sekarang lebih jago mencuri dari saya!"
"Mereka buat 'pinjol'—pinjaman online, Tuanku. Bunganya mencekik, sistemnya predatory, dan targetnya orang-orang miskin yang putus asa. Dalam semalam, mereka bisa meraup miliaran rupiah! Saya 100 tahun cuma bisa ngumpulin beberapa miliar—itu pun recehan. Mereka 100 kali lipat lebih kaya dari hasil kejahatan yang saya lakukan!"
"Lalu ada 'judol'—judi online. Iklannya di mana-mana. Janjinya 'menang mudah, kaya instan.' Manusia tertipu, bangkrut, bunuh diri. Itu bukan godaan saya, Tuanku! Itu buatan manusia sendiri! Saya tidak pernah sekreatif itu!"
"Dan yang terbaru: investasi bodong. Skema ponzi. Robot trading. Manusia menipu sesama manusia dengan algoritma. Saya, tuyul jadul, hanya bisa melongo melihat betapa sophisticated-nya kejahatan mereka. Saya merasa menjadi murid mereka. Mereka adalah tuyul modern yang lebih canggih! Saya malu menyebut diri saya pencuri."
______
BABAK VI
DIVISI MIMPI BURUK DAN TIM MEDIA SOSIAL — PUNCAK KEGAGALAN NERAKA
TIM GANGGUAN MIMPI BURUK
(Mereka adalah sekumpulan jin kurus dengan mata cekung. Serempak berdiri, gerakannya sinkron seperti paduan suara, tapi suaranya fals—seperti rekaman azan yang diputar di tape rusak.)
"Kami, Tuanku, ditugaskan memberi mimpi buruk agar manusia gelisah, stres, dan akhirnya lupa pada Tuhannya."
"Target kami: menyusup ke alam bawah sadar, menciptakan nightmare yang membuat mereka bangun dalam ketakutan, lalu mencari pelarian yang salah."
"Tapi kami... kalah saingan!"
"Manusia sekarang punya mimpi buruk nyata! Mereka setiap hari dihantam berita hoaks, pembunuhan sadis, tragedi kemanusiaan, dan politik yang lebih kacau dari kiamat. Berita di TV, di HP, di mana-mana—lebih menakutkan daripada hantu mana pun yang kami ciptakan!"
"Suatu malam, kami masuk ke tidur seorang ayah. Kami ciptakan mimpi tentang monster berkepala tujuh. Tahu apa yang terjadi? Di tengah mimpi, si ayah malah bermimpi tentang... tagihan sekolah anaknya yang belum terbayar. Tagihan listrik yang menunggak. Utang kartu kredit yang membengkak. Itu lebih mengerikan dari monster kami! Si ayah terbangun dengan keringat dingin, bukan karena kami—tapi karena ekonomi!"
"Anak-anak kecil sekarang bermimpi tentang 'FYP' dan 'like' yang tidak dapat-dapat. Tentang subscriber yang stuck. Tentang konten yang tidak viral. Mereka sudah menyiksa diri sendiri tanpa bantuan kami! Mereka menciptakan neraka personal di kepala mereka sendiri!"
IBLIS
(Menyandarkan kepala ke sandaran singgasana. Asap hitam mengepul dari telinganya—pertanda otaknya mendidih.)
"Jadi kalian... gagal bahkan di level mimpi?"
TIM MIMPI BURUK
"Bukan gagal, Tuanku. Kami... kami di-redundansi oleh realitas."
KOMISI PENGHASUT KOMENTAR MEDIA SOSIAL
(Mereka tampak paling modern di antara semua divisi. Setelan mereka rapi, seperti anak startup. Ada yang membawa laptop, ada yang memegang tablet, ada yang hanya memegang HP—tapi HP-nya retak di sana-sini, mungkin karena sering dibanting frustrasi.)
"Yang Mulia Iblis, ini adalah bidang paling krusial, paling strategis, dan..."
(Mereka saling pandang. Menunduk.)
"...paling gagal."
"Kami diutus untuk membuat manusia saling menghujat di kolom komentar media sosial. Kami diberi mandat menciptakan polarisasi, permusuhan, dan kebencian horizontal. Modal kami: bisikan-bisikan halus yang menyusup lewat algoritma."
"Tapi, Tuanku... mereka sudah ahli! Kami tidak perlu kerja keras lagi!"
"Kami hanya perlu menulis satu kalimat di kolom komentar: 'Saya rasa...' dan dalam 5 detik, seribu netizen sudah saling serang dengan lebih kejam dari api neraka kami. Mereka menggunakan kata-kata yang bahkan iblis pun tidak berani mengucapkannya di hadapan Tuhan. Ujaran kebencian, doa buruk, kutukan—semuanya keluar dengan fasih, tanpa diedit, tanpa sensor, tanpa beban moral."
"Mereka sudah memiliki 'buzzer' dan 'warganet bayaran' yang memecah belah bangsa tanpa instruksi dari kami. Kami cuma memberi sedikit ilham, sisanya mereka kembangkan sendiri: doxing, cancel culture, framing, hoaks sistematis. Itu semua teknologi kebencian ciptaan mereka sendiri!"
"Kreativitas mereka dalam kebencian melampaui siasat kami. Di neraka, kami punya siksaan fisik. Tapi manusia? Mereka menciptakan siksaan psikologis yang lebih mengerikan: cyberbullying. Korbannya depresi, bunuh diri, lebih cepat dari target kami."
"Kami hanya jadi penonton, Tuanku. Kami hanya bisa scroll-scroll sambil ngopi belerang, kagum dan ngeri pada saat bersamaan. Manusia sudah menjadi setan bagi sesamanya, tanpa perlu kami rekrut."
________
BABAK VII
KEMARAHAN IBLIS DAN KEBANGKRUTAN SPIRITUAL
(Ruang sidang hening. Asap belerang menipis, seolah-olah alam neraka pun ikut menahan napas. Api biru di sekitar singgasana meredup, menyisakan bayang-bayang panjang yang menari-nari di dinding batu. Semua setan menunduk. Map-map LPJ berserakan di lantai. Ada yang isinya kosong—simbol dari kegagalan total.)
IBLIS
(Bangkit dari singgasana. Gerakannya lambat, tapi setiap langkahnya memantulkan gema yang menggetarkan dinding. Ia meraih palu sidang—sebuah palu obsidian hitam dengan ukiran kaligrafi kuno yang konon diambil dari reruntuhan Menara Babel.)
"CUKUP."
(Suaranya bukan lagi suara. Ia adalah ledakan. Guntur di perut bumi. Jeritan anak-anak yang hilang. Semua getaran ketakutan primordial yang pernah dirasakan manusia, sekaligus, dalam satu kata.)
"DIAM KALIAN SEMUA!"
(Palu sidang dihantamkan. Singgasana retak. Retakan baru, lebih dalam, membentuk pola yang anehnya mirip grafik saham yang sedang anjlok.)
"Jadi... inikah laporan kalian? Setelah 100 tahun bekerja, setelah semua sumber daya neraka kukerahkan, setelah semua ilmu kesesatan kuwariskan—HASILNYA CUMA CURHAT DAN PENGAKUAN KEGAGALAN?!"
(Ia menatap satu per satu. Koordinator Birokrasi menunduk lebih dalam. Koordinator Religius menyembunyikan tasbihnya. Jin Senior mematikan api di rambutnya. Genderuwo mengecilkan badannya—tiba-tiba ia tampak seperti Genderuwo versi mini yang lucu.)
"Divisi Birokrasi kalah oleh KPK yang bahkan dibentuk manusia bukan karena takut neraka, tapi karena malu sama anak cucu! Divisi Religius kalah oleh YouTuber yang jualan agama pakai clickbait! Genderuwo kalah oleh developer properti yang menjual surga duniawi berupa cluster dengan DP nol persen!"
"Kuntilanak kalah oleh aplikasi peta digital! Pocong kalah oleh industri hiburan! Tuyul kalah oleh fintech! Jin mimpi buruk kalah oleh berita jam 9 malam! Dan divisi media sosial—divisi yang paling kuharapkan—kalah oleh... buzzer recehan yang dibayar 50 ribu per tweet?!"
(Ia berhenti. Menarik napas—dan untuk pertama kalinya, setan-setan di ruangan itu melihat sesuatu yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya: Iblis menangis. Bukan air mata, tapi cairan hitam pekat yang menetes dan membekas di lantai, membentuk tulisan yang anehnya bisa dibaca: "KENAPA".)
"Dengar, para antek, para pecundang, para kegagalan neraka! Ini bukan kemenangan! Jika manusia sudah sesat tanpa kita, jika mereka sudah bisa korupsi, menghujat, membenci, dan saling membunuh secara otodidak—LALU APA GUNA KITA ADA?!"
"Ini bukan kemenangan! INI ADALAH KEBANGKRUTAN SPIRITUAL KITA! Kita kehilangan 'seni' menggoda! Kehilangan estetika penyesatan! Dulu, menggoda manusia itu butuh kehalusan, butuh strategi, butuh pemahaman mendalam akan jiwa manusia. Itu adalah seni tingkat tinggi! Sekarang? Manusia sudah menjadi 'doktor' kesesatan, dan kita hanyalah 'mahasiswa drop out' yang tidak lagi dibutuhkan!"
__________
BABAK VIII
MONOLOG FILOSOFIS IBLIS TENTANG MANUSIA YANG SESAT MANDIRI
(Iblis berjalan mondar-mandir. Langkahnya lambat, terukur, seperti dosen yang hendak memberikan kuliah terakhir sebelum pensiun.)
IBLIS
"Kalian tahu apa ironi terbesar dalam penciptaan? Aku dulu membangkang kepada Tuhan karena menolak bersujud kepada Adam. Aku bilang, 'Aku lebih baik darinya. Aku terbuat dari api, dia dari tanah.' Aku sombong. Aku merasa lebih unggul."
"Lalu Tuhan mengusirku. Dan aku bersumpah: aku akan menyesatkan manusia. Akan kubuktikan bahwa makhluk tanah ini memang hina, memang pantas menjadi penghuni neraka. Itu misi suci bagiku."
"Tapi lihatlah sekarang..."
(Ia berhenti di depan Koordinator Religius.)
"Manusia menciptakan agama yang lebih mengerikan dari penyembahan berhala: agama kapitalisme. Agama ketenaran. Agama algoritma. Mereka menyembah layar kecil di tangannya dengan khusyuk melebihi para rahib. Mereka berwudhu dengan air mineral kemasan, lalu bersujud di depan influencer. Itu bukan hasil godaanku. Itu... inovasi mereka sendiri!"
(Ia berjalan ke arah Tuyul.)
"Mereka menciptakan sistem keuangan yang lebih dzalim dari riba jahiliyah. Riba dulu cuma sekadar bunga. Sekarang? Ada bunga berbunga, ada denda, ada debt collector, ada penyitaan, ada kemiskinan struktural. Semua rapi, legal, dan ditandatangani notaris! Aku tidak pernah mengajari mereka itu! Itu... terlalu canggih bahkan untuk otak iblis sepertiku!"
(Ia berhenti di depan Tim Media Sosial.)
"Dan yang paling mengerikan: mereka menciptakan neraka di dunia. Neraka yang tidak perlu menunggu kematian. Neraka yang bisa diakses lewat smartphone. Di mana setiap orang bisa menjadi iblis bagi orang lain, kapan saja, di mana saja, hanya dengan jari dan koneksi internet."
"Cyberbullying. Cancel culture. Hoaks. Polaritas politik. Semua itu adalah neraka ciptaan manusia. Dan kita, para setan, hanya bisa menjadi penonton yang kagum—sekaligus ngeri—pada ciptaan mereka."
(Ia kembali ke singgasananya. Duduk dengan tubuh lunglai. Untuk pertama kalinya, Iblis tampak... tua. Tua dan lelah.)
"Tuhan menciptakan manusia dengan kelemahan agar bisa digoda. Tapi Dia juga membekali mereka dengan akal, nurani, dan kitab suci. Itu adalah rem. Itu adalah alarm. Itu adalah benteng."
"Selama ribuan tahun, tugasku adalah mencari celah di benteng itu. Dan aku menikmatinya. Itu adalah permainan catur kosmik antara aku dan Tuhan. Aku menggoda, Tuhan memperingatkan. Manusia memilih. Indah. Elegan. Fair."
"Tapi sekarang? Manusia tidak lagi membutuhkan godaanku untuk hancur. Mereka menghancurkan dirinya sendiri. Atas nama kemajuan. Atas nama efisiensi. Atas nama kebebasan. Mereka melucuti remnya sendiri, mematikan alarmnya sendiri, meruntuhkan bentengnya sendiri—lalu bilang itu semua adalah 'modernitas'."
"Mereka sudah sesat mandiri. Tersesat tanpa perlu peta dariku. Dan itu..."
(Ia menatap kosong ke api biru yang meredup.)
"...itu lebih menakutkan dari apa pun yang bisa kulakukan."
___________
BABAK IX
KEPUTUSAN SIDANG DAN SKORSING SAMPAI 2126
(Iblis mengusap pelipisnya yang berdenyut—meskipun secara teknis, iblis tidak punya pelipis, tapi metafora ini terlalu bagus untuk dilewatkan.)
IBLIS
"Aku pusing. Aku bingung. Aku marah. Dan aku... aku sedih."
"Selama ribuan tahun kita mengabdi pada misi agung: menyesatkan manusia dari jalan Tuhan. Kita bangga dengan pekerjaan ini. Kita profesional. Kita punya etos kerja yang tinggi. Kita tidak pernah mogok, tidak pernah demo naik gaji, tidak pernah minta THR."
"Tapi hasilnya? Kita hanya menjadi penonton kebodohan manusia. Mereka berhasil membangun 'Neraka Dunia' sendiri, lebih bagus, lebih efisien, lebih rapi dari markas kita. Mereka punya birokrasi kesesatan yang lebih solid. Mereka punya teknologi dosa yang lebih maju. Mereka punya sistem kebencian yang lebih scalable."
"Kita... kita sudah obsolete. Sudah tidak relevan. Sudah waktunya pensiun."
(Semua setan menunduk. Beberapa menyeka air mata—yang anehnya, air mata setan itu api kecil yang jatuh dan membakar lantai.)
"Baiklah. Dengan ini, saya nyatakan..."
(Ia mengangkat palu sidang yang sudah retak.)
"SIDANG INI DI-SKORSING!"
(Palu dihantamkan. Kali ini tidak ada suara keras—hanya bunyi 'tuk' yang pelan, seperti paku terakhir yang menutup peti mati.)
"Sidang berikutnya kita adakan 100 tahun lagi, pada tahun 2126. Pada saat itu, mungkin—dan aku takut membayangkannya—manusia sudah menciptakan robot setan sendiri. Kecerdasan buatan yang bisa menggoda lebih efektif dari kita. Algoritma yang bisa memetakan dosa lebih akurat. Blockchain neraka yang bisa mencatat setiap keburukan manusia secara desentralisasi."
"Dan kita? Kita mungkin sudah benar-benar tidak diperlukan lagi. Mungkin Tuhan akan memaafkan kita—bukan karena kita bertobat, tapi karena kita sudah tidak berguna. Musuh yang tidak berbahaya, untuk apa dimusuhi?"
"Bubar! Semua pulang ke lubang masing-masing! Dan jangan lupa matikan api neraka kalau sudah tidak dipakai—kita harus hemat energi!"
____________
CATATAN PENUTUP
DARI SANG SUFI MABUK YANG MENYELUNDUPKAN NASKAH INI
"Jangan tanya saya bagaimana saya bisa menyusup ke sidang neraka dan merekam semua ini. Saya juga tidak tahu. Mungkin karena saya terlalu banyak minum kopi, atau terlalu sedikit tidur, atau karena saya sudah setengah gila—yang dalam tradisi sufi, adalah prasyarat untuk melihat kebenaran."
"Yang jelas, setelah membaca ini, saya hanya bisa bilang: manusia itu unik. Ia bisa menjadi lebih buruk dari setan, tapi juga bisa menjadi lebih baik dari malaikat. Pilihannya ada di tangannya. Bukan di tangan setan, bukan di tangan takdir, bukan di tangan pemerintah. Di tangannya sendiri."
"Jadi, kalau Anda merasa dunia ini sudah seperti neraka—jangan salahkan setan. Setan sudah menyerah. Lihatlah ke cermin. Dan tanyakan: siapa yang menciptakan neraka ini?"
"Lalu, kalau Anda berani, ambillah keputusan untuk menciptakan surga. Kecil-kecilan saja. Di rumah. Di tempat kerja. Di kolom komentar. Di hati."
"Itu lebih susah daripada menciptakan neraka, tentu saja. Tapi itulah seninya menjadi manusia. Setan tidak bisa melakukannya. Hanya kita yang bisa."
"Selamat mencoba."
