Di sebuah kampung di daerah Parepare, hiduplah sepasang pengantin baru. Rumah mereka sederhana, berdinding papan, beratap seng, dan malam itu suasananya begitu tenang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Keduanya baru saja naik ke atas kasur.

Sebelum tidur, mereka masih sempat bercengkerama. Obrolannya ringan, mulai dari urusan dapur, belanja besok, sampai pekerjaan yang harus diselesaikan keesokan harinya.

Tiba-tiba...

Sang suami mengernyitkan dahi.

Ia mencium bau yang sangat tidak enak.

Bau kentut.

Ia langsung menoleh ke arah istrinya.

Suami:

"Kita ga yang kentut, sayang?" (Apakah kamu yang kentut, sayang?) 

 

Sang istri langsung menggeleng cepat.

Istri:

"Ai, bukan saya. Kita' kapang?" (Ah, bukan saya. Sepertinya kamu yang kentut)

Suaminya ikut menggeleng sambil mengangkat tangan.

Suami:

"Ai, bukan saya. Wallahi ka!" (Sumpah, demi tuhan, bukan saya!)

Keduanya saling berpandangan.

Sama-sama bersikeras merasa tidak bersalah. Tidak ada yang mau mengaku.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu sang suami berkata dengan wajah serius.

Suami:

"Kalau bukan saya, bukan juga kita' yang kentut... berarti pencuri itu yang kentut."

Belum sempat istrinya tertawa...

Tiba-tiba...

Seorang lelaki melompat turun dari loteng tepat di hadapan mereka.

Dengan wajah panik, ia mengangkat kedua tangannya sambil merengek.

Pencuri:

"Ai... bukan saya kasian yang kentut. Sumpahkaq! Kandalaq metalkaq!"

Suami dan istrinya tersentak kaget, saling berpandangan.

Lalu keduanya tersenyum tipis.

Sang suami berkata pelan,

"Nah... kan kubilang memang bukan saya yang kentut."