: Dirja Wiharja
Ini pengalaman pribadi saya.
Atau paling tidak, pengalaman yang cukup nyata untuk diceritakan.
Saat itu dibuka audisi calon ustad.
Puluhan peserta berdatangan dari berbagai penjuru.
Termasuk saya.
Sejak pagi suasana sudah tampak serius.
Sebagian peserta sibuk menghafal ayat-ayat Alquran.
Sebagian lagi mengulang-ulang hadis.
Ada yang tampak komat-kamit melatih jawaban.
Ada yang menunduk sambil membuka kitab catatan.
Pokoknya suasana sangat religius.
Sangat khidmat.
Sangat menjanjikan masa depan ceramah yang cerah.
Sedangkan saya?
Saya malah sibuk membaca buku filsafat.
Sesekali membaca logika.
Kadang pindah ke novel.
Kalau mulai bosan, saya buka komik.
Singkatnya, sejak awal saya memang tampak salah ruangan.
Wawancara dimulai.
Satu demi satu peserta dipanggil.
Mereka keluar dengan wajah lega.
Tampaknya pertanyaan berjalan lancar.
Setiap pertanyaan langsung disambut ayat.
Setiap persoalan langsung disambut hadis.
Seolah seluruh jawaban sudah tersedia sebelum pertanyaannya selesai diajukan.
Akhirnya tibalah giliran saya.
Saya masuk.
Duduk.
Menatap para penguji.
Mereka menatap saya.
Suasana hening.
Lalu wawancara dimulai.
Ustad Penguji:
"Siapa Tuhan kita umat Islam?"
Saya:
"Saya."
Ustad Penguji:
"Saya ulangi.
Siapa Tuhan kita umat Islam?"
Saya:
"Saya."
Ustad Penguji:
"Anda mau jadi ustad atau tidak?"
Saya:
"Mau."
Ustad Penguji:
"Lalu kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan saya?"
Saya:
"Kan sudah saya jawab."
Ustad Penguji:
"Itu bukan jawaban."
Saya:
"Kalau begitu, apa jawaban yang semestinya?"
Ustad Penguji:
"Allah."
Saya:
"Oh...
Jadi itu yang ingin Bapak dengar?"
Sang penguji mulai menarik napas panjang.
Sejenis napas yang biasanya muncul ketika seseorang mulai menyesali pilihan hidupnya.
Ustad Penguji:
"Baik.
Berarti jawaban nomor satu Anda salah.
Sekarang pertanyaan kedua.
Bagaimana sifat Tuhan?"
Saya:
"Tergantung penafsiran."
Ustad Penguji:
"Ya silakan dijawab."
Saya:
"Kan sudah saya jawab."
Ustad Penguji:
"Itu bukan jawaban."
Saya:
"Kalau begitu, apa jawabannya?"
Ustad Penguji:
"Tuhan Mahaberkehendak.
Dia berkehendak atas segala sesuatu."
Saya:
"Salah."
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan kipas angin tampak ikut berpikir.
Ustad Penguji:
"Lho?
Kenapa Anda bilang salah?"
Saya:
"Kalau Tuhan benar-benar mengendalikan segala sesuatu, mengapa jawaban saya tidak bisa Dia kendalikan?"
Hening.
Panjang.
Sangat panjang.
Begitu panjang sampai saya sempat berpikir untuk membuka komik yang tadi belum selesai saya baca.
Ustad Penguji:
"!@#$%^&*()_+???"
Keterangan:
Macet total.
Dan begitulah.
Karier saya sebagai ustad berakhir bahkan sebelum dimulai.
Mungkin bukan karena saya tidak bisa menjawab.
Mungkin justru karena saya terlalu sibuk mempertanyakan jawaban.
Karena dalam banyak ujian, yang dicari bukanlah orang yang pandai bertanya.
Melainkan orang yang sudah hafal jawaban sebelum pertanyaan diajukan.
Dan mungkin itulah perbedaan paling tipis sekaligus paling menentukan antara pendidikan dan indoktrinasi:
Yang satu mengajarkan manusia untuk mencari jawaban, sedangkan yang lain mengajarkan manusia untuk takut kehilangan jawaban yang sudah dimilikinya.