: Dirja Wiharja
(Baca Dulu Sebelum Mengamuk)
Meski waktu sudah lewat pukul lima subuh, saya baru saja merebahkan badan di kasur.
Entah kenapa, sudah lama saya menjadi pelanggan setia insomnia.
Hidup saya tak jauh beda dengan vampir.
Malam merayap, siang mendengkur.
Tapi saya tidak pernah terlalu mempermasalahkannya.
Bahkan sering kali saya merasa lebih segar daripada para penggila tidur cepat.
Lebih bergairah daripada para pelari marathon yang bangun sebelum matahari terbit.
Dan begitulah cerita ini bermula.
"A'udzubillahi minasy syaithanir rajiim..."
Ah...
Kenapa suara ngaji keras sekali?
Orang mau tidur kok malah diganggu?
Kalau mau mengaji, ya mengaji saja.
Kenapa harus satu kampung ikut diberi tahu?
Daripada saya tidak jadi tidur, lebih baik saya cari sumber masalahnya.
Hanya perlu berjalan sekitar lima puluh langkah.
Saya sudah tiba di masjid.
"Eh, Rahmat! Rupanya kamu."
"Ada apa, Bang?"
"Ada apa, ada apa...
Itu mikrofon bisa dimatikan tidak?"
"Kenapa dimatikan, Bang? Saya dan teman-teman lagi mengaji bersama."
"Ya mengaji saja. Tidak perlu pakai mikrofon."
"Tapi ustad yang menyuruh, Bang."
"Saya tidak melarang kamu mengaji.
Yang saya persoalkan adalah kenapa harus sekeras itu."
"Memangnya kenapa, Bang? Dari dulu juga begitu. Di mana-mana orang mengaji di masjid pakai mikrofon."
"Itulah yang menurut saya perlu diubah."
"Apa salahnya?"
"Apa salahnya?
Orang lain bisa terganggu."
"Ini kan sudah subuh, Bang."
"Memangnya kalau sudah subuh kenapa?"
"Ya orang-orang sudah bangun."
"Kamu sudah survei satu kampung?
Kamu sudah cek semua rumah?
Saya sendiri baru mau tidur. Kamu tahu tidak?"
"Tapi ini ayat-ayat Allah, Bang. Justru menyejukkan jiwa. Kok Abang tidak suka mendengar ayat-ayat Allah?"
"Jangan sok mulia.
Saya sudah tahu itu ayat-ayat Allah.
Tapi suara yang keluar dari pengeras suara itu suara kamu.
Bukan suara Tuhan.
Jangan campur aduk."
"Lho, Bang. Kok bilang begitu? Apa Abang tidak takut kepada Allah? Sadarlah, Bang. Jangan bicara seperti itu tentang Alquran."
"Apa kamu bilang?"
Saya mendekat.
"Jangan bicara begitu tentang Alquran, Bang."
"Sini Alquranmu itu!"
Huaaah...!
PRAAAAK...!!!
"Bang?!"
"Abang berani melempar Alquran?"
"Sadar, Bang!"
"Abang sudah kerasukan setan!"
"Istighfar, Bang!"
"Abang bisa disesatkan oleh setan!"
PLAAAK...!!!
"Aduh!"
"Bapak?!"
"Kenapa Bapak menampar saya?"
Saya tertegun.
Menatap sekeliling.
Masjid.
Rahmat.
Mikrofon.
Alquran.
Semuanya lenyap.
Yang ada hanya kamar saya.
Kasur saya.
Dan bapak berdiri di samping ranjang.
"Apa yang terjadi?"
Saya mengusap wajah.
Masih bingung.
Masih setengah sadar.
Lalu bergumam pelan:
"Ha...? Jadi... saya cuma mimpi?"