Diogenes adalah seorang filsuf yang memilih hidup dengan cara yang hampir mustahil dipahami oleh kebanyakan orang. Ketika manusia berlomba mengumpulkan harta, mengejar jabatan, dan membangun nama besar, ia justru melepaskan semuanya. Ia hidup tanpa rumah megah, tanpa kekayaan, bahkan hanya memiliki sedikit sekali barang. Baginya, semakin sedikit yang dimiliki, semakin merdeka seseorang. Ia percaya bahwa kebahagiaan bukan lahir dari apa yang kita miliki, melainkan dari kemampuan untuk tidak diperbudak oleh keinginan.
Namun jangan bayangkan Diogenes sebagai pertapa yang muram atau pengkhotbah yang suka menggurui. Ia dikenal tajam, jenaka, berani, bahkan sering kali menyindir para penguasa dan kaum terpelajar dengan cara yang mengejutkan. Ia tidak takut berbicara jujur kepada siapa pun, termasuk kepada raja yang paling berkuasa di zamannya. Di balik penampilannya yang sederhana dan kehidupannya yang serba kekurangan, tersembunyi seorang manusia yang merasa dirinya jauh lebih kaya daripada mereka yang memiliki seluruh isi dunia. Bagi Diogenes, kebebasan batin adalah kekayaan tertinggi, dan orang yang tidak lagi membutuhkan apa pun adalah manusia yang sesungguhnya paling berkuasa.
Ketika Alexander Agung melakukan ekspedisi ke India, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Diogenes. Alexander memang sudah lama penasaran dengan sosok Diogenes. Memang begitulah, orang-orang yang sangat berbeda justru sering saling tertarik.
Pagi itu udara musim dingin begitu sejuk. Di tepi sungai, Diogenes tampak berbaring tanpa sehelai benang, menikmati hangatnya sinar matahari. Ia hidup sebagai seorang fakir yang tidak memiliki apa pun.
Di sisi lain berdirilah Alexander Agung, penguasa yang seolah memiliki segalanya.
Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alexander justru merasa miskin.
Diogenes terlihat begitu kaya dalam kesederhanaannya. Wajahnya memancarkan ketenangan, kelembutan, dan kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Seluruh dirinya seakan memancarkan kegembiraan.
Alexander berkata,
"Aku sangat senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku ingin memberimu hadiah."
Diogenes tersenyum lalu menjawab,
"Hadiah apa yang bisa kau berikan? Aku tidak melihat kau memiliki sesuatu yang benar-benar kubutuhkan. Bahkan, menurutku justru kaulah yang miskin. Kalau boleh, aku malah ingin memberimu sesuatu. Aku ingin memberimu Tuhan, karena hanya itulah yang benar-benar kumiliki."
"Benar, kau adalah seorang kaisar yang besar. Tetapi semua yang bisa kau berikan tidak pernah menjadi kebutuhanku. Itu hanya akan menjadi beban yang tidak perlu bagiku."
"Namun kalau kau benar-benar ingin memberiku sesuatu, tolong bergeser sedikit ke samping. Tubuhmu menghalangi sinar matahari. Jika kau melakukan itu, aku akan berterima kasih seumur hidup."
Jawaban itu benar-benar mengejutkan Alexander.
Baru kali itu ia bertemu seseorang yang sama sekali tidak membutuhkan apa pun darinya. Diogenes sudah merasa utuh. Sudah merasa cukup.
Saat hendak berpamitan, Alexander berkata,
"Suatu hari nanti, setelah aku berhasil menaklukkan seluruh dunia, aku juga ingin hidup seperti dirimu."
Diogenes tertawa kecil.
"Kenapa harus menunggu sampai dunia berhasil kau taklukkan?" katanya.
"Lihatlah aku. Aku tidak pernah menaklukkan dunia, tetapi aku sudah bahagia. Kau juga bisa bahagia mulai sekarang."
"Tempat ini cukup luas untuk kita berdua. Lepaskan saja pakaian kebesaranmu, duduklah di sampingku, nikmati hangatnya matahari pagi, dan beristirahatlah."
Alexander menggeleng.
"Aku memang ingin beristirahat... tetapi bukan sekarang. Setelah dunia berhasil kutaklukkan."
Diogenes memandangnya dengan tenang.
"Tidak ada seorang pun yang bisa beristirahat 'nanti'. Orang hanya bisa beristirahat 'sekarang'. Besok tidak pernah benar-benar datang."
"Lagipula, siapa yang pernah berhasil menaklukkan seluruh dunia? Ketika seseorang merasa dirinya hampir menjadi penakluk, hidupnya sudah keburu habis. Kau akan mati di tengah perjalanan. Kau tidak akan pernah sempat menikmati istirahat yang kau impikan."
Dan memang begitulah yang terjadi.
Alexander tidak pernah kembali ke negerinya.
Dalam perjalanan pulang dari India, setelah berbagai penaklukannya, ia meninggal dunia di tengah jalan.
