Di sudut sebuah kampung, ada sebatang pohon jambu yang tumbuh di pinggir jalan. Pohonnya rindang, buahnya lebat, dan sudah jadi langganan anak-anak kampung buat nyolong... eh, maksudnya, "icip-icip."
Sore itu, sehabis Ashar, seorang anak kecil sedang bertengger di atas pohon jambu.
Celana pendek saja yang dipakainya.
Baju tidak ada.
Sambil duduk di dahan, ia memetik jambu satu per satu, lalu dimakannya dengan lahap.
"Kress... kress..."
Nikmat sekali.
Tak lama kemudian, lewatlah Pak Ustaz sepulang dari masjid.
Begitu melihat anak itu, beliau berhenti.
"Eh, Nak... turunki dulu sebentar."
"Iye, Pak."
Anak itu pun turun sambil masih menggigit jambu.
Pak Ustaz memperhatikannya dari kepala sampai kaki.
"Nak, kenapa tidak pakai baju? Nanti digigit semut. Atau kena bewwaq. Gatal sekali itu."
Anak itu menjawab dengan polos.
"Tidak ada bajuku, Pak."
Wajah Pak Ustaz langsung iba.
Beliau merogoh saku baju koko, lalu mengeluarkan selembar uang merah seratus ribu.
"Nih. Pakai beli baju, na."
Mata anak itu langsung berbinar.
"Iyye, Pak Ustaz. Terima kasih!"
Uang itu diterimanya, lalu ia berlari pulang sambil mengipas-ngipaskan uang merah itu ke udara seperti orang baru menang undian.
Sesampainya di rumah, ibunya langsung curiga.
"Eh! Dari mana ko dapat uang?"
"Nakasika Pak Ustaz."
"Jangan-jangan mencuri ko?"
"Tidak, Maq! Nakasi betulangka Pak Ustaz"
"Kenapa bisa nakasiko uang?"
Anak itu pun menceritakan semuanya. Mulai dari memanjat pohon jambu, tidak pakai baju, sampai Pak Ustaz merasa kasihan lalu memberinya uang untuk membeli baju.
Ibunya mengangguk-angguk.
"Oh..."
Lega rasanya mengetahui anaknya tidak mencuri.
Namun, entah kenapa...
Dia terus memikirkan cerita anaknya.
Besoknya...
Jam menunjukkan waktu yang hampir sama.
Ashar baru saja selesai.
Diam-diam si ibu pergi ke pohon jambu yang sama.
Ia memanjat pohon itu.
Bedanya...
Ia tidak memakai busana sama sekali.
Duduklah ia di atas dahan, pura-pura memetik jambu sambil sesekali melirik ke arah jalan.
"Sebentar lagi lewat..."
Benar saja.
Tak lama kemudian, Pak Ustaz muncul berjalan pulang dari masjid.
Begitu mendongak...
"Astaghfirullah!"
Pak Ustaz langsung menutup mata dengan satu tangan.
"Bu! Turunki, Bu! Apa kita' bikin di situ?"
Si ibu pun turun dan malah tersenyum penuh harap.
Pak Ustaz menggeleng-geleng kepala, lalu merogoh sakunya.
Si ibu dalam hati berbunga-bunga.
"Nah... keluar mi itu uang merah..., minimal tiga lembar!"
Ternyata yang keluar...
Bukan uang merah seratus ribu.
Melainkan selembar uang Pattimura seribu rupiah.
Pak Ustaz menyerahkannya sambil berkata,
"Ini, Bu... pakai beli silet cukur dulu!"
