: Dirja Wiharja
Peringatan:
Dilarang membawa buku catatan.
Dilarang membawa perpustakaan.
Dilarang membawa khotbah.
Yang direkomendasikan hanya satu:
Otak.
Menurut diri saya yang lain, ada tiga jenis Tuhan yang paling populer dalam sejarah kesadaran manusia.
Dan menariknya, semakin manusia berpikir, semakin Tuhan-Tuhan itu berguguran satu demi satu.
Pertama: Tuhan Berhala
Tuhan berhala adalah Tuhan yang memiliki wujud inderawi.
Tuhan yang bisa dilihat, disentuh, dipajang, dicuci, dipindahkan, bahkan kadang-kadang diperbaiki jika retak.
Sebagian sudah tersedia di alam:
matahari, api, gunung, angin, pohon, dan berbagai fenomena yang pernah membuat manusia takjub.
Sebagian lagi diproduksi sendiri oleh manusia:
patung batu, tanah liat, emas, kayu, semen, bahkan mungkin adonan kue jika keadaan mendesak.
Masalah utama Tuhan jenis ini cukup sederhana.
Ia terlalu pasif.
Doa tidak dijawab.
Keluhan tidak ditanggapi.
Permohonan tidak dibalas.
Bahkan ketika patungnya dihancurkan oleh manusia sendiri, Tuhan itu tetap diam seperti pegawai negeri menjelang pensiun.
Tidak melawan.
Tidak protes.
Tidak menggugat.
Akibatnya manusia mulai curiga.
Lalu mulai berpikir.
Dan begitu pikiran mulai bekerja, masa pensiun para dewa berhala pun dimulai.
Mereka diturunkan dari singgasana.
Dipensiunkan secara tidak hormat.
Dan manusia mulai mencari Tuhan yang lebih canggih.
Kedua: Tuhan Imajiner
Ketika Tuhan tidak lagi bisa ditemukan di batu, pohon, gunung, atau patung, manusia memindahkannya ke tempat yang lebih aman:
ke dalam pikiran.
Ke dalam imajinasi.
Ke dalam dunia konsep.
Di sinilah lahir Tuhan imajiner.
Tuhan yang tidak lagi terbuat dari batu, tetapi dari gagasan.
Tidak lagi dipahat dengan pahat, tetapi dengan bahasa.
Tidak lagi dibentuk oleh tangan, tetapi oleh harapan.
Menariknya, meskipun manusia bersepakat menulis kitab-kitab tebal tentang Tuhan, membuat rumusan-rumusan resmi, mendefinisikan sifat-sifat-Nya secara detail, bahkan memperdebatkannya selama ribuan tahun, Tuhan tetap tidak pernah benar-benar seragam.
Karena setiap orang diam-diam membawa Tuhan versinya sendiri.
Tuhan seorang miskin berbeda dengan Tuhan seorang miliarder.
Tuhan seorang yang patah hati berbeda dengan Tuhan seorang pemenang.
Tuhan seorang korban berbeda dengan Tuhan seorang penguasa.
Ketika manusia merasa lemah, Tuhan dibayangkan Mahakuat.
Ketika manusia merasa bersalah, Tuhan dibayangkan Maha Pengampun.
Ketika hidup terasa tidak adil, Tuhan dibayangkan Maha Adil.
Ketika hidup terasa kacau, Tuhan dibayangkan sedang menguji kesabaran.
Singkatnya:
Tuhan menjadi layar raksasa tempat manusia memproyeksikan dirinya sendiri.
Semakin lama diperhatikan, semakin sulit membedakan:
yang sedang dibicarakan itu Tuhan,
atau hanya bayangan manusia yang diperbesar hingga memenuhi langit.
Ketiga: Tuhan Mati
Pada suatu titik, sebagian manusia mulai kelelahan.
Mereka lelah membangun Tuhan.
Lelah mendefinisikan Tuhan.
Lelah memperdebatkan Tuhan.
Lelah membela Tuhan.
Lelah memusuhi sesama manusia demi Tuhan.
Dan yang paling melelahkan:
mereka lelah dengan Tuhan-Tuhan ciptaan pikiran mereka sendiri.
Maka mulailah terjadi pembunuhan besar-besaran.
Bukan pembunuhan terhadap Tuhan.
Melainkan pembunuhan terhadap segala konsep tentang Tuhan.
Segala definisi.
Segala klaim.
Segala kepastian.
Segala ilusi bahwa manusia benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakannya.
Mereka mulai mencampakkan kesombongan metafisis.
Mereka mulai curiga bahwa sebagian besar pembicaraan tentang Tuhan mungkin hanyalah percakapan manusia dengan cermin.
Mereka mulai menyadari bahwa banyak teori tentang Tuhan lebih banyak berbicara tentang manusia daripada tentang Tuhan itu sendiri.
Dan pada titik itu, mereka tidak menjadi arogan.
Mereka justru menjadi sunyi.
Mereka berhenti berteriak.
Berhenti menggurui.
Berhenti mengklaim.
Berhenti menjual tiket surga.
Berhenti mengancam dengan neraka.
Mereka hanya diam.
Hening.
Takjub.
Pasrah di hadapan misteri yang tidak lagi bisa dipenjara oleh kata-kata.
Lalu dengan kerendahan hati yang baru mereka temukan setelah sekian lama berkelahi dengan langit, mereka mengucapkan satu kalimat sederhana:
"Tuhan? Saya tidak tahu."
Dan mungkin di situlah paradoks terbesar itu bersembunyi:
Ketika orang fanatik berkata bahwa ia sudah mengetahui Tuhan dengan pasti, sementara orang yang terus mencari justru berakhir pada pengakuan bahwa ia tidak tahu.
Lalu siapakah yang sebenarnya lebih dekat kepada kebenaran:
mereka yang merasa telah sampai,
atau mereka yang akhirnya sadar bahwa misteri mungkin terlalu luas untuk dimiliki oleh pikiran manusia?