Sufi Darurat:
"Lapor, Han. Izin menyampaikan masalah penting bin genting! Ini sudah maha gawat bin mega darurat! Tidak bisa ditunda-tunda lagi."

Tuhan:
"Santai. Duduk dulu yang tenang. Kalau sudah nyaman, sekarang sebutkan persoalan yang kau maksud itu."

Sufi Darurat:
"Ampun, Han. Ini perihal kiai dan ustad itu. Pasti Engkau sudah tahu melalui sifat Maha-Mu. Mereka yang seharusnya menjadi pewaris budi pekerti nabi-nabi-Mu, mereka yang mestinya menjadi teladan luhur wali-wali-Mu, justru merekalah yang berbuat bejat dan menjijikkan.

Mereka melecehkan dan memperkosa santriwati. Ada sekitar 50-an. Dan yang belum ketahuan, Wallahu a'lam, hanya Engkau Yang Maha Tahu.

Tolong beritahu, syariat apa yang adil dan paling pantas untuk para pemerkosa santriwati ini? Aku butuh hukum yang menggetarkan hawa nafsu mereka, yang bisa menghantam nurani dan kelamin mereka, yang membuat kesadaran mereka berdarah-darah.

Aku ingin hukuman yang sadis, adil, dan setimpal. Agar predator dan bajingan religius yang lain, yang belum ketahuan, yang masih bersembunyi, juga turut gemetar, merinding, terkencing-kencing ketakutan, dan segera tobat."

Tuhan:
"Tenanglah, hamba-Ku. Di bumi sana sudah ada hukum negara Indonesia yang mengatur dan memutuskan. Biarkan hukum manusia bekerja."

Sufi Darurat:
"Tidak setimpal, Han! Engkau tahu kelakuan sebagian aparat. Mereka sangat mudah disuap. Paling pelaku hanya dipenjara di ruang yang nyaman beberapa hari. Setelah itu, mereka keluar melenggang santai dengan label 'khilaf-salah', lalu mengulangi lagi. Lagi dan lagi. 

Keadilan harus punya amuk cakar yang sangar agar mereka yang masih bersembunyi di balik sorban dan peci gemetar ketakutan!"

Malaikat Jibril:
"Izin, Ya Malik. Saya punya usul. Bagaimana jika kebiri saja? Potong saja anunya itu. Biarlah alat yang mereka pertuhankan itu tercampak membusuk."

Malaikat Mikail:
"Atau biarkan mereka tetap di penjara, namun bisikkan kepada narapidana senior agar menyambut mereka dengan ritual bogem dan 'onani balsem'. Biar mereka tahu rasanya panas neraka menyala-membakar di tempat paling vitalnya."

Sufi Darurat:
"Pokoknya, hukumannya harus setimpal! Walaupun barangkali tidak bisa mengembalikan senyum dan tawa semua korban. Sebab aku tahu anak-anak itu pasti akan mengalami trauma. Mereka kehilangan rasa percaya diri, dihantui ketakutan, dan membawa luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh seumur hidupnya.

Sebagian dari mereka mungkin akan menangis diam-diam setiap malam. Sebagian lagi akan membenci tubuhnya sendiri. Ada yang kehilangan keberanian untuk menatap wajah orang lain. Ada yang menjadi curiga kepada semua laki-laki. Ada yang merasa dirinya kotor, padahal mereka sama sekali tidak bersalah.

Mungkin ada yang sulit tidur karena mimpi buruk terus datang. Mungkin ada yang gemetar ketika mendengar suara yang mengingatkan mereka kepada pelakunya. Mungkin ada yang kehilangan semangat belajar, kehilangan cita-cita, bahkan kehilangan kepercayaan kepada agama karena yang melukai mereka justru orang yang mengatasnamakan agama.

Dan yang paling menyakitkan, Han, sebagian dari mereka mungkin akan memikul luka itu sendirian. Mereka takut bercerita. Takut tidak dipercaya. Takut disalahkan. Takut dicap buruk oleh masyarakat.

Sementara pelakunya masih bisa makan dengan tenang, tidur dengan nyenyak, tersenyum di depan kamera, dan berceramah tentang akhlak serta surga.

Bagaimana mungkin aku tidak marah melihatnya?"

Tuhan (tersenyum teduh):
"Aku ini Ar-Rahman, namun Aku juga Al-Adl. Baiklah kalau begitu. Melihat kehancuran jiwa anak-anak yang menjadi korban itu, Aku memutuskan untuk menarik kembali napasnya saja. Cabut nyawa kiai dan ustad itu sekarang."

Izrail (Malaikat Maut):
"Siap, Gusti. Tapi ini mau lewat jalur apa? Suntik mati? Kursi listrik? Tali gantung? Lewat secangkir kopi sianida? Atau timah panas di kepala mereka?"

Iblis (menyembul dari jendela neraka, menyeringai):
"Aduh, kalian ini kaku sekali! Bebaskan saja dia! Lepaskan si pemerkosa itu ke jalanan."

Sufi Darurat:
"Kau mau melindunginya, Terkutuk?!"

Iblis:
"Bukan. Justru aku ingin berpesta pora. Biarkan dia bebas, lalu aku akan meniupkan api ke telinga massa. Aku provokasi amarah mereka sampai mendidih.

Rakyat akan menyeretnya, menelanjanginya, dan memukulinya di aspal panas sampai ruhnya keluar dengan cara yang paling hina, paling sakit, paling perih, dan paling mengerikan.

Manusia kalau sudah jadi 'aku', jauh lebih bengis dan ganas daripada aku, kan? Gimana? Sepakat?"

Hening menyelimuti Arsy.

Terlihat Sufi Darurat dan para malaikat yang hadir menggeleng-geleng bingung dan merasa ngeri membayangkannya.

Sementara Tuhan tersenyum sambil mengangguk-anggukkan mahakepala-Nya. 
-------------

Tiba-tiba...

Bruk!

Sufi Darurat terjatuh dari ranjang-kasurnya. Terbangun. Tersesat. Heran. Setelah mengucek mata dan melihat sekeliling kamar, ia sadar bahwa semua itu hanyalah mimpi.

Ia menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Lalu kembali roboh dan rebah melanjutkan tidurnya.

Sementara di suatu tempat, entah di mana, entah kenapa, beberapa pemerkosa mendadak susah tidur malam itu.