Hari itu, Ustadz Hafiz sedang berjalan kaki menuju musala untuk mengajar santri-santrinya. Udara sore terasa sejuk, dan ia menikmati setiap langkahnya sambil menggumamkan zikir. Tangan kirinya sibuk memutar tasbih, sedangkan tangan kanannya khusyuk memeluk Kitab.

Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah rumah sederhana dengan kombinasi cat berwarna peach dan light pink.

Di teras rumah itu, seorang perempuan berdiri dengan pakaian yang sangat ketat dan tipis. Wajahnya cantik dengan riasan tebal, dan gerak-geriknya terlihat genit. Begitu melihat Ustadz Hafiz, perempuan itu segera menyapa dengan suara manis-manis manja.

"Pak Ustadz, Pak Ustadz! Tolong, saya ada masalah," katanya sambil melambai.

Ustadz Hafiz berhenti dan menoleh.

"Ada apa, Bu?" tanyanya sopan, sambil menundukkan pandangan.

"Lampu kamar saya mati. Saya sudah beli lampu baru, tapi tidak bisa memasang sendiri. Tolong pasangin ya, Pak. Saya takut kesetrum," ujar perempuan itu sambil merengek.

Ustadz Hafiz berpikir sejenak. Menolong sesama adalah kebaikan, apalagi ia seorang ustadz yang diajarkan untuk menolong orang yang sedang membutuhkan.

"Baiklah, Bu. Saya bantu," jawabnya akhirnya.

Perempuan itu tersenyum lebar lalu membukakan pintu. Ustadz Hafiz masuk, dan tanpa diduga, perempuan itu langsung memintanya masuk ke kamar.

Di dalam kamar yang remang-remang, Ustadz Hafiz hanya fokus pada lampu di langit-langit. Ia segera mengambil kursi plastik dan mulai memasang lampu itu dengan cekatan.

Beberapa menit kemudian, lampu pun menyala.

"Sudah, Bu. Nyala," kata Ustadz Hafiz.

"Terima kasih banyak, Pak Ustadz," kata perempuan itu sambil mendekat. "Maaf, saya tidak punya uang untuk membayar. Tapi saya ingin memberi imbalan lain."

Tanpa malu-malu, perempuan itu mulai membuka kancing bajunya.

"Tubuh saya, Pak. Ini yang bisa saya beri."

Ustadz Hafiz langsung menggeleng keras.

"Tidak, Bu. Jangan! Haram! Saya bantu ikhlas karena Allah. Tidak perlu bayaran apa pun."

Namun perempuan itu memblokir pintu.

"Pak, saya tidak enak dan merasa malu kalau tidak membalas budi. Pokoknya harus!"

Ustadz Hafiz tetap menolak dan mencoba membuka pintu. Perempuan itu semakin ngotot.

"Kalau Bapak tidak mau, saya akan teriak bahwa Bapak mau memperkosa saya! Orang-orang akan datang dan menghakimi Bapak! Bapak akan dihajar massa!"

Ustadz Hafiz terperanjat. Ancaman itu sungguh keji. Ia tahu betapa brutalnya massa jika terhasut. Jantungnya berdebar. Dalam ketakutan dan tekanan, ia akhirnya terdiam. Perempuan itu menariknya ke tempat tidur.

Akhirnya, terjadilah yang seharusnya tidak terjadi. Adegan demi adegan terjadi. Satu ronde, dua ronde, tiga ronde.

Singkat kata, di ronde keempat, perempuan itu sudah kelelahan dan kesakitan.

"Berhenti, Pak! Cukup!" teriaknya kewalahan.

Namun Ustadz Hafiz, yang sejak awal terpaksa, kini seperti kerasukan nafsu. Setan birahi sudah menguasainya. Ia terus melanjutkan. Ia tidak peduli walaupun perempuan itu terus memintanya berhenti. Ia terus dan terus menggenjot.

Perempuan itu panik lalu meraih sebuah buku tebal yang tergeletak di kasur di sampingnya—kitab milik Ustadz Hafiz yang dibawanya tadi.

"Berhenti, atau saya robek ini!" ancamnya.

Ustadz Hafiz hanya mendengus.

"Robek saja. Di pasar banyak dijual," ucapnya dengan napas terengah-engah, tersenyum sinis sambil melanjutkan adegan laknat itu.