Dalam bahasa Arab, diabetes mellitus disebut al-sukkarī (السكري), sebuah penyakit kronis yang berkaitan dengan ketidakseimbangan gula dalam tubuh. Secara medis, penyakit ini ditandai oleh tingginya kadar glukosa dalam darah akibat gangguan produksi atau penggunaan insulin, yang dalam jangka panjang dapat merusak berbagai organ vital manusia.

Namun, tulisan ini bukanlah kuliah kedokteran. Penjelasan medis dapat ditemukan dengan mudah di berbagai sumber. Yang menarik justru bukan penyakitnya, melainkan simbolisme yang tersembunyi di balik akar kata Arab yang berkaitan dengannya: sukkar (سكر, gula), sakrān (سكران, mabuk), al-sukkarī (السكري, diabetes), dan sakarāt al-maut (سكرات الموت, sakratulmaut).

Tentu saja ini bukan kajian etimologi yang ketat. Ini adalah permainan makna, sebuah cara melihat kehidupan melalui bahasa. Sebab terkadang bahasa menyimpan kemungkinan-kemungkinan refleksi yang tidak selalu ditemukan dalam buku-buku ilmiah.

Manusia hidup dari energi. Apa pun yang dimakan dan diminum pada akhirnya akan diproses menjadi bahan bakar bagi tubuh. Dari energi itulah lahir gerak, kerja, pikiran, ambisi, mimpi, bahkan lamunan. Dalam pengertian tertentu, kehidupan biologis manusia memang ditopang oleh "kemanisan" yang tersembunyi di dalam dirinya.

Tetapi sejarah manusia menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukanlah kekurangan rasa manis, melainkan ketidakmampuan mengendalikan rasa manis itu.

Peradaban modern adalah peradaban konsumsi. Kita hidup di tengah banjir makanan, minuman, hiburan, informasi, dan berbagai bentuk kenikmatan yang tersedia hampir tanpa batas. Akibatnya, manusia modern lebih sering sakit karena kelebihan daripada kekurangan. Yang membunuh bukan lagi kelaparan, melainkan ketidakmampuan membatasi diri.

Di sinilah metafora gula menjadi menarik.

Gula bukan sekadar zat kimia. Ia dapat dibaca sebagai simbol seluruh kenikmatan duniawi. Harta, pujian, kekuasaan, popularitas, makanan, bahkan pengetahuan dapat berubah menjadi "gula" ketika manusia kehilangan kemampuan mengaturnya.

Segala sesuatu yang manis selalu membawa godaan untuk ditambah.

Dan segala sesuatu yang berlebihan pada akhirnya mengandung racun bagi dirinya sendiri.

Para filsuf sejak zaman Yunani telah berbicara tentang pentingnya moderation atau jalan tengah. Aristoteles menyebut kebajikan sebagai kemampuan menjaga keseimbangan antara dua ekstrem. Dalam tradisi Islam, gagasan serupa hadir dalam konsep wasathiyyah, yakni sikap pertengahan yang menjauhkan manusia dari keterlaluan.

Karena itu, persoalan makan dan minum pada akhirnya bukan semata soal halal dan haram. Persoalannya adalah sejauh mana manusia mampu mengelola energi kehidupannya agar tetap berkelanjutan. Sebab sesuatu yang halal sekalipun dapat berubah menjadi sumber kerusakan apabila dikonsumsi tanpa kendali.

Mungkin inilah makna filosofis yang dapat dibaca dari permainan kata antara sukkar dan sakarāt.

Apa yang memberi kehidupan dalam kadar yang tepat dapat menjadi penyebab kehancuran ketika melampaui batas.

Namun para sufi melangkah lebih jauh.

Mereka berbicara tentang sukr atau kemabukan spiritual. Berbeda dengan mabuk karena khamar atau kenikmatan dunia, kemabukan ini lahir dari pengalaman kedekatan dengan Yang Ilahi. Ketika ego melemah, ketika hasrat-hasrat dunia tidak lagi mendominasi kesadaran, muncul suatu keadaan yang oleh para sufi disebut sebagai "mabuk cinta".

Dalam kondisi itu, manusia tidak kehilangan kesadaran. Justru kesadarannya menjadi lebih jernih. Yang mabuk bukan akalnya, melainkan egonya. Yang runtuh bukan pikirannya, melainkan kesombongannya.

Menariknya, jalan menuju kemabukan spiritual itu justru ditempuh melalui pengendalian diri, bukan pemuasan diri.

Di sinilah puasa memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menahan lapar dan haus.

Puasa adalah latihan eksistensial untuk membuktikan bahwa manusia lebih besar daripada keinginannya. Bahwa manusia tidak harus menuruti setiap dorongan yang muncul dalam dirinya. Bahwa kebebasan sejati bukanlah kemampuan mendapatkan semua yang diinginkan, melainkan kemampuan mengatakan "cukup" kepada apa yang sebenarnya bisa dimiliki.

Dalam bahasa tasawuf, puasa adalah cara mendidik nafs agar tidak menjadi penguasa kehidupan.

Ketika tubuh dibatasi, kesadaran memperoleh ruang untuk bernapas.

Ketika konsumsi berkurang, makna sering kali bertambah.

Ketika rasa manis dunia dikurangi, manusia mulai menemukan rasa manis yang lain.

Karena itu, jika seseorang mampu mengendalikan "gula" dalam makna simboliknya, ia bukan hanya sedang menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga sedang melatih kesehatan jiwanya.

Lalu bagaimana dengan sakaratulmaut?

Dalam imajinasi banyak orang, sakaratulmaut selalu dibayangkan sebagai sesuatu yang menakutkan: momen penuh rasa sakit ketika kehidupan berakhir. Ketakutan itu lahir karena manusia terlalu melekat pada segala yang manis di dunia.

Padahal dari sudut pandang sufistik, kematian bukan sekadar akhir kehidupan biologis. Kematian adalah puncak pelepasan. Ia adalah saat ketika seluruh kepemilikan, identitas, jabatan, dan kenikmatan yang selama ini dianggap milik kita akhirnya harus dikembalikan.

Yang membuat kematian terasa pahit bukanlah kematian itu sendiri, melainkan keterikatan kita terhadap apa yang ditinggalkan.

Karena itu para sufi sering berbicara tentang "mati sebelum mati" (mūtū qabla an tamūtū). Maksudnya bukan mati secara fisik, melainkan mematikan dominasi ego dan keterikatan sebelum kematian biologis datang.

Orang yang telah belajar melepaskan akan menemukan bahwa kematian tidak selalu menakutkan. Ia menjadi seperti kepulangan setelah perjalanan panjang.

Dalam pengertian ini, sakaratulmaut bukanlah lawan dari kemanisan hidup, melainkan penyempurnaannya. Sakaratulmaut adalah kematian yang manis.

Sebab hanya orang yang mampu mengendalikan yang manis selama hidup yang dapat menerima kematian tanpa kepanikan.

Maka permainan kata antara sukkar (gula), sukr (kemabukan), dan sakarāt al-maut (sakratulmaut) sesungguhnya mengandung pelajaran yang sederhana namun mendalam: hidup bukan tentang mengejar sebanyak mungkin rasa manis, melainkan tentang belajar mengelola rasa manis itu.

Dan mungkin rahasia hidup yang baik terletak di sana.

Bukan pada banyaknya yang kita nikmati, tetapi pada kemampuan untuk tidak diperbudak oleh kenikmatan itu.

Sebab kematian yang paling menakutkan bukanlah berhentinya tubuh dari kehidupan, melainkan ketidakmampuan jiwa melepaskan apa yang selama ini dianggap miliknya.

Puasa, pengendalian diri, dan kesadaran akan keterbatasan hidup adalah cara manusia belajar menghadapi keduanya: manisnya hidup dan manisnya kematian.