: Dirja Wiharja


Saya Orang Terhebat di Dunia Ini...!!!

Yang Membantah? Kafir!

Sudah terbukti bahwa saya adalah orang terhebat di dunia ini.

Siapa pun harus mengakuinya.

Jika ada yang tidak mengakui, berarti ada yang salah pada dirinya.


Non-Saya:

Apa buktinya bahwa Anda orang hebat?

Saya:

Buktinya sederhana.

Saya sendiri mengakui bahwa saya hebat.

Non-Saya:

Tunggu dulu.

Itu hanya membuktikan bahwa Anda menganggap diri Anda hebat.

Bukan membuktikan bahwa Anda memang hebat.

Harus ada ukuran yang bisa diperiksa bersama.

Saya:

Justru ukuran yang paling tepat untuk mengukur saya adalah saya sendiri.

Kalau menggunakan ukuran lain, itu bukan lagi mengukur saya.

Non-Saya:

Tetapi mengapa Anda begitu ngotot menyatakan diri paling hebat?

Saya:

Karena Tuhan.

Saya sudah ditakdirkan menjadi manusia terhebat sejak lahir.


Non-Saya:

Lho, itu kan pengakuan Anda sendiri.

Belum tentu benar.

Apalagi Anda meminta seluruh dunia mengakuinya.

Saya:

Tidak mungkin salah.

Tuhan telah menetapkan saya sebagai manusia terhebat.

Maka apa pun yang berasal dari saya juga hebat.

Tulisan saya hebat.

Pikiran saya hebat.

Pendapat saya hebat.

Kalau Anda mengatakan tulisan saya tidak hebat, berarti Anda sedang mengatakan Tuhan keliru.

Benar begitu, kan?


Non-Saya:

Baiklah.

Saya setuju bahwa keberadaan Anda adalah bagian dari kenyataan yang melibatkan Tuhan, alam, dan orang tua Anda.

Tetapi tulisan yang Anda buat tetap hasil pemikiran Anda sendiri.

Di sana ada unsur pengetahuan, pengalaman, keterbatasan, bahkan kemungkinan kesalahan.

Saya:

Nah!

Di situlah kesalahan Anda.

Anda tidak mau percaya bahwa saya hebat.

Percaya dulu.

Nanti Anda akan menemukan sendiri buktinya.

Kalau sejak awal tidak percaya, Anda tidak akan pernah melihat kehebatan saya.


Non-Saya:

Masalahnya justru di situ.

Anda meminta saya percaya sebelum ada bukti.

Padahal biasanya orang percaya setelah menemukan alasan yang cukup.

Saya:

Karena Anda terlalu mengandalkan logika.

Padahal kehebatan saya melampaui logika.


Non-Saya:

Kalau begitu apa ukuran kehebatan Anda?

Saya:

Pengakuan saya sendiri.

Non-Saya:

Tetapi banyak orang membaca tulisan Anda dan menganggap isinya keliru.

Saya:

Mereka keliru karena tidak percaya saya hebat.

Kalau mereka percaya saya hebat, mereka akan tahu bahwa tulisan saya hebat.


Non-Saya:

Ada sebuah pepatah:

Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik.

Jika buahnya buruk, biasanya ada masalah pada pohonnya.

Saya:

Hahaha...

Anda pintar sekali mencari alasan.

Mana mungkin Tuhan salah?

Kalau Tuhan sudah menetapkan saya hebat, maka mustahil saya tidak hebat.

Jaminannya sudah mutlak.


Non-Saya:

Apa buktinya bahwa Tuhan pernah mengatakan semua itu?

Saya:

Saya mendengarnya sendiri.

Non-Saya:

Tapi saya tidak mendengarnya.

Saya:

Karena Anda tidak percaya.

Di situlah masalahnya.


Non-Saya:

Bagaimana saya bisa percaya kalau tidak ada bukti?

Saya:

Sudahlah.

Ini soal keyakinan.

Kalau Anda tidak yakin, Anda tidak akan pernah percaya.

Dan kalau tidak percaya, Anda tidak akan pernah menemukan bukti.

Padahal buktinya sudah ada:

Saya mengaku bahwa saya hebat.

Mengapa Anda malah mencarinya ke mana-mana?

Kalau ingin membuktikan kehebatan saya, carilah dalam pengakuan saya sendiri.

Jangan mencarinya di luar.

Karena di luar diri saya memang tidak ada yang perlu dibuktikan.

Sampai kiamat pun Anda tidak akan menemukannya.

Mengerti?


Non-Saya:

Sebentar...

Jadi bukti bahwa Anda hebat adalah karena Anda mengatakan diri Anda hebat.

Lalu alasan saya harus percaya adalah karena Anda mengatakan bahwa saya harus percaya.

Dan kalau saya tidak percaya, itu dianggap bukti bahwa saya salah.

Begitu?

Saya:

Nah!

Akhirnya Anda mulai mengerti.


Non-Saya:

(Macet total...)

Error 404.

Logika tidak ditemukan.


Dan mungkin di sinilah lahir pertanyaan yang paling penting:

Apakah sesuatu menjadi benar karena memang benar, ataukah hanya dianggap benar karena kita sejak awal dilarang meragukannya?