: Dirja Wiharja
Saya Tidak Butuh Agama...!!!
(Semoga Anda Mengerti)
"Jadi Anda ini tidak punya agama?"
Siapa bilang?
Saya seorang Muslim.
"Jadi agama Anda Islam?"
Ya.
Memangnya ada yang salah?
"Lalu apa maksud judul tulisan ini?"
Masa masih belum mengerti juga?
Baiklah.
Kalau begitu, pasang dulu sabuk pengaman Anda.
Karena mungkin kita sedang berbicara tentang sesuatu yang sering disalahpahami.
Benar, saya seorang Muslim.
Tetapi saya tidak membutuhkan keislaman versi Anda.
Apakah Anda tersinggung?
Mengapa harus tersinggung?
Saya hanya sedang menjelaskan cara saya menghayati agama.
Secara administratif, pada kartu identitas saya tertulis Islam.
Secara genealogis, saya lahir dari keluarga Muslim.
Secara sosial, saya dikenal sebagai seorang Muslim karena menjalankan berbagai ritual keagamaan dalam Islam.
Dan secara pribadi, saya mengimani Islam sebagai jalan hidup yang saya pilih dan yakini.
Tetapi Islam yang saya pahami tidak berhenti pada label.
Tidak berhenti pada nama.
Tidak berhenti pada simbol.
Tidak berhenti pada slogan.
Bahkan tidak berhenti pada segala atribut lahiriah yang sering diperebutkan manusia.
Karena bagi saya, hakikat Islam tidak terletak pada apa yang tampak, melainkan pada apa yang menjelma dalam karakter dan perilaku.
Silakan Anda mengucapkan:
"Allahu Akbar."
"Subhanallah."
"Masya Allah."
Atau membacakan satu truk ayat, hadis, kitab tafsir, dan ceramah agama di hadapan saya.
Saya tidak terlalu terkesan oleh semua itu.
Mengapa?
Karena yang lebih penting bagi saya adalah pribadi Anda.
Apakah Anda jujur atau tidak.
Apakah Anda adil atau tidak.
Apakah Anda menghormati sesama atau tidak.
Apakah Anda rendah hati atau justru tenggelam dalam kesombongan spiritual.
Apakah Anda manusiawi atau sekadar sibuk membangun citra kesalehan.
Saya menghayati Islam sebagai pengamalan nilai-nilai.
Nilai spiritual.
Nilai moral.
Nilai kemanusiaan.
Segala teori, slogan, retorika, dan dakwah pada dasarnya hanyalah produk kebudayaan manusia. Ia adalah ekspresi intelektual, bukan tujuan akhir.
Seribu buku tentang Islam bukanlah Islam itu sendiri.
Ribuan ceramah tentang Islam bukanlah Islam itu sendiri.
Jutaan perdebatan tentang Islam juga bukan Islam itu sendiri.
Semua itu hanyalah jejak-jejak manusia dalam memahami agama.
Bukan agama itu sendiri.
Saya teringat sebuah hadis Nabi yang kurang lebih menyatakan bahwa kualitas agama seseorang tercermin dari kualitas akhlaknya.
Saya memahami pesan itu secara sederhana:
Hakikat keberagamaan tidak diukur dari banyaknya simbol yang dikenakan, melainkan dari kualitas kemanusiaan yang dipancarkan.
Bukankah Nabi sendiri menyatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia?
Jika demikian, maka akhlak bukanlah cabang dari agama.
Akhlak adalah jantungnya.
Ia adalah pusat gravitasi seluruh bangunan keislaman.
Maka seluruh ritual, ibadah, hukum, dan pranata sosial yang dibangun agama pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan sederhana:
Apakah semua itu berhasil membuat manusia menjadi lebih sabar?
Lebih penyayang?
Lebih jujur?
Lebih adil?
Lebih peduli?
Lebih mampu mencintai sesamanya?
Jika tidak, lalu untuk apa semua itu?
Pada akhirnya, yang dipersembahkan manusia kepada Tuhan bukanlah banyaknya slogan yang diteriakkan.
Bukan pula panjangnya jubah, gelarnya, atau banyaknya hafalan.
Melainkan kualitas dirinya sebagai manusia.
Hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama tidak dapat dipisahkan.
Namun saya selalu bertanya:
Mengapa berbuat baik kepada manusia sering kali dianggap nomor dua setelah berbuat baik kepada Tuhan?
Bukankah agama hadir untuk manusia?
Tuhan tidak membutuhkan agama.
Manusialah yang membutuhkannya.
Jika manusia telah mampu hidup dalam keadilan, kasih sayang, dan kedamaian bersama sesamanya, bukankah sebagian besar tujuan agama sesungguhnya telah terwujud?
Apa artinya seseorang rajin beribadah, gemar berdakwah, dan berteriak membela agama, tetapi dalam kesehariannya penuh kebencian, kasar dalam ucapan, mudah menghakimi, dan gemar merendahkan orang lain?
Dapatkah Tuhan disenangkan dengan pujian-pujian yang mengabaikan penderitaan manusia?
Ataukah justru penghormatan kepada Tuhan pertama-tama diwujudkan melalui penghormatan kepada sesama manusia?
Karena itulah saya tidak terlalu peduli pada hiruk-pikuk identitas keagamaan.
Anda boleh mengaku lulusan universitas Islam paling tinggi di langit ketujuh.
Anda boleh mengaku ulama terkenal.
Anda boleh mengaku hafal seluruh kitab.
Anda boleh mengaku pemimpin agama.
Anda boleh mengaku pembela Tuhan.
Silakan.
Tetapi jika moralitas Anda berantakan, saya tidak memiliki alasan untuk mengagumi semua itu.
Karena pada akhirnya saya tidak terlalu tertarik pada label seseorang.
Saya lebih tertarik pada kualitas kemanusiaannya.
Siapa pun dia.
Apa pun agamanya.
Bahkan jika ia tidak beragama sekalipun.
Sepanjang ia menjunjung kejujuran, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama manusia, di sanalah saya melihat nilai-nilai yang selama ini diajarkan agama.
Maka pertanyaannya bukan lagi:
"Apa agama Anda?"
Melainkan:
"Jika seluruh simbol, identitas, dan atribut keagamaan dilepaskan dari diri kita, masihkah tersisa sesuatu yang membuat kita layak disebut manusia yang baik?"