: Dirja Wiharja


"Sayalah Pengganti Tuhan yang Sebenarnya"

Itulah kalimat yang paling menghebohkan dan paling dituduh menyesatkan di dunia.

Kalimat itu dilontarkan oleh seorang sufi gila di zaman yang konon juga sudah tidak sepenuhnya waras.

Tidak kurang dari seribu ulama menghujat ucapannya.

Namanya: La Caddoq.

Menurut berbagai riwayat, ia bahkan dianggap sebagai penderita gangguan jiwa kronis. Sebagian menyebutnya sesat. Sebagian menyebutnya gila. Sebagian lagi menganggapnya berbahaya.

Namun justru karena itulah, semua orang sibuk membicarakannya.


Ketika dihadapkan dalam sebuah "sidang ketuhanan", ia ditanya:

"Apa alasan Anda mengucapkan kalimat itu?"

La Caddoq menjawab dengan tenang:

"Saya tidak tahu bahwa saya mengucapkan kalimat itu."

Para ulama saling berpandangan.

Mereka menghela napas panjang.

Mereka mengira jawaban itu hanyalah siasat untuk menghindari hukuman.

Karena itu mereka menunggu pengakuan yang dianggap lebih jujur.

Lebih waras.

Lebih sesuai dengan harapan mereka.


La Caddoq kemudian disekap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Harapannya sederhana:

Agar pengakuan yang "benar" akhirnya keluar dari mulutnya.

Sehari kemudian para ulama kembali mendatanginya.

Mereka berdiri di depan jeruji sambil bertanya:

"Bagaimana rasanya tinggal di sini?

Apakah Anda belum juga akan mengaku?

Jika tidak, Anda tidak akan pernah keluar dari penjara ini!"

La Caddoq tersenyum tipis.

Lalu menjawab:

"Terima kasih.

Saya senang tinggal di sini."


Para ulama beristighfar berkali-kali.

Sebagian mulai kehilangan kesabaran.

Sebagian lagi mulai kehilangan akal sehat.

Dan salah seorang di antara mereka menampar mulut La Caddoq sambil berteriak:

"Apakah Anda belum juga akan sadar?!"

La Caddoq menjawab:

"Tamparlah dengan lebih keras lagi."


Mendengar jawaban itu, suasana menjadi histeris.

Tamparan berubah menjadi pukulan.

Pukulan berubah menjadi amarah.

Amarah berubah menjadi keyakinan.

Dan keyakinan berubah menjadi pembenaran.

Mereka menampar dan memukul La Caddoq secara bergantian sambil meneriakkan:

"Allahu Akbar!"

Kepala La Caddoq terkulai.

Napasnya tersengal-sengal.

Namun pertanyaan itu terus diulang.

"Apa tujuanmu mengucapkan kalimat itu?!"

"Jawab!"

"Ayo jawab, kafir!"

Lehernya dicekik.

Rambutnya dicengkeram kuat.

Lalu pertanyaan yang sama kembali dilontarkan:

"Apa tujuanmu mengatakan bahwa dirimu adalah pengganti Tuhan?"


La Caddoq membuka matanya perlahan.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Lalu ia menjawab:

"Untuk menguji kalian semua."

Ruangan mendadak hening.

Para ulama saling memandang.


La Caddoq melanjutkan:

"Saya ingin tahu...

Kapan kalian berhenti menjadi Tuhan atas diri saya.

Dan kapan kalian berhenti menjadi Tuhan atas diri manusia lainnya."

Para ulama terdiam, lalu tersentak, memandang diri mereka yang sedang telanjang.