: Dirja Wiharja



Sebuah kata tidak pernah netral.

Ia tidak lahir membawa makna yang sudah selesai.

Makna dibangun.

Diciptakan.

Dirawat.

Dan diwariskan.

Oleh sejarah, kebudayaan, kekuasaan, dan cara manusia memandang dunia.

Karena itu, dua orang dapat mengucapkan kata yang sama, tetapi membayangkan semesta yang berbeda.

Begitulah riwayat bahasa.

Rumah paling hakiki tempat manusia tinggal.

Tanpa bahasa, manusia hanyalah tubuh yang terdiam.

Bahasalah yang membuat manusia melampaui dirinya.

Membawanya terbang menembus ruang dan waktu.

Menjelajah galaksi yang tak pernah disentuh kaki.

Menyelami kedalaman hati yang tak pernah terlihat mata.

Bahkan membangun tangga menuju langit-langit metafisika yang paling jauh.


Lalu lahirlah kata:

Setan.

Dalam banyak tradisi keagamaan, setan menjadi metafora keburukan.

Lambang pembangkangan.

Simbol kekalahan di hadapan kesucian.

Ia ditempatkan sebagai musuh abadi manusia.

Sebagai sosok yang harus dijauhi.

Dikutuk.

Dilawan.

Dan diusir dari kehidupan orang-orang beriman.

Maka sejarah keimanan sering kali tampil sebagai proyek panjang untuk mengalahkan setan.

Mengusirnya dari rumah.

Dari hati.

Dari pikiran.

Dari sajadah.

Dari dunia.


Tetapi ada sesuatu yang mengganggu saya.

Setan yang dibenci itu sering kali hanya tinggal sebagai kata.

Sebagai simbol.

Sebagai konstruksi bahasa.

Sebagai tokoh yang telah lama kalah dalam pertarungan makna.

Manusia mengutuk setan setiap hari.

Tetapi yang mereka serang sering kali hanyalah sebuah istilah.

Sebuah nama.

Sebuah lambang.

Sementara keburukan yang sesungguhnya tetap tumbuh subur dalam kehidupan mereka sendiri.

Setan dibakar dalam khotbah-khotbah.

Diusir dalam doa-doa.

Dihina dalam ceramah-ceramah.

Tetapi yang dibunuh hanyalah kata.

Yang dimusnahkan hanyalah simbol.


Kata setan telah ditulis dalam tinta hitam sejarah.

Diletakkan dalam kamus besar segala keburukan.

Dijadikan wajah dari segala yang harus dibenci.

Namun ironisnya, tidak sedikit orang yang menuliskan kata itu dengan hati yang lebih gelap daripada makna yang mereka kutuk.

Mereka membenci setan.

Tetapi memelihara kesombongan.

Mereka mengutuk setan.

Tetapi merawat kebencian.

Mereka melawan setan.

Tetapi menindas sesama manusia.

Mereka mengusir setan dari mulut mereka.

Namun membiarkannya tinggal di dalam tindakan mereka.


Di titik itulah saya mulai curiga.

Mungkin persoalannya bukan pada setan.

Mungkin persoalannya ada pada manusia yang terlalu sibuk mencari musuh di luar dirinya.

Karena lebih mudah mengutuk simbol daripada mengoreksi diri.

Lebih mudah menunjuk setan daripada mengakui bayangan gelap dalam diri sendiri.

Lebih mudah membenci sesuatu yang telah diberi nama daripada menghadapi keburukan yang hidup di dalam hati.


Karena itu, ketika saya berkata bahwa saya memilih menjadi setan, jangan buru-buru memahami kalimat itu secara harfiah.

Saya tidak sedang memuja kejahatan.

Saya tidak sedang merayakan keburukan.

Saya hanya sedang berpihak pada segala sesuatu yang terlalu cepat dihukum oleh bahasa.

Pada segala yang dikutuk sebelum dipahami.

Pada segala yang dijadikan kambing hitam agar manusia dapat merasa dirinya suci.

Saya ingin menebus kematian setan sebagai simbol.

Membongkar kemunafikan yang bersembunyi di balik kata-kata suci.

Mengingatkan bahwa keburukan tidak selalu tinggal pada sosok yang dikutuk.

Kadang ia justru bersemayam dalam diri mereka yang paling rajin mengutuk.


Sebab mungkin pertanyaan yang paling menakutkan bukanlah:

"Apakah setan masih hidup?"

Melainkan:

"Bagaimana jika selama ini kita begitu sibuk memburu setan di luar diri, hingga gagal mengenali wajahnya ketika ia tumbuh di dalam diri kita sendiri?"