: Dirja Wiharja




Sebenarnya saya seorang tukang tipu.

Hanya saja, tidak banyak yang menyadarinya.

Tetapi tunggu dulu.

Siapa sebenarnya yang tidak pernah menipu?

Bukankah manusia, dalam kadar tertentu, adalah makhluk yang gemar berdamai dengan kepura-puraan?

Kadang menipu orang lain.

Kadang menipu keadaan.

Dan yang paling sering: menipu dirinya sendiri.


Tidak sulit melihat kenyataan ini.

Kecuali bagi mereka yang terlalu sibuk membangun citra tentang dirinya sendiri.

Atau terlalu tekun memoles topeng hingga lupa wajah aslinya.


Menurut saya, justru setan lebih jujur dalam satu hal.

Ia tidak pernah berpura-pura menjadi malaikat.

Ia tidak pernah mengaku suci.

Ia tidak pernah menjual kesalehan.

Ia datang sebagai penggoda dan mengakuinya secara terang-terangan.

Bahkan dalam kisah-kisah keagamaan, setan masih sempat meminta izin kepada Tuhan sebelum menjalankan misinya menggoda manusia.

Sedangkan manusia?

Sering kali menipu tanpa izin.

Bahkan menipu sambil mengaku sedang membela kebenaran.


Suatu hari saya duduk di depan sebuah swalayan.

Lalu seorang gadis melintas tepat di depan saya.

Saya spontan menoleh.

Mata saya mengikuti langkahnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.

Dan, sialnya, saya tertangkap basah.


"Heh... situ lagi melototi saya, ya?"

Saya langsung gugup.

"Ah, tidak. Haram bagi saya melihat aurat perempuan."

"Oh ya?"

"Iya."

"Kalau memang iya, sebenarnya tidak masalah kok."

Saya berdeham.

"Maaf. Saya ini orang beriman."


Percakapan berakhir.

Saya pulang dengan wajah tenang.

Setidaknya begitu yang tampak dari luar.


Tetapi malamnya saya tidak bisa tidur.

Bolak-balik ke kiri.

Bolak-balik ke kanan.

Pikiran saya masih terjebak pada peristiwa siang tadi.

Bayangan cewek sexy itu menghanyutkan libido saya.

Tubuhnya yang aduhai terus menghantui.

Pergi lalu kembali lagi.


Dan di situlah saya sadar.

Betapa mudahnya manusia mengaku menang atas godaan di depan orang lain.

Tetapi kalah telak di hadapan dirinya sendiri.

Betapa mudahnya mulut mengucapkan kesalehan.

Sementara pikiran diam-diam menyusun cerita mesum.


Untunglah hanya imajinasi. Alhamdulillah ...