: Dirja Wiharja
Maaf, tulisan ini bukan untuk umum.
Tulisan ini hanya untuk orang-orang pilihan.
Yaitu orang-orang yang, menurut bahasa satirnya, sudah "ditunjuki oleh setan".
Sebenarnya ada banyak cara untuk membebaskan diri dari agama.
Tetapi jika Anda ingin menggunakan cara yang pernah saya tempuh, maka inilah pengalaman saya.
Rumus sederhananya adalah: menghanyutkan diri secara total dalam arus keberagamaan.
Dan untuk hanyut secara total itu, caranya juga bermacam-macam.
Bisa dengan rajin beribadah tanpa kenal lelah.
Bisa dengan membaca banyak buku agama.
Bisa pula dengan bergaul hampir sepenuhnya dengan orang-orang yang taat beragama.
Pertama: Membaca Agama Sampai ke Akarnya
Dari banyak membaca buku agama, akhirnya saya mulai mengetahui dan memahami bagaimana sebenarnya sejarah lahirnya kitab-kitab fikih, hadis, dan tafsir.
Siapa yang menulisnya?
Muhammad?
Atau Tuhan?
Ternyata semuanya ditulis oleh manusia.
Sama seperti saya dan Anda.
Dari situlah saya mengetahui bahwa Al-Qur'an tidak ditulis langsung oleh Muhammad.
Dari situlah saya mengetahui bahwa Muhammad tidak pernah menganut mazhab tertentu.
Karena mazhab-mazhab itu lahir jauh setelah beliau wafat.
Begitu pula dengan hadis.
Muhammad tidak pernah menulis kitab hadis.
Dengan kata lain, saya mulai melihat bahwa sejarah agama juga merupakan sejarah kebudayaan.
Sejarah tentang bagaimana manusia menghayati hidup.
Bagaimana manusia memahami Tuhan.
Bagaimana manusia menafsirkan pengalaman spiritualnya.
Lalu semua itu ditulis, diwariskan, dipelihara, dan dihormati dari generasi ke generasi berikutnya.
Kedua: Menghayati Ibadah Sampai ke Titik Terdalam
Kemudian saya mencoba tenggelam dalam ibadah.
Saya ingin mengetahui:
Apa sebenarnya yang membuat saya merasa tenang?
Apa yang membuat saya merasa nikmat?
Apa yang membuat saya merasa hanyut secara kejiwaan?
Lalu muncullah pertanyaan yang terus mengganggu saya:
Apakah semua itu benar-benar karena kehadiran Tuhan?
Ataukah hanya hasil dari proses psikologis yang sangat kuat?
Semacam terapi batin melalui gerakan, bacaan, pengulangan, dan konsentrasi tertentu?
Lalu saya bertanya lagi:
Apakah semua itu benar-benar menyelesaikan persoalan hidup yang nyata?
Apakah ketaatan otomatis membuat saya lebih cerdas?
Apakah ibadah otomatis membuat saya lebih bermoral?
Apakah zikir otomatis membuat saya lebih jujur?
Apakah doa otomatis membuat saya lebih lapang, sportif, dan dewasa menghadapi hidup?
Ternyata, dalam pengalaman saya, semuanya tidak berjalan lurus seperti itu.
Saya tidak menemukan hubungan otomatis antara ketaatan ritual dengan kecerdasan, moralitas, atau kematangan pribadi.
Masing-masing memiliki mekanisme dan hukumnya sendiri.
Rasa lapar saya tidak hilang hanya karena saya berdoa.
Komputer yang rusak tidak langsung baik hanya karena saya berzikir.
Kekurangan uang tidak otomatis selesai hanya karena saya membaca banyak doa.
Kemampuan bergaul tidak muncul begitu saja hanya karena saya memohon agar dilapangkan hati.
Kebesaran jiwa tidak otomatis hadir hanya karena saya menamatkan Al-Qur'an berkali-kali.
Setiap persoalan hidup tetap harus dihadapi sesuai dengan karakter persoalannya masing-masing.
Setiap masalah memiliki jalur penyelesaiannya sendiri.
Karena itu, ketika saya meyakini bahwa ibadah adalah jawaban untuk seluruh persoalan hidup, lama-kelamaan keyakinan itu mulai terasa sebagai ilusi.
Seolah saya sedang hidup dalam dunia yang terlalu utopis.
Seolah saya menjadi asing terhadap kenyataan yang ada di depan mata.
Pada titik itu saya mulai melihat bahwa ibadah adalah satu hal.
Sedangkan berbagai aspek kehidupan adalah hal yang lain.
Ibadah mungkin menjadi sarana terapi.
Menjadi media penenangan diri.
Menjadi ruang refleksi.
Menjadi latihan konsentrasi.
Menjadi cara menjaga kestabilan batin.
Tetapi ibadah bukanlah jawaban tunggal untuk seluruh persoalan manusia.
Bukan kunci universal yang bisa membuka semua pintu kehidupan sekaligus.
Setidaknya begitulah yang saya rasakan.
Ketiga: Bergaul Hanya dengan Orang-Orang yang Taat
Kemudian saya mencoba satu eksperimen lain.
Saya bergaul hampir sepenuhnya dengan orang-orang yang sangat taat.
Orang-orang yang selalu shalat berjamaah.
Orang-orang yang rajin mengikuti kajian.
Orang-orang yang kesehariannya dipenuhi aktivitas keagamaan.
Kurang lebih selama tiga tahun saya hidup dalam lingkungan seperti itu.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri:
Benarkah saya dan mereka adalah gambaran manusia ideal sebagaimana yang dibayangkan agama?
Benarkah kami lebih bersih?
Lebih suci?
Lebih bebas dari sifat-sifat buruk?
Ternyata saya tidak menemukan hal itu.
Saya justru menemukan bahwa kami tetap manusia biasa.
Sama seperti yang lain.
Masih ada rasa ingin dianggap lebih baik.
Masih ada rasa ingin dianggap lebih dekat dengan Tuhan.
Masih ada keinginan untuk merasa lebih benar dibanding orang lain.
Masih ada gosip.
Masih ada persaingan.
Masih ada pencarian pamor.
Masih ada perlombaan siapa yang lebih saleh.
Siapa yang lebih paham agama.
Siapa yang lebih dalam penghayatannya.
Bahkan saya melihat bagaimana sebagian orang memandang sinis mereka yang tidak aktif beribadah.
Ada kecenderungan merasa diri lebih bersih.
Lebih suci.
Lebih dicintai Tuhan.
Lebih layak mendapatkan pertolongan Tuhan.
Lebih berhak berbicara atas nama kebenaran.
Tentu saja saya tidak sedang menghakimi semua orang beragama.
Saya hanya menceritakan apa yang saya temukan dalam pengalaman saya sendiri.
Karena saya juga bagian dari lingkungan itu.
Saya juga pernah berada di dalam pola pikir yang sama.
Sampai Pada Titik Jenuh
Secara sederhana, itulah tiga fase yang saya lalui.
Fase membaca.
Fase beribadah.
Fase hidup di tengah komunitas yang sangat religius.
Dan dari semua itu, saya mulai merasa mual terhadap ekspresi keberagamaan yang menurut saya terlalu seremonial.
Terlalu ritualistik.
Terlalu sibuk pada simbol.
Terlalu sibuk pada identitas.
Tetapi jika Anda ingin menempuh jalan yang sama seperti saya, ketahuilah bahwa jalannya panjang.
Menyita waktu.
Menguras energi.
Bahkan kadang membuat seseorang merasa asing di tengah kehidupan sosialnya sendiri.
Merasa terasing dari orang lain.
Merasa terasing dari dirinya sendiri.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya:
Apakah ada jalan lain yang lebih cepat?
Lebih praktis?
Lebih elegan?
Tentu saja ada.
Dan banyak orang telah menempuhnya.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah tujuan Anda benar-benar ingin meninggalkan agama?
Atau sebenarnya hanya ingin meninggalkan cara beragama yang selama ini tidak lagi mampu menjawab kegelisahan Anda?