Di sebuah kampung yang damai, hiduplah dua orang sahabat karib, La Baco dan La Bampeq. Rumah mereka bersebelahan, hanya dipisahkan oleh pagar bambu yang renggang.

Setiap sore, mereka biasa duduk di beranda sambil menikmati kopi dan berbincang tentang banyak hal.

Suatu hari, La Baco datang dengan mata berbinar.

"Bampeq, aku punya ide!" serunya sambil duduk di kursi bambu kesayangannya.

"Apa lagi ini, Baco?" tanya La Bampeq sambil mengangkat alis.

"Bagaimana kalau kita berbisnis bersama? Pelihara anak sapi!"

La Baco mengeluarkan rokok dari saku kemejanya.

La Bampeq terdiam sejenak, lalu matanya ikut berbinar.

"Ide bagus! Tapi... siapa yang akan mengurusnya?"

Maka dimulailah obrolan panjang mereka. Berjam-jam mereka berbincang, dari matahari masih tinggi sampai tenggelam di ufuk barat.


"Kalau sapinya sudah ada," kata La Baco sambil mengepulkan asap, "kita harus bagi tugas. Pagi aku yang gembalakan ke padang rumput, sore kamu."

"Tidak," La Bampeq menggeleng. "Lebih baik seminggu bergantian. Biar adil."

"Kandangnya di mana?" tanya La Bampeq lagi.

La Baco menunjuk ke belakang rumahnya.

"Di sana, di belakang rumahku. Tanahnya luas."

"Tapi tanah belakang rumahku juga luas," tukas La Bampeq.

"Sudahlah," La Baco mengangkat tangan. "Di belakang rumahku saja, karena lebih dekat dengan sumber air."

Mereka pun berdebat tentang kandang, tentang rumput yang akan dipotong, tentang siapa yang bertanggung jawab membersihkan kotoran sapi, tentang jadwal memandikan, tentang jam berapa sapi harus diberi makan, tentang bagaimana jika sapi sakit, hingga tentang siapa yang akan memanggil dokter hewan.

Lalu obrolan merembet ke masa depan.

"Kalau sapinya sudah besar dan gemuk," kata La Bampeq sambil bermimpi, "kita jual di pasar kota. Harga daging sapi sedang tinggi."

"Atau kita kawinkan saja," usul La Baco. "Biar beranak pinak. Kita bisa jadi peternak besar!"

Mereka tertawa membayangkan kekayaan yang akan datang.


Namun, ketika masuk ke pembagian hasil, suasana mulai berubah.

La Baco menyandarkan tubuh ke kursi.

"Saya pikir," katanya dengan hati-hati, "pembagiannya 60-40. Saya 60, kamu 40."

La Bampeq yang sedang menyeduh kopi berhenti.

"Apa? Maksudmu?"

"Sapi itu dikandangkan di belakang rumahku," jelas La Baco. "Aku yang menyediakan lahan. Tentu aku dapat bagian lebih besar."

La Bampeq meletakkan cangkirnya dengan agak keras.

"Tidak adil, Baco! Kita ini sahabat. Harus fifty-fifty. Sama rata!"

"Tapi tanahku yang dipakai!"

"Tanahmu? Tanah di belakang rumahmu hanya sejengkal dari pagar rumahku!" La Bampeq mulai meninggikan suara. "Kita bertetangga bersebelahan. Apa bedanya?"

La Baco tetap ngotot.

"Tetap saja tanahku. Aku berhak 60 persen!"

"Fifty-fifty!"

"60-40!"

"Fifty-fifty!"

Tidak ada yang mau mengalah.

Adu mulut mereka memecah kesunyian kampung. Para tetangga mulai mengintip dari balik jendela.

Akhirnya La Bampeq berdiri dengan tegang.

"Kalau begitu, kita ke pengadilan saja! Biar hakim yang menentukan!"

"Setuju!" La Baco membanting tangannya di meja. "Kita lihat siapa yang benar!"


Singkat cerita, mereka pun melaporkan kasus ini ke pengadilan.

Masing-masing menyewa pengacara terbaik yang bisa mereka bayar.

La Baco datang dengan jas rapi dan membawa dokumen yang menunjukkan kepemilikan tanah.

La Bampeq datang dengan koper berisi bukti-bukti bahwa rumah mereka bersebelahan dan ia memiliki hak yang sama.

Di ruang sidang, kedua sahabat saling tatap dengan dingin.

Pengacara mereka berdebat sengit.

La Baco bersikeras bahwa 60 persen adalah haknya karena lahan kandang berada di propertinya.

La Bampeq bersikeras bahwa 50-50 adalah keadilan sejati.

Hakim, seorang pria tua berkumis tebal, mendengarkan semuanya dengan saksama. Ia mengusap-usap dagunya sambil berpikir.

Setelah berjam-jam persidangan, hakim akhirnya mengangkat palu kecilnya.

"Baiklah," kata hakim dengan suara berat. "Sebelum saya memutuskan, saya ingin bertanya satu hal."

Seluruh ruangan hening.

"Sapinya ini," hakim menatap kedua sahabat bergantian, "sekarang di mana?"

La Baco dan La Bampeq saling pandang.

Mata mereka membulat bersamaan.

Mereka terdiam beberapa detik.

"Baru rencana beli, Yang Mulia," jawab mereka hampir bersamaan.

Ruangan sidang menjadi sunyi sejenak.

Kemudian...

"HAHAHAHAHAHA!"

Seluruh hadirin tertawa terbahak-bahak.

Para pengacara menutup muka.

Panitera menunduk sambil menahan tawa.

Bahkan petugas keamanan di pintu ikut tergelak.

Sementara itu, kursi hakim sudah kosong.

Sang hakim telah menghilang.

Ternyata ia berlari ke belakang ruang sidang untuk meledakkan tawanya yang tertahan.

"HAHAHAHAHAHA!" terdengar suara keras dari balik pintu. "Mereka bertengkar memperebutkan sapi yang bahkan belum dibeli! HAHAHAHA! acu tongeng!!"

Di ruang sidang, La Baco dan La Bampeq hanya bisa tertunduk malu.

Pipi mereka memerah.

Akhirnya hakim kembali sambil menyeka air matanya.

"Sidang ditunda," katanya sambil terkekeh. "Kalian pulang dulu. Beli sapinya dulu, baru kalian bertengkar!"

La Baco dan La Bampeq berjalan keluar dari pengadilan dengan langkah gontai.

Di luar, mereka saling pandang dan tiba-tiba tertawa bersama.

"Kita ini bodoh, ya?" kata La Baco.

"Sangat bodoh," La Bampeq menggeleng-gelengkan kepala.

Mereka pun berjalan pulang, masih tertawa, dan sepakat untuk membeli sapi dulu sebelum memperebutkan hasilnya.

Tapi sampai sekarang, mereka belum juga membeli sapi itu.

Mungkin karena mereka sudah belajar: lebih baik menikmati persahabatan daripada bertengkar karena sesuatu yang belum tentu ada.