Ada orang yang membaca agama dengan kepala.
Ada pula yang mendengarkannya dengan hati.
Perbedaannya sangat besar.
Kepala selalu ingin mengerti. Hati hanya ingin mengalami.
Di titik inilah, saya memandang Nabi Muhammad dengan cara yang sangat berbeda dari kebanyakan orang. Saya tidak melihat Muhammad sebagai seorang filsuf yang sedang menyusun sistem pemikiran yang rumit. Saya melihat beliau sebagai seorang manusia yang bening, polos, dan begitu terbuka sehingga Yang Ilahi dapat mengalir melaluinya.
Bagi saya, Nabi Muhammad tidak mungkin menulis sebuah kitab suci.
Beliau sedang bernyanyi.
Al-Qur'an, dalam pandangan saya, bukan pertama-tama sebuah kitab untuk diperdebatkan. Ia adalah nyanyian kosmis. Sebuah irama yang menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada logika. Karena itu, Al-Qur'an tidak hanya dibaca. Ia dilantunkan. Bahkan orang yang tidak memahami bahasa Arab pun sering kali tetap dapat merasakan getaran keindahannya.
Musik bekerja bukan dengan argumen.
Musik bekerja dengan resonansi.
Demikian pula wahyu.
Ketika manusia hanya sibuk menganalisis setiap kata, ia mungkin mendapatkan pengetahuan. Namun belum tentu mendapatkan kehadiran.
Karena kehadiran tidak lahir dari pikiran.
Ia lahir dari keheningan.
Saya akhirnya sedikit memahami.
Ada dua wajah agama yang hampir selalu muncul dalam sejarah.
Yang pertama adalah agama sebagai institusi.
Yang kedua adalah agama sebagai pengalaman.
Institusi membutuhkan aturan, identitas, kelompok, batas, bahkan sering kali musuh. Dari sinilah lahir berbagai konflik yang mengatasnamakan Tuhan. Orang mulai berkata, "Kami yang benar. Mereka yang salah."
Padahal ketika seseorang benar-benar bertemu Tuhan, kalimat seperti itu menjadi mustahil diucapkan.
Semakin dekat seseorang kepada Yang Maha Luas, semakin kecil keinginannya untuk mengecilkan orang lain.
Karena ego selalu membutuhkan lawan.
Cinta tidak.
Di sinilah saya menemukan sesuatu yang sangat berharga dalam Sufisme.
Bagi saya, Sufisme bukanlah cabang kecil dari Islam. Ia justru adalah jantung yang berdenyut di balik semua agama.
Sebelum ada Islam, sebelum ada Kristen, sebelum ada Buddha, sebelum ada label apa pun, manusia sudah mengenal keheningan.
Sudah mengenal cinta.
Sudah menangis karena rindu kepada sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Itulah Sufisme.
Sufisme bukan milik suatu bangsa.
Bukan pula milik suatu kitab.
Ia adalah perjalanan pulang menuju hati.
Bahkan Sufisme jauh lebih tua daripada agama-agama formal. Karena Sufisme bukanlah sebuah organisasi. Ia adalah ilmu tentang mencairnya ego. Tentang jatuh cinta kepada Tuhan tanpa syarat. Tentang kembali menjadi anak kecil yang belum dipenuhi identitas.
Semua bayi lahir sebagai sufi.
Belum mengenal agama.
Belum mengenal mazhab.
Belum mengenal perdebatan.
Yang mereka kenal hanya keberadaan.
Lalu sedikit demi sedikit masyarakat mengajarkan nama, identitas, kelompok, kebanggaan, bahkan kebencian.
Kita belajar banyak hal.
Namun kehilangan diri yang paling asli.
Mungkin karena itulah para sufi selalu berbicara tentang "kembali", bukan "menjadi".
Mereka tidak sedang mencari sesuatu yang baru.
Mereka sedang mengingat sesuatu yang telah lama terlupakan.
Islam adalah tubuh, sedangkan Sufisme sebagai jiwanya.
Tubuh memang penting.
Tanpa tubuh, jiwa tidak dapat menampakkan dirinya.
Namun tubuh tanpa jiwa hanyalah gerakan yang kehilangan makna.
Demikian pula ritual.
Salat, puasa, zikir, doa, semuanya indah.
Tetapi tanpa hati yang hadir, semuanya dapat berubah menjadi kebiasaan yang kosong.
Sebaliknya, ketika hati telah hidup, bahkan diam pun bisa menjadi doa.
Bahkan napas bisa menjadi zikir.
Bahkan berjalan bisa menjadi ibadah.
Karena yang berubah bukan aktivitasnya.
Yang berubah adalah kesadarannya.
Barangkali inilah yang dimaksud para sufi ketika mereka berkata bahwa jalan menuju Tuhan bukanlah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
Melainkan perjalanan dari kepala menuju hati.
Jaraknya sangat dekat.
Namun sering kali membutuhkan seumur hidup untuk menempuhnya.
