: Dirja Wiharja
Hati-hati membaca tulisan ini.
Anda yang rajin sholat boleh saja tersinggung.
Boleh marah.
Silakan.
Tetapi tahan dulu reaksi itu sampai Anda selesai membaca tulisan ini dengan tenang dan sabar.
Saya hanya ingin berbicara tentang kenyataan sehari-hari.
Tidak perlu jauh-jauh mencari contoh.
Cukup melihat pengalaman saya sendiri.
Dulu saya pernah sangat rajin sholat.
Hampir selalu sholat berjamaah di masjid.
Kebetulan saya pernah menempuh pendidikan di sebuah pesantren.
Akibatnya, banyak orang menganggap saya sebagai pribadi yang baik, bermoral, santun, berbudi luhur, dan taat beragama.
Bukan hanya sholat wajib.
Saya juga rajin menjalankan sholat sunnah.
Saya berpuasa Senin-Kamis.
Saya aktif mengikuti berbagai kegiatan keagamaan.
Karena itu, lingkungan sekitar menaruh hormat dan rasa segan kepada saya.
Bahkan teman-teman sekampung, teman kuliah, hingga sebagian masyarakat sekitar memanggil saya dengan gelar "ustadz."
Namun sejujurnya, penilaian itu terasa berlebihan.
Karena di balik semua ritual itu, saya tetap manusia biasa.
Saya tetap melakukan banyak kesalahan.
Saya tetap mudah marah ketika tersinggung.
Saya tetap mengomel ketika dinasihati orang tua.
Saya tetap berdebat keras dengan teman-teman ketika berbeda pendapat.
Saya tetap berusaha menawar ongkos angkot serendah mungkin meskipun sopir meminta tambahan.
Saya diam-diam merasa lega ketika tetangga kos bertengkar dengan orang lain, karena setidaknya bukan dengan saya.
Saya tetap bangga dalam hati ketika mampu membeli sepeda motor sementara sebagian teman saya belum mampu.
Dan masih banyak hal lain yang menunjukkan bahwa saya jauh dari gambaran ideal yang dilekatkan orang kepada saya.
Yang lebih parah lagi, saya mulai memandang orang lain dengan ukuran yang saya buat sendiri.
Mereka yang tidak rajin sholat seperti saya, saya anggap kurang baik.
Mereka yang duduk santai sementara saya baru selesai sholat, saya pandang sinis.
Saya sering menceramahi adik saya karena dianggap kurang serius mempelajari agama.
Saya menilai orang lain dari ritualnya, bukan dari kemanusiaannya.
Saya bahkan pernah memarahi orang tua sendiri karena dianggap terlalu sibuk memikirkan urusan rumah tangga dan hal-hal duniawi.
Saat itu saya merasa sedang membela agama.
Padahal mungkin saya sedang membela ego saya sendiri.
Akibatnya perlahan-lahan orang mulai menjauh.
Mereka enggan berteman dekat dengan saya.
Mereka mengatakan saya terlalu kaku.
Terlalu menghakimi.
Terlalu merasa benar.
Terlalu sok suci.
Mendengar penilaian itu, saya tidak menerimanya.
Saya justru membela diri.
Saya mengkritik mereka balik.
Saya membacakan ayat-ayat Alquran dan hadis tentang pentingnya sholat.
Dan dengan penuh keyakinan saya berkata:
"Biarlah saya kehilangan teman daripada kehilangan iman kepada Tuhan. Cukup Tuhan sebagai teman saya."
Saat itu saya merasa sangat benar.
Setidaknya menurut saya sendiri.
Namun hidup terus berjalan.
Dan saya memasuki fase lain dalam kehidupan.
Pada masa itu saya tidak lagi serajin dulu dalam menjalankan sholat.
Tetapi anehnya, saya justru menjadi lebih toleran.
Lebih mudah memahami orang lain.
Lebih jarang menghakimi.
Lebih mau mendengarkan sudut pandang yang berbeda.
Lebih berusaha memahami latar belakang seseorang sebelum menilainya.
Akibatnya hubungan saya dengan banyak orang justru menjadi lebih hangat.
Mereka merasa nyaman berbicara dengan saya.
Mereka mengatakan saya lebih lentur.
Lebih manusiawi.
Lebih menyenangkan untuk diajak berdiskusi.
Bahkan beberapa kali saya mampu menjadi penengah ketika terjadi konflik di antara teman-teman.
Dari pengalaman itu saya sampai pada sebuah kesimpulan pribadi.
Dalam teori keagamaan, sholat memang memiliki tujuan yang sangat mulia.
Sholat dimaksudkan untuk menempa akhlak.
Untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar.
Untuk mendidik kesadaran moral.
Tetapi dalam praktiknya, hubungan itu tidak selalu berjalan lurus.
Rajin sholat tidak otomatis membuat seseorang menjadi baik.
Sebagaimana tidak rajin sholat juga tidak otomatis membuat seseorang menjadi buruk.
Karena ritual dan moralitas tidak selalu bergerak dalam garis yang sama.
Saya juga menyadari bahwa sholat bisa berubah fungsi.
Bukan lagi sebagai sarana memperbaiki diri.
Melainkan sebagai alat untuk mengukur orang lain.
Bahkan sebagai alat untuk memukul orang lain secara moral.
Seseorang bisa dicap buruk hanya karena tidak memenuhi standar ritual yang kita gunakan.
Padahal mungkin dalam kehidupan sehari-hari ia lebih hangat, lebih jujur, lebih peduli, dan lebih manusiawi dibanding kita.
Sejak saat itu saya berhenti menggunakan sholat sebagai ukuran utama untuk menilai baik atau buruknya seseorang.
Yang pertama kali saya perhatikan adalah bagaimana ia memperlakukan sesamanya.
Bagaimana kehangatan pribadinya.
Bagaimana kejujurannya.
Bagaimana kepeduliannya.
Bagaimana sikapnya terhadap orang lain.
Adapun soal sholat atau tidak sholat, saya serahkan sebagai urusan pribadi antara dirinya dengan Tuhan.
Karena saya percaya bahwa yang berhak menilai hati dan iman seseorang bukanlah saya.
Bukan pula masyarakat.
Melainkan Tuhan sendiri.
Saya memahami sholat sebagai ruang dialog pribadi antara seorang Muslim dengan Tuhannya.
Sebuah wilayah batin yang sangat personal.
Bukan panggung untuk mencari pengakuan.
Bukan alat untuk mengukur kemuliaan seseorang di hadapan manusia lain.
Namun bagaimanapun juga, semua ini hanyalah pengalaman pribadi saya.
Saya tidak berhak menggeneralisasikannya kepada semua orang.
Dan orang lain pun tidak perlu menjadikan pengalaman saya sebagai kesimpulan universal.
Karena setiap manusia memiliki perjalanan spiritual yang berbeda.
Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda.
Saya ya saya. Anda ya Anda. Terserah anda!