Malam itu, sebuah mobil Panther jurusan Makassar–Sidrap melaju membelah jalan Trans Sulawesi. Penumpangnya penuh.

Satu orang di samping sopir.

Tiga orang di bangku tengah.

Tiga orang lagi di bangku paling belakang.

Di bangku belakang dekat jendela duduk La Beddu, seorang lelaki paruh baya yang bekerja di kota Juppandang. Hari itu ia sedang pulang kampung menuju daerah Rappang. Tubuhnya tampak lelah, tetapi wajahnya tetap tenang. 

Awalnya perjalanan berjalan aman dan tentram. Mesin diesel Panther berdengung khas, sesekali berguncang saat melewati jalan bergelombang. Penumpang ada yang mengobrol, ada yang tertidur.

Namun ketika mobil mulai memasuki wilayah Pangkep, wajah La beddu perlahan berubah.

Dahinya berkeringat.

Bibirnya mengatup rapat.

Kakinya mulai saling mengunci.

Tangannya menggenggam erat sandaran kursi di depannya.

Ia menunduk, menarik napas panjang, lalu berkata pelan,

"Pak... bisaki berhenti sebentar di masjid depan? Mauka kurasa buang air besar."

Sopir melirik dari kaca tengah lalu menjawab santai,

"Sebentar pi, Pak. Sekalian nanti di Barru kita singgah. Sudah dekat itu."

La beddu mengangguk.

"Iye..."

Ia mencoba bertahan.

Beberapa kilometer berlalu.

Kini wajahnya semakin pucat.

Sesekali ia mengangkat pinggulnya sedikit dari kursi, lalu duduk lagi.

Sesekali menarik napas.

Sesekali memejamkan mata.

Pertarungan besar sedang terjadi di dalam perutnya.

Akhirnya ia tak sanggup lagi.

Dengan suara memelas ia berkata,

"Pak... tolong, kalau bisa. Berhenti sa ki dulu di masjid mana saja. Tidak sanggup ma ini."

Sopir masih fokus menyetir.

"Sedikit lagi, Pak. Barru mi ini. Singgah di depan ki, Rumah Makan 'Marasa Tanta'. Sekalian nanti makan kalau ada yang lapar."

La beddu tidak menjawab lagi.

Ia hanya terdiam.

Membisu.

Di bangku belakang, salah seorang penumpang terkekeh kecil.

Yang duduk di samping La beddu mulai menutup mulut dan hidungnya pelan-pelan.

Tidak ada yang tahu kenapa.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil memasuki sebuah rumah makan di Barru.

Mobil diparkir.

Mesin dimatikan.

Sopir memutar badannya menghadap ke belakang.

Sambil tersenyum ia berkata,

"Nah... sampai mi. Mana tadi yang mau berak?"

La beddu mengangkat wajahnya perlahan.

Tatapannya datar.

Lalu, dengan suara pelan namun penuh kepedihan, ia menjawab,

"Orang yang mau berak tadi sudah tidak ada, Pak..."

Semua penumpang menoleh.

"...sekarang yang ada, orang yang mau cebok."

Sunyi.

Hanya sekitar dua detik.

Lalu...

"Astagaaa!"

"Ya Allah!"

"Pantas dari tadi baunya!"

Seluruh penumpang buyar.

Pintu mobil dibuka serempak.

Ada yang melompat duluan.

Ada yang keluar sambil menutup hidung.

Ada yang hampir muntah.

Sopir hanya bisa memegang kepalanya.

Sedangkan La beddu turun paling terakhir.

Berjalan perlahan menuju toilet rumah makan.


Sejak hari itu, setiap sopir Panther di jalur Makassar–Sidrap punya satu pelajaran penting.

Kalau ada penumpang bilang,

"Pak, berhenti sebentar..."

Jangan pernah dijawab,

"Sedikit lagi."

Di dalam toilet, sambil cebok dan membersihkan tai yang belepotan disekujur celananya, La beddu masih sempat mengomel,

"Sopiri' acu! Makkada memekkaq. Aga na ko makkoiyye. Na penno maneng ha tai alewe he!"

(Dasar Sopir anjing! Sudah kubilang singgah sebentar. Bagaimana kalau sudah begini kejadiannya. Seluruh badan penuh dengan tai!)