: Dirja Wiharja
Sebuah Telaah Filosofis tentang Kesalahan Keyakinan dan Kesalahan Kemanusiaan
Dalam teologi Islam, garis demarkasi syirik terletak pada tindakan menduakan Tuhan.
Syirik dipahami sebagai keyakinan bahwa terdapat kekuatan absolut lain selain Allah. Karena itu, syirik ditempatkan sebagai dosa yang paling besar, bahkan sering dipahami sebagai dosa yang tidak akan diampuni apabila seseorang meninggal tanpa bertobat.
Konsekuensinya cukup radikal.
Sebanyak apa pun kebaikan seseorang, selama ia tidak mengakui Tuhan sebagaimana yang dipahami dalam ajaran tersebut, seluruh amalnya dianggap tidak memiliki nilai spiritual di hadapan Tuhan.
Itulah posisi teologis yang umum dikenal.
Namun tulisan ini bukanlah khotbah keagamaan.
Tulisan ini adalah sebuah refleksi filosofis.
Karena itu, saya tidak sedang membahas apa yang dikatakan kitab suci, melainkan mencoba menimbang persoalan ini dari sudut pandang rasional dan kemanusiaan.
Membalik Hierarki Dosa
Bagi saya, persoalannya justru terletak pada cara kita menyusun hierarki kesalahan.
Mengapa kesalahan dalam memahami Tuhan harus dianggap lebih berat daripada kesalahan dalam memperlakukan manusia?
Mengapa seseorang yang jujur, adil, dan penuh kasih dapat dianggap lebih buruk daripada seorang koruptor hanya karena berbeda keyakinan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mendorong saya pada kesimpulan yang berbeda.
Menurut saya, kesalahan dalam memahami Tuhan jauh lebih dapat dimaklumi daripada kesalahan dalam memperlakukan sesama manusia.
Sebaliknya, dosa kemanusiaan dan dosa sosial justru memiliki bobot moral yang jauh lebih besar.
Mencuri.
Merampok.
Menipu.
Menyiksa.
Membunuh.
Korupsi.
Semua tindakan itu secara langsung menghadirkan penderitaan nyata bagi manusia lain.
Korban dari tindakan tersebut dapat disentuh, dirasakan, dan diukur akibatnya.
Sedangkan persoalan syirik berada dalam wilayah yang berbeda.
Ia berada dalam ranah keyakinan, pemahaman, dan cara seseorang memaknai realitas.
Tuhan sebagai Persoalan Metafisis
Persoalan tentang Tuhan bukanlah persoalan yang sederhana.
Tuhan tidak hadir sebagai objek yang dapat disentuh, ditimbang, atau diamati secara langsung.
Tuhan merupakan persoalan metafisis.
Persoalan yang berkaitan dengan dunia ide, abstraksi, refleksi, dan pengalaman batin.
Karena itu, pemahaman manusia tentang Tuhan selalu dipengaruhi oleh banyak faktor:
Latar budaya tempat seseorang lahir.
Tradisi yang diwariskan kepadanya.
Pendidikan yang ia terima.
Referensi yang ia baca.
Pengalaman hidup yang ia jalani.
Kapasitas intelektual dan reflektif yang ia miliki.
Tidak semua manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses seluruh faktor tersebut.
Akibatnya, tidak semua manusia akan sampai pada kesimpulan yang sama mengenai Tuhan.
Dan itu adalah sesuatu yang wajar.
Karena perbedaan keyakinan sering kali lebih merupakan konsekuensi dari perjalanan intelektual dan eksistensial seseorang daripada hasil dari niat jahat.
Dosa Kemanusiaan Lebih Mudah Dipahami
Berbeda dengan persoalan Tuhan.
Persoalan kemanusiaan jauh lebih konkret.
Hampir semua manusia memahami bahwa dicuri itu menyakitkan.
Dikhianati itu menyakitkan.
Ditindas itu menyakitkan.
Dibunuh itu menyakitkan.
Pemahaman ini tidak memerlukan teori metafisika yang rumit.
Tidak memerlukan pendidikan filsafat.
Tidak memerlukan pengetahuan teologis yang mendalam.
Bahkan tanpa mengenal agama sekalipun, manusia dapat memahami bahwa memperlakukan sesama secara kejam adalah sesuatu yang salah.
Mengapa?
Karena manusia memiliki kemampuan untuk merasakan penderitaan.
Dan dari kemampuan merasakan itulah lahir empati.
Kita tidak ingin disakiti.
Karena itu kita memahami mengapa menyakiti orang lain adalah tindakan yang buruk.
Antara Kesalahan Berpikir dan Kesalahan Bertindak
Di sinilah saya melihat adanya perbedaan mendasar.
Kesalahan dalam memahami Tuhan adalah kesalahan dalam wilayah pemikiran.
Sedangkan kejahatan terhadap sesama manusia adalah kesalahan dalam wilayah tindakan.
Yang pertama berada dalam ranah keyakinan.
Yang kedua berada dalam ranah penderitaan nyata.
Karena itu saya cenderung melihat bahwa perbedaan keyakinan seharusnya lebih mudah dimaklumi daripada tindakan yang merusak kehidupan manusia.
Seseorang mungkin keliru dalam memahami Tuhan.
Namun kekeliruan itu tidak otomatis melahirkan korban.
Sebaliknya, seseorang dapat mengaku memiliki keyakinan yang paling benar tentang Tuhan, tetapi tetap melakukan korupsi, penindasan, atau kekerasan terhadap sesamanya.
Dalam kasus seperti itu, yang lebih mendesak untuk dipersoalkan bukanlah apa yang ia yakini, melainkan apa yang ia lakukan.
Penutup
Karena alasan-alasan itulah saya cenderung memandang syirik bukan pertama-tama sebagai persoalan moral, melainkan sebagai persoalan pemahaman.
Sebagai persoalan cara berpikir.
Sebagai konsekuensi dari perjalanan intelektual dan spiritual manusia yang beragam.
Sedangkan kejahatan kemanusiaan adalah persoalan moral yang jauh lebih konkret karena dampaknya langsung dirasakan oleh sesama manusia.
Mungkin seseorang dapat keliru tentang Tuhan.
Tetapi ketika seseorang mencuri, menindas, menyiksa, atau membunuh, kekeliruan itu tidak lagi berada dalam wilayah gagasan, melainkan telah menjelma menjadi penderitaan yang nyata.
Dan bukankah pertanyaan moral yang paling mendasar bukanlah “Apa yang Anda yakini tentang Tuhan?”, melainkan:
“Apa akibat dari keyakinan dan tindakan Anda terhadap kehidupan manusia lainnya?”