: Dirja Wiharja
Bagaimana Menurut Anda?
Apakah Anda sudah muak dengan nasib Anda hari ini?
Bingung. Panik. Bosan.
Tidak mengerti mengapa Tuhan yang Anda yakini seolah tidak peduli dan tidak kunjung mengubah hidup Anda yang terasa tidak pernah menyenangkan.
Apalagi untuk benar-benar merasakan apa yang disebut sebagai kebahagiaan.
Ada orang yang mengatakan bahwa setelah kita berusaha semaksimal mungkin, sampai jungkir balik sekalipun, tetapi tetap tidak berhasil, maka itulah yang dinamakan takdir Tuhan.
Apakah Anda tidak merasa ada sesuatu yang lucu di sini?
Mari kita jujur.
Bukankah itu sama saja dengan mengatakan bahwa takdir Tuhan adalah batas ketidaktahuan kita?
Batas ketidakberdayaan kita?
Atau bahkan batas kemalasan kita?
Ketika sesuatu tidak mampu kita pahami, kita menyebutnya takdir.
Ketika sesuatu tidak mampu kita raih, kita juga menyebutnya takdir.
"Memang cuma segini jatah saya dari Tuhan."
Misalnya saya.
Saya jarang melatih diri agar tulisan saya semakin baik.
Jarang melakukan eksperimen agar tulisan saya semakin menarik.
Akibatnya, masyarakat maya tidak terlalu tertarik membacanya.
Padahal setiap hari saya rajin membaca dari berbagai sumber.
Rajin menambah wawasan.
Tetapi saya menulis tanpa banyak latihan dan tanpa banyak evaluasi.
Hasilnya tetap saja tidak berbobot.
Lalu, apakah ini bisa saya sebut sebagai takdir Tuhan?
Ataukah ini sekadar akibat dari kemalasan saya untuk belajar lebih kreatif?
Dulu saya sering berpikir bahwa orang yang sukses secara materi dan tampak bahagia dalam hidupnya adalah orang-orang yang memang sudah ditakdirkan demikian oleh Tuhan.
Tetapi itu ketika saya masih memahami persoalan dengan cara seperti itu.
Kemudian saya mulai membalik keyakinan tersebut.
Jika semua adalah takdir Tuhan, maka apa pun yang terjadi adalah takdir Tuhan.
Saya menulis ini karena takdir Tuhan.
Anda membaca tulisan ini karena takdir Tuhan.
Orang miskin karena takdir Tuhan.
Orang kaya karena takdir Tuhan.
Orang korupsi karena takdir Tuhan.
Orang menyembah berhala karena takdir Tuhan.
Orang gagal kuliah karena takdir Tuhan.
Orang memperkosa karena takdir Tuhan.
Orang menghina saya dalam hati karena takdir Tuhan.
Semuanya karena takdir Tuhan.
Hmm...
Kacau.
Berarti takdir Tuhan dipahami sebagai segala sesuatu yang terjadi di alam semesta.
Titik.
Tidak lebih dan tidak kurang.
Dan pemahaman seperti itulah yang sering saya dengar dalam berbagai ceramah dan pengajian.
Dari mana asal cara pandang seperti itu?
Dari berbagai ayat kitab suci yang secara umum dipahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali atas kehendak Tuhan.
Saya mulai sumpek dengan pemahaman semacam itu.
Karena jika segala sesuatu dilempar begitu saja kepada Tuhan, maka manusia perlahan kehilangan tanggung jawab atas dirinya sendiri.
Lalu kepasrahan dipuji sebagai iman.
Kemalasan dibungkus sebagai tawakal.
Kebuntuan dibaptis menjadi takdir.
Dan ketidakmauan berpikir dianggap sebagai bentuk ketundukan.
Maka saya mulai bertanya:
Apa sebenarnya takdir itu?
Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya berkenalan dengan berbagai perdebatan dalam teologi Islam.
Saya mulai membaca tentang Jabariyah.
Tentang Qadariyah.
Tentang Mu'tazilah.
Tentang berbagai perdebatan panjang yang ternyata sudah berlangsung berabad-abad sebelum saya lahir.
Bahkan, sejarah mencatat bahwa perdebatan tentang masalah ini pernah begitu panas hingga berujung pada konflik dan pertumpahan darah.
Dari situ saya mengenal paham fatalisme.
Pandangan bahwa segala sesuatu sudah ditentukan sejak azali.
Bahwa seluruh perjalanan alam semesta telah tertulis dalam skenario Tuhan.
Bahwa apa yang akan terjadi hingga akhir zaman telah tercatat sejak awal.
Dari situ pula saya mengenal pandangan lain:
Bahwa manusia memiliki kebebasan memilih.
Bahwa tanggung jawab manusia hanya masuk akal apabila manusia benar-benar memiliki ruang untuk menentukan tindakannya sendiri.
Dan dari sinilah perdebatan menjadi semakin rumit.
Karena kedua kubu sama-sama memiliki argumen.
Sama-sama memiliki landasan.
Sama-sama merasa memiliki pembenaran.
Semakin jauh saya membaca, semakin saya menyadari bahwa persoalan takdir bukan persoalan sederhana.
Ia bukan sekadar urusan rezeki, jodoh, maut, atau keberuntungan.
Ia menyentuh akar terdalam tentang bagaimana manusia memahami Tuhan, kebebasan, tanggung jawab, dan realitas itu sendiri.
Masalah ini menyentuh wilayah metafisika.
Wilayah ontologi.
Wilayah yang sejak dahulu membuat para teolog, filsuf, dan pemikir saling berdebat tanpa pernah benar-benar mencapai kata akhir.
Karena itu saya mulai curiga.
Mungkin masalah takdir memang tidak sesederhana yang sering dikhotbahkan.
Mungkin setiap jawaban hanya akan melahirkan pertanyaan baru.
Dan setiap kepastian akan memunculkan keraguan berikutnya.
Untuk sementara, saya memilih berhenti melambung terlalu jauh ke langit ketujuh.
Saya memilih sesuatu yang lebih sederhana.
Saya tidak lagi ingin dengan mudah melemparkan kesalahan kepada Tuhan untuk setiap kegagalan yang saya alami.
Tetapi saya juga tidak ingin mengklaim seluruh keberhasilan sebagai hasil kerja saya semata.
Saya memilih bersikap realistis.
Bukan sekadar positif thinking.
Karena positif thinking kadang hanya cara yang sopan untuk menyangkal kenyataan.
Jika seseorang menampar saya, saya tidak ingin berpura-pura mengatakan bahwa saya tidak sakit.
Karena kenyataannya saya memang sakit.
Dan mengakui kenyataan apa adanya adalah bentuk kejujuran yang paling dekat dengan pengalaman hidup saya.
Sekarang izinkan saya mengajukan beberapa pertanyaan.
Siapa yang membuat Anda membaca tulisan ini?
Tuhan atau Anda sendiri?
Siapa yang membuat Anda membuka halaman ini?
Tuhan atau keputusan Anda?
Siapa yang membuat Anda belajar menggunakan Facebook, Twitter, atau berbagai aplikasi lain?
Tuhan atau usaha Anda sendiri?
Tentu saya tidak ingin hanya memberondong Anda dengan pertanyaan.
Karena itu saya akan menjawab terlebih dahulu.
Menurut saya:
Hal-hal itu terjadi karena Anda sendiri yang melakukannya.
Karena berbagai syarat yang dibutuhkan telah Anda penuhi.
Karena ada usaha.
Karena ada tindakan.
Karena ada proses.
Karena ada hukum sebab-akibat yang bekerja.
Dan menariknya, semua itu tetap bisa terjadi meskipun Anda tidak sedang berdoa, tidak sedang tersenyum, bahkan mungkin sedang mengeluh atau marah.
Namun hasilnya tetap muncul ketika syarat-syaratnya terpenuhi.
Nah, sekarang bagaimana menurut Anda?
Silakan.
Dan sebelum Anda berpikir terlalu jauh, berhati-hatilah.
Perbanyak istigfar.
Siapa tahu, dengan niat yang baik, kita bisa terhindar dari kesesatan...
Atau justru menemukan bentuk kesesatan yang selama ini kita sebut sebagai kebenaran. Uhuk!