Ada sebuah kisah kuno, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bagaikan nyala lilin yang dibawa menembus kegelapan.
Dahulu kala, ketika Tuhan baru saja selesai menciptakan dunia, Ia memilih untuk hidup di tengah ciptaan-Nya.
Ia tidak tinggal di langit, ataupun di balik bintang-bintang, melainkan tepat di tengah dunia—di pasar-pasar yang ramai, jalan-jalan yang padat, dan kota-kota yang hiruk-pikuk. Ia ingin dekat dengan umat manusia, mendengar suara mereka, serta berbagi dalam suka dan duka mereka.
Pada awalnya, itu tampak seperti gagasan yang indah.
Namun, seiring berlalunya waktu, hidup-Nya menjadi semakin sulit.
Sejak fajar hingga larut malam, orang-orang datang kepada-Nya tanpa henti.
Seorang pria datang sambil menangis karena istrinya sakit parah.
Seorang wanita datang membawa kesedihan yang tak tertahankan karena anaknya meninggal terlalu muda.
Yang lain mengeluh karena tidak dapat menemukan pekerjaan.
Seorang pedagang meratapi kerugian usahanya.
Seorang petani mengutuk musim kemarau.
Seorang raja khawatir kehilangan takhtanya.
Seorang pengemis berdoa meminta kekayaan.
Seorang kaya berdoa meminta lebih banyak lagi.
Arus keluhan itu tak pernah berakhir.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Abad demi abad.
Orang-orang mengetuk pintu-Nya setiap saat. Mereka tidak peduli apakah Ia sedang beristirahat atau terjaga, apakah tengah malam atau tengah hari. Semua orang menginginkan sesuatu. Semua orang memikul beban. Semua orang memiliki masalah yang terasa begitu besar.
Dan Tuhan pun mendengarkan.
Ia mendengarkan permohonan yang tak ada habisnya, kekhawatiran yang tak berkesudahan, dan keluhan yang terus mengalir.
Lama-kelamaan, bahkan keabadian pun mulai terasa melelahkan.
Akhirnya, kewalahan oleh banjir keluhan manusia yang tak pernah berhenti, Tuhan memanggil para penasihat-Nya yang paling bijaksana.
“Saudara-saudaraku,” kata-Nya, “aku tidak sanggup lagi menanggung ini. Orang-orang ini tidak pernah berhenti datang. Apa yang harus kulakukan?”
Para penasihat saling berpandangan dengan cemas.
Akhirnya, salah seorang dari mereka berbicara.
“Sejujurnya, Tuhan, kesalahan pertama-Mu adalah menciptakan dunia. Kesalahan kedua-Mu adalah memilih untuk tinggal di dalamnya. Jika Engkau ingin menjaga kedamaian-Mu, Engkau harus bersembunyi di suatu tempat. Jika tidak, orang-orang ini akan membuat-Mu gila.”
Tuhan menghela napas.
“Mungkin kau benar. Tapi ke mana aku harus pergi?”
Seorang penasihat segera menjawab,
“Pergilah ke puncak Gunung Everest. Pasti tidak akan ada seorang pun yang menemukan-Mu di sana.”
Tuhan tersenyum lembut.
“Engkau tidak mengetahui masa depan,” kata-Nya. “Aku mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan. Suatu hari, seorang pria bernama Edmund Hillary akan berdiri di puncak itu. Dan setelah ia mencapainya, tak terhitung banyaknya orang lain akan mengikuti. Jalan-jalan akan dibangun. Ekspedisi akan diadakan. Hotel, pemandu, dan kerumunan orang akan berkumpul. Cepat atau lambat, mereka akan menemukanku di sana—dan mereka akan membawa semua keluhan mereka bersama mereka.”
Penasihat lain mengajukan usul berbeda.
“Kalau begitu, pergilah ke Bulan.”
Tuhan menggelengkan kepala.
“Engkau meremehkan manusia. Tidak ada gunung yang terlalu tinggi, tidak ada lautan yang terlalu dalam, dan tidak ada planet yang terlalu jauh. Cepat atau lambat, manusia akan mencapai setiap tempat yang dapat mereka bayangkan.”
Ruangan itu pun menjadi sunyi.
Tak seorang pun dapat memikirkan tempat persembunyian yang pada akhirnya tidak akan ditemukan manusia.
Lalu, dari sudut ruangan yang paling jauh, seorang penasihat tua perlahan berdiri.
Ia adalah yang tertua di antara mereka dan begitu jarang berbicara sehingga banyak yang hampir lupa seperti apa suaranya.
Ia mendekat kepada Tuhan dan berbisik lembut di telinga-Nya.
“Tuanku, aku mengetahui satu tempat yang tidak akan pernah terpikir oleh manusia untuk mencarinya.”
Mata Tuhan berbinar penuh rasa ingin tahu.
“Dan di manakah itu?”
Penasihat tua itu tersenyum.
“Bersembunyilah di dalam hati manusia itu sendiri. Tinggallah di pusat terdalam dari setiap pribadi. Manusia akan mencari di langit, mendaki gunung, menyeberangi lautan, dan menjelajahi dunia-dunia yang jauh. Mereka akan mencari ke mana-mana kecuali ke dalam diri mereka sendiri.”
Untuk sesaat, Tuhan tetap diam.
Kemudian senyum merekah di wajah-Nya.
“Itu,” kata-Nya, “adalah gagasan yang sungguh luar biasa.”
Maka, menurut kisah tua itu, Tuhan menghilang dari semua tempat yang selama ini dianggap manusia sebagai tempat untuk menemukan-Nya.
Ia menarik diri ke dalam tempat suci yang sunyi, tersembunyi di dalam setiap insan.
Dan di sanalah Ia tetap berada hingga hari ini.
Sekarang setelah aku memberitahukan rahasia ini kepadamu, pilihan ada di tanganmu.
Jika engkau sungguh ingin bertemu dengan-Nya, jangan hanya mencari-Nya di kuil, gereja, masjid, kitab suci, gunung, atau perjalanan ziarah yang jauh.
Menolehlah ke dalam dirimu.
Lakukan perjalanan ke kedalaman hening dari keberadaanmu sendiri.
Namun ketika engkau pergi ke sana, jangan membawa keluhan.
Jangan membawa tuntutan.
Jangan datang dengan daftar keinginan.
Sebab Tuhan akan merasa gembira hanya karena melihatmu datang.
Lagipula, sangat sedikit pengunjung yang berhasil menemukan jalan menuju-Nya selama ribuan tahun ini.
Hanya segelintir orang yang berhasil mencapai-Nya—mereka yang cukup tenang untuk mendengarkan, cukup hening untuk mendengar, dan cukup sadar untuk melihat.
Dan dalam keheningan yang begitu mendalam itu, mereka menemukan bahwa Dia yang selama ini mereka cari ternyata telah menunggu di dalam diri mereka sepanjang waktu.
