: Dirja Wiharja




Ada dua jenis keyakinan yang saya pahami.

Pertama: Keyakinan yang Meyakinkan

Seseorang bertanya:

"Apakah Anda yakin matahari itu ada?"

"Tentu."

"Apa alasannya?"

"Karena saya melihatnya."


"Apakah Anda yakin gula itu manis?"

"Tentu."

"Apa alasannya?"

"Karena saya pernah mencicipinya."


"Apakah Anda yakin cinta itu ada?"

"Tentu."

"Apa alasannya?"

"Karena saya pernah jatuh cinta. Dan kebodohan yang menyertainya masih saya ingat sampai sekarang."

Dalam kasus-kasus seperti ini, keyakinan lahir dari pengalaman.

Dari perjumpaan.

Dari sesuatu yang setidaknya pernah menyentuh kesadaran secara langsung.

Kita boleh salah menafsirkan pengalaman.

Tetapi pengalaman itu sendiri pernah terjadi.


Kedua: Keyakinan yang Meragukan

"Apakah Anda yakin Muhammad pernah hidup?"

"Saya yakin."

"Apakah Anda yakin beliau seorang nabi?"

"Saya tidak tahu."

"Mengapa?"

"Karena untuk mengetahui seseorang menerima wahyu dari Tuhan, terlebih dahulu saya harus mengetahui bahwa Tuhan memang ada. Dan di situlah masalahnya dimulai."


"Jadi Anda meragukan Tuhan?"

"Saya meragukan banyak hal."

"Mengapa?"

"Karena saya belum pernah melihat Tuhan."

"Apakah Anda harus melihat segala sesuatu untuk mempercayainya?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Tetapi untuk sesuatu yang dikatakan paling penting dalam seluruh hidup manusia, saya kira pertanyaan yang serius tidak boleh dianggap dosa."


"Apakah Anda tidak pernah kagum melihat alam semesta?"

"Sering."

"Nah, itulah Tuhan."

"Tunggu dulu."

"Apa lagi?"

"Saya kagum melihat gunung."

"Ya."

"Saya kagum melihat laut."

"Ya."

"Saya kagum melihat perempuan cantik."

"..."

"Lalu?"

"Apakah semua rasa kagum otomatis bernama Tuhan?"


"Anda terlalu rasional."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Saya tetap menerimanya sebagai pujian."


"Tapi rasa takjub adalah bukti adanya Tuhan."

"Mengapa?"

"Karena dari mana lagi rasa takjub itu berasal?"

"Dari sistem saraf saya."

"Tapi siapa yang menciptakan sistem saraf itu?"

"Kenapa setiap kali Anda tidak tahu jawabannya, Tuhan selalu dipanggil menjadi saksi ahli?"


"Karena tidak mungkin sesuatu ada tanpa pencipta."

"Baik."

"Nah."

"Kalau segala sesuatu harus punya pencipta, siapa yang menciptakan Tuhan?"

"Tuhan tidak diciptakan."

"Mengapa?"

"Karena Tuhan berbeda."

"Jadi ketika alam ada tanpa pencipta itu tidak mungkin, tetapi ketika Tuhan ada tanpa pencipta itu mungkin?"

"Ya."

"Menarik sekali."

"Apa yang menarik?"

"Aturan logika yang Anda pakai ternyata berlaku untuk segala sesuatu kecuali kesimpulan yang ingin Anda pertahankan."


"Anda terlalu banyak menggunakan akal."

"Lalu sebaiknya saya menggunakan apa?"

"Hati."

"Apa hati bisa berpikir?"

"Bisa merasakan."

"Kalau begitu hati adalah alat untuk merasa, bukan alat untuk berpikir."


"Tetapi Tuhan dirasakan, bukan dipikirkan."

"Kalau begitu semua perasaan saya harus saya anggap Tuhan?"

"Tidak."

"Lalu bagaimana membedakannya?"

"Kalau baik itu dari Tuhan."

"Kalau buruk?"

"Dari setan."

"Siapa yang memberi definisi itu?"

"Kitab suci."


"Mengapa Anda percaya kitab suci?"

"Karena kitab suci adalah firman Tuhan."

"Dari mana Anda tahu itu firman Tuhan?"

"Karena kitab suci mengatakan demikian."

"Jadi kitab suci membuktikan dirinya sendiri?"

"Kurang lebih."

"Kalau saya menulis buku berjudul Saya Selalu Benar, lalu di halaman pertama saya tulis: 'Buku ini benar karena buku ini mengatakan dirinya benar', apakah saya otomatis menjadi nabi?"


Dia mulai gelisah.

Saya mulai menikmati diskusi.


"Anda menghina keyakinan saya."

"Tidak."

"Anda sedang menyudutkan agama."

"Tidak."

"Lalu apa yang Anda lakukan?"

"Saya hanya bertanya."

"Tetapi pertanyaan Anda membuat saya tidak nyaman."

"Itulah fungsi pertanyaan."


"Jadi menurut Anda saya bodoh?"

"Tidak."

"Syukurlah."

"Saya hanya mengatakan bahwa keyakinan Anda belum pernah diperiksa secara serius."


Dia terdiam.

Lalu berkata pelan:

"Tapi saya yakin."

Saya tersenyum.

"Itulah yang menarik."

"Apa yang menarik?"

"Banyak orang mengira keyakinan adalah akhir dari keraguan."

"Bukankah memang begitu?"

"Belum tentu."

"Maksudnya?"

"Kadang keyakinan hanyalah keraguan yang diberi tempat tinggal permanen."


Kami sama-sama diam.

Lalu saya menyadari sesuatu.

Mungkin persoalannya bukan apakah Tuhan ada atau tidak.

Bukan pula apakah agama benar atau salah.

Mungkin persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih mengerikan:

Manusia sering kali tidak mampu membedakan antara sesuatu yang diketahuinya, sesuatu yang diyakininya, dan sesuatu yang hanya terus-menerus diulang sampai akhirnya terasa seperti kebenaran.

Dan mungkin pertanyaan yang paling menampar bukanlah:

"Apakah Tuhan itu ada?"

Melainkan:

"Berapa banyak dari apa yang Anda sebut sebagai keyakinan sebenarnya lahir dari pencarian yang jujur, dan berapa banyak yang hanya Anda warisi, lalu Anda pertahankan mati-matian karena takut hidup tanpa kepastian?"