: Dirja Wiharja





Jika Anda pusing membaca judul tulisan ini,

itu pertanda Anda sudah terjebak.

Terjebak oleh pikiran Anda sendiri.

Oleh penafsiran Anda sendiri.

Oleh cara Anda memahami kata "Tuhan".

Jika Anda marah dan merasa saya sedang mempermainkan Tuhan,

maka mungkin persoalannya bukan pada Tuhan,

melainkan pada cara Anda membayangkan Tuhan.

Masih bingung?

Memang itulah tujuan tulisan ini.

Bukan untuk memberi jawaban.

Melainkan untuk mengusik tidur panjang kesadaran.

Agar kita sadar betapa luasnya dunia gagasan.

Betapa dalamnya lautan pemikiran.

Betapa sering manusia mengira dirinya sudah sampai,

padahal baru berdiri di halaman depan pertanyaan.


Baiklah.

Mari kita buka pelan-pelan mata kuliah kecil ini.

Siapkan mata.

Siapkan telinga.

Dan yang paling penting:

siapkan keberanian untuk meragukan apa yang selama ini terasa pasti.

Karena bobot SKS-nya mungkin akan menjepit akal sehat Anda.

Bahkan mungkin menjungkirbalikkan isi kepala Anda.


Dua Jenis Tuhan

Secara kasar, saya membedakan dua jenis Tuhan:

Pertama, Tuhan Imajiner.

Kedua, Tuhan yang Sebenarnya.


Tuhan Imajiner

Tuhan imajiner adalah Tuhan yang hidup dalam pikiran manusia.

Tuhan yang dibentuk oleh bahasa.

Oleh budaya.

Oleh pendidikan.

Oleh tradisi.

Oleh harapan.

Oleh ketakutan.

Oleh imajinasi.

Manusia berbicara tentang Tuhan.

Menulis tentang Tuhan.

Berdebat tentang Tuhan.

Bahkan berperang demi Tuhan.

Namun semua yang mereka katakan tetap berlangsung di dalam ruang kesadaran manusia.

Di dalam bahasa manusia.

Di dalam konsep-konsep manusia.

Karena itu, sejauh apa pun manusia berbicara tentang Tuhan, yang sedang mereka pegang sesungguhnya hanyalah gambaran tentang Tuhan.

Bukan Tuhan itu sendiri.

Sama seperti peta bukanlah wilayah yang dipetakan.

Dan kata "api" bukanlah api yang membakar.

Maka Tuhan yang hidup dalam pikiran manusia adalah Tuhan hasil konstruksi kesadaran manusia.

Tuhan konseptual.

Tuhan imajiner.

Tuhan yang dibentuk oleh kemampuan manusia untuk membayangkan.


Tuhan yang Sebenarnya

Lalu bagaimana dengan Tuhan yang sebenarnya?

Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan sebagaimana adanya.

Bukan sebagaimana dipikirkan.

Bukan sebagaimana dibayangkan.

Bukan sebagaimana dijelaskan.

Bukan sebagaimana dituliskan.

Tuhan yang otentik.

Tuhan pada diri-Nya sendiri.

Keberadaan yang tidak bergantung pada bahasa manusia.

Tidak bergantung pada keyakinan manusia.

Tidak bergantung pada kitab, doktrin, ataupun definisi.

Karena itu, Tuhan yang sebenarnya tidak dapat direduksi menjadi kata-kata.

Tidak dapat dikurung dalam konsep.

Tidak dapat dipenjarakan dalam rumusan teologi.

Dan tidak dapat ditangkap sepenuhnya oleh pancaindra ataupun perasaan.


Masalahnya Ada di Sini

Lalu muncul pertanyaan klasik:

Bagaimana membuktikan bahwa Tuhan yang sebenarnya itu ada?

Biasanya manusia mulai menjawab dengan analogi.

Dengan argumen.

Dengan metafora.

Dengan filsafat.

Dengan kitab suci.

Dengan pengalaman spiritual.

Dengan perasaan.

Dengan logika.

Dengan berbagai bentuk spekulasi intelektual.

Namun di situlah paradoksnya.

Setiap kali manusia mencoba menjelaskan Tuhan,

hasil akhirnya tetap berupa gambaran tentang Tuhan.

Tetap berupa konsep.

Tetap berupa imajinasi.

Tetap berupa konstruksi pikiran.

Dengan kata lain,

yang ditemukan kembali adalah Tuhan imajiner.

Sedangkan Tuhan yang sebenarnya tetap berada di luar jangkauan seluruh penjelasan itu.


Pelajaran yang Bisa Dipetik

Apa hikmah dari semua ini?

Barangkali inilah peliknya pembicaraan tentang Tuhan.

Semakin dalam seseorang berpikir,

semakin ia menyadari betapa sedikit yang sungguh-sungguh diketahuinya.

Semakin jauh seseorang menyelam,

semakin luas lautan misteri yang terbentang di hadapannya.

Namun anehnya,

bagi sebagian orang persoalan Tuhan justru terasa sangat sederhana.

Terlalu sederhana.

Seolah seluruh misteri kosmos telah selesai hanya dengan beberapa kalimat hafalan.

Seolah seluruh rahasia keberadaan telah tuntas hanya dengan satu definisi.


Maka saya menemukan sebuah ironi:

Semakin sederhana cara seseorang berpikir,

semakin mudah ia mengaku telah memahami Tuhan.

Semakin sedikit keraguannya,

semakin besar keyakinannya bahwa dirinya sudah tahu.

Padahal mungkin yang ia kenal hanyalah bayangan tentang Tuhan.

Bukan Tuhan itu sendiri.

Karena Tuhan sering kali diperlakukan seolah-olah teman sekamar.

Seolah-olah manusia tahu persis apa yang Tuhan pikirkan.

Apa yang Tuhan sukai.

Apa yang Tuhan benci.

Dan siapa yang akan dimasukkan-Nya ke surga atau ke neraka.

So, Apa yang anda pikirkan?