Di antara sekian banyak nama besar dalam sejarah Islam, hanya sedikit yang pengaruhnya mampu melintasi batas zaman, mazhab, dan disiplin ilmu sebagaimana Imam Al-Ghazali. Beliau bukan hanya seorang faqih, teolog, filsuf, dan sufi, tetapi juga seorang pengembara ruhani yang berani mempertanyakan segala sesuatu, termasuk dirinya sendiri. Setelah mencapai puncak kemasyhuran sebagai ulama besar, beliau justru meninggalkan segala kedudukan demi mencari sesuatu yang lebih hakiki: kebenaran yang benar-benar hidup di dalam hati. Dari perjalanan panjang itulah lahir karya-karya agung yang hingga hari ini masih menjadi penuntun jutaan pencari Tuhan.
Dua di antara mahakaryanya yang paling berpengaruh adalah Ihya' Ulumuddin, sebuah ensiklopedia tentang bagaimana menghidupkan kembali agama melalui penyucian jiwa dan pembentukan akhlak, serta Minhajul Abidin, karya yang merangkum jalan seorang hamba menuju Allah sebagai sebuah perjalanan spiritual yang bertahap. Dalam kitab terakhir inilah Al-Ghazali menggambarkan bahwa perjalanan manusia menuju kesempurnaan bukanlah jalan yang datar atau mudah. Ia adalah pendakian panjang yang melewati berbagai lembah, ujian, dan rintangan sebelum akhirnya sampai kepada tujuan yang sesungguhnya.
Bagi Al-Ghazali, agama bukan sekadar pengetahuan yang dihafal lalu dipraktekkan begitu saja, melainkan, ia adalah jalan transformasi yang mengubah manusia dari sekadar hidup menjadi benar-benar hidup.
Beliau mengatakan:
Dalam perjalanan pertumbuhan manusia—dari manusia menuju Tuhan, dari manusia sebagai potensi menuju manusia yang benar-benar terwujud, dari kemungkinan menjadi kenyataan—ada tujuh lembah yang harus dilalui.
Ketujuh lembah ini sangat penting.
Setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan dirinya pasti harus melewati semuanya.
Jika kita memahami bagaimana bersikap di setiap lembah, kita akan mampu melewatinya dan mencapai puncak.
Mengapa?
Karena setiap lembah selalu dikelilingi oleh gunung-gunung yang menjulang.
Selama kita hanya berputar-putar di dalam lembah, kita belum sampai ke tujuan.
Namun jika kita tidak terjebak di sana, tidak tersesat, tidak terlalu mencintai lembah itu, tetap menjaga jarak, tetap menjadi saksi yang sadar, dan terus mengingat bahwa lembah itu bukanlah rumah kita, bahwa kita hanyalah musafir yang sedang singgah, maka kita akan terus mendaki menuju puncak.
Dan setiap kali berhasil melewati satu lembah, akan ada sebuah perayaan batin.
Sebuah kegembiraan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Namun perjalanan belum selesai.
Setelah satu lembah terlewati, akan datang lembah berikutnya.
Begitulah seterusnya.
Ada tujuh lembah yang harus dilalui.
Ketika seseorang berhasil melewati lembah yang ketujuh, perjalanan pun selesai.
Ia telah sampai pada hakikat dirinya.
Di sana tidak ada lagi pertentangan dalam batin.
Tidak ada lagi kecemasan.
Tidak ada lagi kegelisahan.
Manusia akhirnya menjadi utuh.
Keadaan inilah yang dalam tradisi Buddha disebut Buddhahood—keadaan tercerahkan.
Dalam tradisi Kristen disebut menjadi seperti Kristus (Christ Consciousness).
Dalam tradisi Jain disebut Jina, yaitu Sang Pemenang, orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri.
Dalam Islam dikenal dengan istilah Insan Kamil. Manusia Paripurna. Individu yang telah mencapai kesempurnaan dalam dimensi spiritual, moral, dan intelektual. Kedekatannya dengan Tuhan tidak membuatnya menjauh dari kehidupan, tetapi justru menjadikannya sumber kasih sayang, kebijaksanaan, serta manfaat nyata bagi seluruh alam semesta (Rahmatan lil-aalamin).
Namanya boleh berbeda-beda.
Tetapi hakikatnya sama.
Selama manusia belum kembali kepada Tuhan, selama ia belum menyatu dengan Kehendak Ilahi, hidupnya akan selalu diwarnai kegelisahan.
Karena itu, untuk sampai kepada Tuhan, ketujuh lembah ini harus dilalui.
Setiap lembah memiliki daya tariknya sendiri.
Masing-masing menawarkan kenyamanan, kenikmatan, bahkan rasa puas yang membuat seorang pejalan ingin berhenti di sana.
Di sinilah bahayanya.
Sangat mudah bagi seseorang untuk jatuh cinta pada satu lembah.
Merasa cukup.
Merasa sudah sampai.
Padahal ia baru singgah.
Jika ia tidak mampu melepaskan diri, ia tidak akan pernah memasuki lembah berikutnya.
Padahal, setiap kali berhasil keluar dari sebuah lembah, selalu ada sebuah puncak gunung yang menanti.
Dan setiap puncak membawa kebahagiaan yang lebih tinggi daripada sebelumnya.
Semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin dalam sukacita yang dirasakan.
Hingga akhirnya, di lembah ketujuh, tibalah pengalaman yang oleh para sufi digambarkan sebagai ledakan kesadaran kosmis.
Pada saat itu, ego lenyap.
Perasaan "aku" menghilang.
Yang tersisa hanyalah Tuhan.
Bukan lagi "aku dan Tuhan."
Bukan lagi "aku mencari Tuhan."
Tetapi hanya Tuhan semata.
Sekarang, dengarkanlah penjelasan tentang tujuh lembah ini dengan sungguh-sungguh.
Jangan menganggap Al-Ghazali sedang berbicara tentang filsafat yang rumit.
Kaum sufi bukanlah para penggemar teori.
Mereka tidak sibuk berdebat tentang konsep-konsep.
Mereka adalah para praktisi.
Orang-orang yang menguji setiap ajaran dengan pengalaman hidup.
Karena itu, setiap kalimat yang mereka ucapkan lahir dari pengalaman langsung.
Bukan dari spekulasi.
Ajaran ini bukan ditujukan untuk orang yang sekadar ingin tahu.
Bukan untuk mereka yang hanya ingin memperkaya wawasan atau memenangkan perdebatan.
Melainkan untuk para pencari.
Untuk mereka yang benar-benar sedang menempuh perjalanan batin.
Untuk mereka yang rela mengubah dirinya, bukan sekadar menambah pengetahuannya.
Untuk mereka yang bersedia berjalan, jatuh, bangkit, lalu terus melangkah demi memperoleh secercah pengalaman akan Kebenaran.
