: Dirja Wiharja




Peringatan...!!!

Awas, ini tulisan keras!

Jangan langsung panik.

Jangan buru-buru emosi.

Jika Anda seorang Muslim, sangat wajar jika judul tulisan ini membuat Anda tersinggung.

Tetapi setidaknya, tersinggunglah setelah membaca isinya sampai selesai.

Berikut adalah wawancara saya dengan seseorang yang melontarkan pernyataan kurang ajar tersebut.


Saya:

Kenapa Anda berkata demikian?

Kurang Ajar:

Karena menurut saya, itulah ungkapan yang paling tepat.

Saya:

Maksud Anda untuk semua umat Islam atau hanya golongan tertentu?

Kurang Ajar:

Tentu tidak semuanya.

Terutama mereka yang mengatasnamakan Islam untuk mengamuk, meneror, dan menyebarkan ketakutan.

Saya:

Kalau begitu, apa dasar dari ungkapan Anda?

Kurang Ajar:

Karena tampak sekali betapa macetnya cara berpikir mereka.

Islam itu, setidaknya menurut klaim para pemeluknya, adalah agama yang mulia.

Rahmatan lil 'alamin.

Rahmat bagi semesta.

Penerang bagi kehidupan.

Tapi lihatlah kenyataan.

Yang terjadi justru sering kali berubah menjadi "ketakutan lil 'alamin."

Orang-orang bukan merasa teduh.

Malah merasa waswas.


Saya:

Hahaha...

Baiklah.

Apa yang sebenarnya Anda lihat dari gejala itu?

Kurang Ajar:

Mereka beragama tanpa berpikir.

Padahal dalam banyak tradisi Islam sendiri disebutkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari akal.

Lalu apa yang terjadi?

Yang bekerja bukan akal.

Yang bekerja adalah emosi.

Yang bekerja adalah fanatisme.

Yang bekerja adalah kemarahan yang diberi jubah suci.

Mereka berbicara tentang jihad.

Berbicara tentang perjuangan.

Berbicara tentang membela agama.

Tetapi pernahkah mereka berpikir berapa banyak nyawa tak berdosa yang hilang?

Berapa banyak keluarga yang hancur?

Berapa banyak fasilitas umum yang rusak?

Berapa banyak anak kecil yang harus menanggung akibat dari tindakan mereka?


Saya:

(Menyalakan rokok.)

Kurang Ajar:

Dengan ukuran moral apa pun, bahkan tanpa membawa agama sekalipun, tindakan semacam itu sulit dibenarkan.

Karena di sana kemanusiaan sudah tidak lagi menjadi pertimbangan.

Yang tersisa hanyalah kemarahan yang merasa dirinya suci.

Akibatnya apa?

Dunia luar tidak lagi melihat pelakunya.

Dunia melihat Islam.

Maka yang menjadi korban bukan hanya manusia.

Islam sendiri ikut menjadi tumbal.

Tumbal politik.

Tumbal kebodohan.

Tumbal fanatisme.

Karena itulah saya bilang:

Benturkan kepala mereka ke tembok.

Bukan untuk melukai mereka.

Tapi supaya jalur-jalur berpikir yang sudah lama mampet itu kembali terbuka.


Saya:

Jadi maksud Anda, umat Islam harus mengasah kemampuan berpikirnya?

Kurang Ajar:

Tepat sekali.

Seratus untuk Anda.


Saya:

Tapi banyak juga orang yang sangat paham tentang Islam secara intelektual.

Banyak peneliti.

Banyak akademisi.

Banyak orientalis.

Banyak pengkaji agama.

Namun mereka tidak menjadi Muslim.

Bagaimana Anda melihat hal itu?

Kurang Ajar:

Itu urusan mereka.

Yang ingin saya katakan adalah:

setidaknya mereka mau belajar.

Mereka punya gairah intelektual.

Mereka bersedia membaca keyakinan orang lain.

Mereka bersedia memahami dunia di luar dirinya sendiri.

Terlepas dari apa pun motif mereka.

Sementara sebagian dari kita bahkan malas memahami agamanya sendiri secara mendalam.

Tapi sudah paling cepat marah jika agamanya dipertanyakan.

Bukankah itu ironis?


Saya:

Jadi mempelajari Islam secara intelektual juga tidak otomatis membuat seseorang menjadi Muslim?

Kurang Ajar:

Memang tidak.

Tetapi dengan memahami secara intelektual, setidaknya kita bisa memasuki arena pertarungan gagasan.

Hari ini dunia tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling keras berteriak.

Tetapi oleh siapa yang paling mampu memengaruhi cara berpikir manusia.


Saya:

Maksud Anda?

Kurang Ajar:

Lihat sejarah.

Ketika karya-karya besar dibakar, apakah pemikirannya ikut mati?

Tidak.

Buku bisa dibakar.

Tapi gagasan tidak.

Orang bisa dibunuh.

Tapi ide sering kali justru menjadi lebih hidup setelah pemiliknya mati.

Pemikiran tidak bisa dihancurkan dengan bom.

Tidak bisa dimusnahkan dengan teriakan.

Tidak bisa dikalahkan dengan kemarahan.

Ia hanya bisa ditandingi oleh pemikiran lain yang lebih kuat.


Saya:

Jadi kesimpulan Anda?

Kurang Ajar:

Kalau ingin Islam berjaya di zaman informasi ini, lawanlah dengan cara yang relevan.

Menulis.

Berpikir.

Berdebat.

Membangun media.

Menerbitkan buku.

Menghasilkan karya.

Melahirkan gagasan.

Biarkan orang mengenal Islam melalui kecerdasan para pemeluknya.

Bukan melalui kemarahan mereka.

Karena sebuah artikel bisa menjangkau lebih jauh daripada amarah.

Sebuah buku bisa bertahan lebih lama daripada ledakan.

Sebuah gagasan bisa hidup berabad-abad setelah tubuh pencetusnya menjadi debu.


Bangunlah kesadaran intelektual.

Bukan sekadar kegarangan emosional.

Soal hati, biarlah menjadi urusan Tuhan.

Tidak ada manusia yang berhak mengadili isi hati manusia lain.

Tetapi soal peradaban, pendidikan, kebudayaan, dan kehidupan sosial, itu adalah pekerjaan manusia.

Dan pekerjaan itu menuntut akal yang hidup, bukan amarah yang meledak-ledak.

Karena jika tidak, kita akan menyaksikan sebuah tragedi yang ironis:

Orang-orang terus berteriak,

"Allahu Akbar!"

Tetapi yang membesar bukan kebijaksanaan.

Bukan kemanusiaan.

Bukan kecerdasan.

Melainkan ego, kemarahan, dan fanatisme.


Saya:

....!@#$%^&*())))???