: Dirja Wiharja



Selamat datang.

Wahai calon penghuni surga yang sebentar lagi akan saya lemparkan ke neraka.

Tenang.

Jangan buru-buru tersinggung.

Saya hanya ingin bertanya satu hal:

Mengapa Anda membaca tulisan ini?

Karena ingin masuk surga?

Atau sekadar penasaran?

Jika Anda membacanya karena ingin masuk surga, maka mungkin yang sedang bersemayam di hati Anda bukan surga.

Melainkan neraka.

Neraka dari rasa takut.

Neraka dari hasrat memiliki jaminan.

Neraka dari kegelisahan yang terus-menerus ingin memastikan nasibnya sendiri.


Surga adalah metafora paling indah yang pernah diciptakan manusia.

Ia adalah nama bagi segala kerinduan terdalam.

Dunia yang sempurna.

Kebahagiaan tanpa luka.

Keabadian tanpa kehilangan.

Kedamaian tanpa ancaman.

Surga adalah bahasa bagi harapan.

Tempat segala impian menemukan bentuknya yang paling bercahaya.

Ia adalah dunia "andaikan" yang terus memanggil manusia untuk melampaui dirinya.

Untuk menjadi lebih baik.

Lebih luhur.

Lebih manusiawi.

Lebih hidup.

Menuju titik optimal keberadaannya.


Tetapi justru karena begitu indah, surga menyimpan bahaya yang tidak kalah besar.

Banyak manusia gagal menikmati kehidupan karena terlalu sibuk menabung tiket menuju kehidupan lain.

Banyak manusia lupa mencintai sesamanya karena terlalu sibuk mengamankan kavlingnya sendiri di taman keabadian.

Banyak manusia rela menumpahkan darah demi sebuah alamat yang bahkan belum pernah mereka lihat.

Ironis sekali.

Atas nama surga, manusia menciptakan neraka bagi manusia lain.

Atas nama cinta Tuhan, manusia belajar membenci.

Atas nama keselamatan, manusia menciptakan ketakutan.

Dan atas nama kehidupan abadi, manusia kadang lupa hidup.


Karena itu surga ibarat mata uang dengan dua sisi.

Di satu sisi, ia adalah energi spiritual yang mengangkat manusia dari lumpur egoisme.

Ia mengajarkan harapan.

Mengajarkan ketabahan.

Mengajarkan makna.

Namun di sisi lain, surga dapat berubah menjadi narkotika psikologis.

Membius kesadaran.

Membuat manusia mabuk oleh janji.

Membuat manusia rela menukar kenyataan dengan khayalan.

Membuat manusia lebih mencintai masa depan yang dibayangkan daripada kehidupan yang sedang dijalani.


Maka terkutuklah surga yang menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.

Terkutuklah surga yang membuat manusia lupa mencintai sesamanya.

Terkutuklah surga yang dibangun di atas kebencian dan ketakutan.

Karena surga semacam itu hanyalah bayangan yang dipantulkan oleh ego.

Bukan cahaya yang lahir dari kebijaksanaan.

Sedangkan surga yang sejati mungkin tidak pernah pergi ke mana-mana.

Ia tidak bersembunyi di balik langit ketujuh.

Tidak menunggu setelah kematian.

Tidak meminta tiket dan sertifikat kesalehan.

Ia diam.

Setia menunggu.

Dekat sekali.

Mungkin sedekat kesadaran kita sendiri.


Gemerlap pesta kota berkelip di mana-mana.

Para pemburu malam berlari mengejar tubuh-tubuh yang sementara.

Orang-orang sibuk memburu kesenangan.

Memburu kekuasaan.

Memburu pujian.

Memburu surga-versi-mereka.

Sedangkan di kedalaman batin yang sunyi,

aku menari bersama misteri kehidupan.

Gelap di luar.

Terang di dalam.

Hening tanpa musik.

Takjub tanpa kata.

Dan pada saat itu,

hatiku adalah surgaku.

Du ... du .. du .....