Tengah malam itu, seorang santri yang juga seorang agnostik akut duduk sendirian, berdzikir di beranda kamarnya.
Hanya dia dan segelas kopi hitam yang bertugas membuat matanya lebih awas begadang.
Ia berdzikir perlahan.
"Laa ilaaha..."
Belum sempat mengucapkan illallah, tiba-tiba...
PRAK!
Tasbihnya putus.
Butiran-butiran kayu kauka itu berhamburan ke segala arah penjuru beranda.
Jatuh berserakan di lantai.
Sebagian butiran tasbih itu raib menghilang entah ke dimensi lain.
Santri itu terdiam.
Lalu tertawa.
"Ha ha ha ...! Ternyata tasbih pun tidak tahan mendengar keraguanku."
Mendadak dunia terasa hening.
Waktu seperti melambat.
Pikiran lenyap.
Dan dari kehampaan itu terdengarlah sebuah suara.
Tuhan:
"Siapa kamu?"
Santri Agnostik:
"Harusnya aku yang bertanya. Siapa kamu?"
Tuhan:
"Aku adalah kamu. Tapi versi Maha. Ha.. ha.. ha..!"
Santri Agnostik:
"Waduh... jawaban klasik."
Tuhan:
"Aku serius."
Santri Agnostik:
"Aku tidak percaya."
Tuhan:
"Bagus."
Santri Agnostik:
"Bagus?"
Tuhan:
"Ya. Kepercayaan sering menjadi penghalang terbesar untuk mengenal-Ku."
Santri Agnostik:
"Kau ini Tuhan atau hanya filsuf gadungan?"
Tuhan:
"Apa bedanya?"
Santri Agnostik:
"Kalau Tuhan biasanya memberi wahyu."
Tuhan:
"Kalau filsuf?"
Santri Agnostik:
"Seringnya memberi kebingungan."
Tuhan:
"Aku memberi keduanya. Ha.. ha.. ha.."
Santri Agnostik:
"Oke. Kalau begitu aku ingin bertanya. Apa betul semua agama di dunia adalah ulahmu? Engkau yang ciptakan?"
Tuhan:
"Tentu saja bukan. Ngapain! Saya tidak butuh agama."
Santri Agnostik:
"Lha, lalu siapa?"
Tuhan:
"Tentu saja yang butuh. Siapa lagi kalau bukan manusia."
Santri Agnostik:
"Oke. Baiklah kalau begitu. Kira-kira kenapa manusia menciptakan agama? Pasti Engkau tahu."
Tuhan:
"Karena manusia lagi kurang kerjaan. Ha.. ha.. ha.."
Santri Agnostik:
"Aku tahu kalau itu. Jawaban selain itu?"
Tuhan:
"Manusia ingin hidup tenang, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Manusia ingin kelimpahan dan keabadian, tetapi tertipu oleh kesementaraan. Manusia bingung, penasaran, dan kehilangan Aku. Makanya mereka bereksperimen. Bikin agama!"
Santri Agnostik:
"Oke lagi. Tapi kenapa manusia mesti menciptakan begitu banyak agama? Kenapa tidak satu saja?"
Tuhan:
"Supaya mereka tidak bosan dan bengong saja di dunia. Dengan hadirnya banyak agama, hidup manusia jadi lebih asyik, seru, heboh dan lucu-lucu!"
Santri Agnostik:
"Ha.. ha.. ha..! Ada-ada saja Engkau wahai. Sebenarnya apa sih makna agama atau religion itu? Aku pernah membaca bahwa kata religion berasal dari bahasa Latin."
Tuhan:
"Benar."
Santri Agnostik:
"Dari mana?"
Tuhan:
"Dari kata religare."
Santri Agnostik:
"Apa artinya?"
Tuhan:
"Mengikat kembali.
Menyambung kembali.
Menghubungkan kembali."
Santri Agnostik:
"Kembali kepada apa?"
Tuhan:
"Kepada keseluruhan.
Kepada realitas.
Kepada keberadaan.
Kepada dirimu sendiri, terutama."
Santri Agnostik:
"Tapi kenapa para pemuka agama justru membuat manusia terpecah-pecah? Bikin ormas agama macam-macam, bikin kelompok mazhab-mazhab, bikin grup tarekat-tarekat, bikin komunitas kajian pengajian ini-itulah, bla bla bla..."
Tuhan:
"Itu masalahmu!"
Santri Agnostik:
"Maksudmu?"
Tuhan:
"Itu urusanmu!"
Santri Agnostik:
"Capek deh! Lalu agama sebenarnya apa?"
Tuhan:
"Agama bukanlah jalan menuju Tuhan."
Santri Agnostik:
"Terus?"
Tuhan:
"Agama adalah jalan pulang menuju keutuhan.
Menuju kesadaran.
Menuju integrasi.
Menuju tidak terpecah.
Menuju menjadi satu.
Dan.. bahagialah makhluk"
Santri Agnostik:
"Terdengar seperti psikologi."
Tuhan:
"Psikologi yang matang selalu bertemu mistisisme."
Santri Agnostik:
"Terdengar seperti filsafat."
Tuhan:
"Filsafat yang jujur selalu berakhir pada kejernihan dan keheningan."
Santri Agnostik:
"Terdengar seperti sufisme."
Tuhan:
"Sufisme yang sejati selalu berakhir pada tawa."
Santri Agnostik:
"Tawa?"
Tuhan:
"Ya."
Santri Agnostik:
"Kenapa?"
Tuhan:
"Karena setelah mencari Tuhan ke mana-mana, kau akhirnya menemukan bahwa yang hilang bukan Tuhan."
Santri Agnostik:
"Lalu apa?"
Tuhan:
"Dirimu. Ha.. ha.. ha.."
Santri Agnostik:
"Aku ini agnostik."
Tuhan:
"Aku tahu."
Santri Agnostik:
"Aku tidak yakin Tuhan ada."
Tuhan:
"Aku sangat tahu."
Santri Agnostik:
"Lalu kenapa kau masih berbicara denganku?"
Tuhan:
"Karena keraguanmu yang jujur dan polos lebih dekat kepada-Ku daripada iman yang pura-pura atau keyakinan yang ikut-ikutan."
Santri Agnostik:
"Apakah kau seperti Tuhan-nya Aristoteles?"
Tuhan:
"Terlalu sibuk berpikir."
Santri Agnostik:
"Seperti Tuhan-nya Spinoza?"
Tuhan:
"Cukup dekat."
Santri Agnostik:
"Seperti Roh Absolut Hegel?"
Tuhan:
"Terlalu rumit. Hi.. hi.. hi.."
Santri Agnostik:
"Seperti Tuhan para ateis?"
Tuhan:
"Kadang-kadang. Ha.. ha..ha..."
Santri Agnostik:
"Seperti Tuhan para sufi?"
Tuhan:
"Boleh juga. He.. he.. he.."
Santri Agnostik:
"Tapi para sufi sering berkata: 'Siapa mengenal dirinya, mengenal Tuhannya.'"
Tuhan:
"Benar."
Santri Agnostik:
"Itu berarti aku adalah Tuhan?"
Tuhan:
"Bukan."
Santri Agnostik:
"Lalu?"
Tuhan:
"Makanya iqra'. Perbanyak baca buku, lalu tafakkur!"
Santri Agnostik:
"Kau berbicara seperti Ibn Arabi."
Tuhan:
"Ibn Arabi mencium sedikit aromanya."
Santri Agnostik:
"Seperti Jalaluddin Rumi."
Tuhan:
"Rumi menari di sekitarnya."
Santri Agnostik:
"Seperti Al-Hallaj."
Tuhan:
"Hallaj terlalu bersemangat."
Santri Agnostik:
"Seperti Lao Tzu."
Tuhan:
"Ia memilih diam."
Santri Agnostik:
"Menurutku, itu bijaksana. Btw, tasbihku putus."
Tuhan:
"Bagus. Aku yang membuatnya putus."
Santri Agnostik:
"Alasannya?"
Tuhan:
"Sekarang kau tidak bisa lagi menghitung."
Santri Agnostik:
"Menghitung apa?"
Tuhan:
"Jumlah dzikir."
Santri Agnostik:
"Lalu?"
Tuhan:
"Mulailah merasakan dzikir."
Seketika santri itu terdiam.
Sangat lama.
Sangat sunyi.
Sampai akhirnya ia bertanya pelan.
Santri Agnostik:
"Kalau begitu, siapa sebenarnya kamu?"
Tuhan:
"Aku adalah keheningan yang kau dengar di antara dua pikiran.
Aku adalah ruang di antara dua napas.
Aku adalah keberadaan yang selalu ada sebelum kau memberi nama apa pun."
Santri Agnostik:
"Kurasa aku mulai mengerti."
Tuhan:
"Itu justru masalahnya."
Santri Agnostik:
"Kenapa?"
Tuhan:
"Begitu manusia merasa mengerti, biasanya ia langsung mendirikan organisasi."
Santri Agnostik:
"Astaga..."
Tuhan:
"Besok kau pasti bikin yayasan."
Santri Agnostik:
"Tidak."
Tuhan:
"Lusa bikin padepokan, pesantren atau apalah."
Santri Agnostik:
"Tidak juga."
Tuhan:
"Minggu depan bikin aliran."
Santri Agnostik:
"Jangan fitnah."
Tuhan:
"Sebulan lagi cetak spanduk dan sebar brosur."
Santri Agnostik:
"Tidak akan."
Tuhan:
"Tunggu saja. Heu-heu-heu..."
Tiba-tiba ekstase santri itu menghilang.
Angin kembali berembus.
Dunia kembali normal.
Suara itu lenyap.
Yang tersisa hanya gumaman santri agnostik itu:
"Sial! Saya ketahuan mau bikin ormas."
