Saya :
Akhir-akhir ini, saya kok merasa ada yang aneh dengan diri saya.
Non-Saya:
Aneh bagaimana?
Saya:
Seperti kalau ada yang terus mengawasi dan mengejar-ngejar saya. Di mana pun saya berada. Padahal, tidak ada debt collector yang menagih. Tidak ada aparat yang mengawasi. Tapi saya tetap gelisah dan merasa takut. Kadang kalau rebahan, tiba-tiba saya merasa bersalah. Kalau lagi bersantai sedikit, merasa berdosa. Kalau melihat orang lain sukses di media sosial, rasanya hidupku tertinggal jauh.
Non-Saya (tersenyum tipis):
Wah, itu berarti kamu sudah masuk penjara.
Saya (menoleh cepat):
Penjara? Penjara apanya? Saya masih bebas ke mana-mana.
Non-Saya:
Justru itulah penjara paling canggih. Tidak ada jeruji besi. Tidak ada sipir. Tidak ada borgol. Tetapi tahanannya menyekap dan mengunci dirinya sendiri.
Saya:
Hmm.. Saya pernah mendengar istilah yang mirip-mirip rasanya dengan keadaan itu. Panopticon, bukan?
Non-Saya:
Ya. Seratus buat kamu!
Semua bermula dari Jeremy Bentham pada abad ke-18. Ia merancang penjara berbentuk lingkaran. Di tengah berdiri menara pengawas. Para tahanan tidak pernah tahu apakah sedang diawasi atau tidak.
Akibatnya?
Mereka mengawasi diri sendiri.
Tak perlu banyak sipir. Tak perlu senjata. Rasa "mungkin sedang dilihat" sudah cukup membuat orang patuh.
Saya:
Jadi kekuasaan paling efektif bukan mengurung tubuh, melainkan mengendalikan pikiran?
Non-Saya:
Persis.
Bentham mungkin sedang mendesain penjara. Tetapi Michel Foucault melihat sesuatu yang jauh lebih besar.
Ia berkata, seluruh masyarakat modern berubah menjadi Panopticon.
Sekolah.
Rumah sakit.
Pabrik.
Barak militer.
Kantor.
Semuanya mendidik manusia menjadi tubuh yang patuh.
Bangun tepat waktu.
Belajar sesuai kurikulum.
Bekerja sesuai target.
Berjalan sesuai standar.
Tidak perlu dipaksa ini-itu.
Orang akan menormalkan dirinya sendiri agar dianggap "normal".
Saya:
Tetapi bukankah sekarang dunia sudah berubah? Guru tak semenakutkan dulu. Atasan juga lebih santai.
Non-Saya:
Benar.
Karena Panopticon sudah berevolusi.
Saya:
Maksudmu?
Non-Saya:
Di sinilah Byung-Chul Han masuk.
Katanya, kita bukan lagi hidup dalam masyarakat disiplin.
Kita hidup dalam masyarakat prestasi.
Dulu orang diperintah:
"Kamu harus patuh."
Sekarang orang berkata kepada dirinya sendiri:
"Saya harus sukses."
Dulu dipaksa.
Sekarang rela.
Dulu diperintah.
Sekarang memerintah diri sendiri.
Saya (mengangguk pelan):
Kalimat motivasi ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.
Non-Saya:
Ya. Lebih tajam dan lebih mematikan.
"Jadilah versi terbaikmu."
"Upgrade terus."
"Produktif setiap hari."
"Jangan kalah."
"Optimalkan potensimu."
Semuanya terdengar positif.
Padahal diam-diam sedang membangun penjara psikologis.
Saya:
Lalu media sosial?
Non-Saya (tertawa kecil):
Itulah menara pengawas paling up-to-date.
Kita memamerkan pencapaian.
Sekaligus mengintai pencapaian orang lain.
Kemudian pulang membawa rasa kurang.
Orang lain sedang liburan.
Saya belum.
Orang lain membeli rumah.
Saya belum.
Orang lain lulus S3.
Saya baru mulai membaca buku.
Lalu kita menghukum diri sendiri.
Saya:
Jadi saya adalah narapidana...
Sekaligus sipir...
Sekaligus hakim...
Bahkan eksekutor bagi diri sendiri.
Non-Saya:
Yes! Itulah The Ultimate Panopticon.
Saya:
Tidak heran burnout terjadi di mana-mana.
Non-Saya:
Burnout atau kelelahan yang total bukan karena manusia dipaksa.
Burnout justru lahir karena manusia merasa mampu melakukan segalanya.
Ironis sekali.
Eksploitasi paling brutal adalah eksploitasi yang kita lakukan atas nama kebebasan.
"Saya bebas bekerja."
Lalu bekerja dua puluh empat jam.
"Saya bebas mengembangkan diri."
Lalu tidak pernah memberi izin kepada diri sendiri untuk beristirahat.
Saya (diam lama):
Kalau begitu...
Bagaimana cara keluar dari penjara itu?
Non-Saya:
Pelan-pelan. Jangan bayangkan caranya seperti yang dilakukan Andy Dufresne di Shawshank Redemption. Sebab ini bukan penjara fisik, melainkan penjara metafisik. Untuk itu, untuk keluar atau melarikan diri, kamu membutuhkan manual dan tutorial yang berbeda.
Saya:
Apa itu? Jelaskan!
Pertama-tama, kamu harus memahami cara kerja pengawasan panopticon ini.
Menariknya...
Islam juga mengenal konsep pengawasan.
Saya:
Malaikat Raqib dan Atid?
Non-Saya:
Ya.
Setiap amal dicatat.
Tidak ada yang luput.
Sekilas ini terdengar lebih menyeramkan daripada Panopticon.
Pengawasan total.
Dua puluh empat jam.
Tidak ada ruang privat.
Saya:
Lalu apa bedanya?
Non-Saya:
Perbedaannya terletak pada satu pertanyaan sederhana.
Siapa yang sedang melihatmu?
Kalau dunia yang melihatmu...
kamu akan sibuk mempertontonkan diri.
Kalau algoritma yang melihatmu...
kamu akan sibuk membangun citra.
Kalau manusia yang melihatmu...
kamu akan sibuk mengoleksi prestasi.
Kalau medsos yang melihatmu...
kamu akan sibuk mengoleksi validasi.
Tetapi jika Allah yang melihatmu...
seluruh permainan itu akan runtuh.
Saya:
Karena Allah tidak bisa ditipu oleh pencitraan. Dia tahu yang nampak dan yang tersembunyi?
Non-Saya:
Lebih dari itu...
Allah tidak membutuhkan pertunjukanmu.
Saya:
Saya teringat hadis tentang Ihsan.
"Beribadahlah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu."
Non-Saya:
Nah...
Sebagian orang memahami hadis itu sebagai ancaman.
Padahal di dalamnya tersimpan pelukan kasih sayang.
Saya (mengernyitkan dahi):
Pelukan?
Non-Saya:
Ya.
Dalam Panopticon modern, kamu diawasi agar semakin produktif.
Dalam Ihsan, kamu diawasi karena kau dicintai-Nya.
Dalam dunia prestasi, kamu harus terus membuktikan diri.
Di hadapan Allah, kamu justru boleh datang dengan segala kekurangan dan kelemahanmu.
Saya:
Jadi...
Kalimatnya berubah.
Bukan lagi...
"Saya harus sukses agar diterima."
Tetapi...
"Saya sudah diterima, maka saya berusaha."
Non-Saya (tersenyum):
Persis.
Itulah revolusi batin.
Saya:
Saya baru sadar.
Selama ini saya bekerja agar dunia bertepuk tangan atau memberi jempol.
Padahal tepuk tangan maupun jempol tidak pernah benar-benar mengenyangkan jiwa.
Non-Saya:
Karena dunia selalu meminta encore.
Baru selesai satu pertunjukan...
disuruh tampil lagi.
Tidak pernah cukup. Tidak pernah habis.
Saya:
Lalu bagaimana para sufi menghadapi semua ini?
Non-Saya:
Mereka memiliki satu teknik tua yang justru sangat modern.
Namanya...
muraqabah.
Saya:
Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi.
Non-Saya:
Benar.
Tetapi jangan salah.
Muraqabah bukan membuat orang tegang.
Justru membuat orang tenang.
Dalam keheningan muraqabah, suara target-target dunia mulai mengecil.
Orang berhenti melihat dirinya sebagai proyek.
Lalu mulai melihat dirinya sebagai jiwa.
Saya:
Imam Al-Ghazali pernah menulis bahwa kesadaran yang selalu diawasi Allah melahirkan rasa malu untuk berbuat dosa.
Non-Saya:
Dan sekaligus melahirkan ketenteraman.
Karena akhirnya kita sadar...
yang menentukan nilai kita bukan grafik produktivitas.
Bukan jumlah pengikut.
Bukan jabatan.
Bukan penghargaan.
Melainkan Allah Yang Maha Mengetahui isi hati.
Saya:
Berarti burnout bukan semata masalah fisik.
Ia juga masalah metafisik.
Non-Saya:
Tepat.
Burnout terjadi ketika ego merasa harus menjadi pusat alam semesta.
Tasawuf menyebut obatnya...
fana'.
Saya:
Meleburkan ego.
Non-Saya:
Ya.
Burnout berkata,
"Semua harus saya kendalikan."
Fana' menjawab,
"Tidak. Ada Allah."
Burnout berkata,
"Saya harus jadi orang sukses."
Tawakal menjawab,
"Berusahalah. Hasil bukan milikmu."
Burnout berkata,
"Saya belum merasa cukup."
Allah berfirman melalui rahmat-Nya,
"Datanglah. Bahkan dalam ketidakcukupanmu."
Saya (menghabiskan kopi yang sudah dingin):
Jadi...
Bentham membuat Panopticon sebagai penjara.
Foucault menemukan Panopticon di masyarakat.
Byung-Chul Han menemukan Panopticon di dalam jiwa manusia modern.
Sedangkan tasawuf...
mengubah Panopticon menjadi Tarekat dan Shirat.
Non-Saya (tersenyum lebar):
Karena akhirnya kita sadar...
yang melelahkan itu bukan karena diawasi.
Yang melelahkan adalah terus-menerus mempertontonkan diri.
Saya:
Saya mulai mengerti sekarang.
Yang saya butuhkan bukan menjadi manusia yang terus mengawasi diri.
Melainkan manusia yang percaya bahwa dirinya selalu berada dalam penjagaan Allah.
Non-Saya:
Dan di situlah titik triangulasi paradoksnya.
Panopticon modern membuat manusia merasa bebas, padahal terpenjara.
Sedangkan muraqabah membuat manusia merasa diawasi, justru menjadi merdeka.
Merdeka dan selamat karena di bawah pengawasan, pengasuhan sekaligus total penjagaan Tuhan Yang Maha Panopticon. The real ultimate Panopticon!
