Seorang mistikus sufi yang agung memiliki sebuah kitab yang selalu disimpannya dengan penuh perhatian. Semua orang mengira kitab itu pasti berisi rahasia yang sangat dalam, sebab ia tidak pernah mengizinkan siapa pun melihat ataupun membacanya.
Kitab itu selalu disimpan tepat di bawah bantalnya. Ketika tidak ada seorang pun di sekitarnya, ia akan mengeluarkannya, membukanya perlahan, lalu melakukan gerakan-gerakan seolah-olah sedang membaca dengan penuh khusyuk.
Semakin lama, misteri kitab itu justru semakin besar, seiring semakin terkenalnya sang Master. Banyak orang menduga bahwa kitab tersebut menyimpan pengetahuan rahasia yang hanya akan diwariskan kepada segelintir orang pilihan.
Berkali-kali orang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak pernah berbicara tentang kitab itu?"
Sang Master menjawab, "Aku tidak bisa berbicara tentang kitab itu. Setelah aku tiada, kalian boleh membacanya. Selama aku masih hidup, aku tidak mampu menjelaskan apa yang tertulis di dalamnya. Tetapi ketika aku sudah pergi, itu bukan lagi tanggung jawabku. Kalian boleh membacanya. Apakah kalian memahaminya atau tidak, itu menjadi urusan kalian sendiri."
Jawaban itu justru membuat rasa ingin tahu orang-orang semakin besar. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk setidaknya mengintip isi kitab tersebut. Ketika semua orang telah pergi, ada yang bersembunyi di atas atap, melepaskan sebuah genteng, lalu mengintip ke dalam. Namun setiap kali seseorang hendak melihat, sang Master selalu menutup kitab itu tepat pada saat yang sama.
Akhirnya tibalah hari ketika sang Master meninggal dunia. Ia sangat dicintai oleh banyak orang. Namun pada saat itu, rasa ingin tahu mereka terhadap kitab tersebut bahkan lebih besar daripada kesedihan atas kepergiannya.
Begitu sang Master dimakamkan, mereka segera mengambil kitab itu dan membukanya.
Mereka terkejut.
Kitab itu sama sekali tidak berisi apa-apa.
Semua halamannya kosong.
Mereka membalik halaman demi halaman, berharap ada satu halaman yang berisi pesan rahasia. Mereka memeriksanya berulang kali. Mungkin ada sesuatu yang terlewat. Mungkin ada halaman yang tersembunyi.
Namun hasilnya tetap sama.
Tidak ada satu kata pun.
Tidak ada satu huruf pun.
Hanya halaman-halaman kosong.
Konon, selama berabad-abad kitab itu diwariskan dari seorang Master kepada murid penerusnya. Bersama kitab itu selalu disampaikan satu pesan sederhana:
"Jangan membaca kata-katanya. Bacalah kekosongannya."
