Metode Sokrates: Sebuah Teknik Diskusi Yang Menjengkelkan Tapi Mencerahkan
"Aku tahu bahwa aku tidak tahu."
Banyak orang mengira Ustad Sokrates sedang merendahkan diri. Seolah-olah ia berkata, "Saya ini bodoh." Padahal tentu saja bukan itu maksudnya, bukan itu tujuannya. Yang ingin ia katakan justru sesuatu yang lebih radikal: manusia sering kali terlalu cepat merasa tahu, padahal pengetahuannya masih sangat rapuh.
Kalimat itu bukan pengakuan kebodohan, melainkan kritik terhadap kesombongan intelektual.
Menariknya, penyakit yang dikritik Sokrates dua ribu empat ratus tahun lalu justru semakin subur hingga hari ini. Kita hidup di zaman ketika semua orang punya opini tentang segala hal. Beberapa menit membaca utas di media sosial, seseorang merasa sudah memahami geopolitik. Menonton dua video pendek tentang kesehatan, tiba-tiba menjadi ahli gizi. Membaca satu artikel agama, merasa paling mengerti kehendak Tuhan.
Informasi bertambah. Keyakinan semakin kuat. Tetapi kedalaman berpikir justru sering hilang.
Di sinilah metode Sokrates menjadi relevan.
Ia bukan metode menghafal. Bukan pula teknik memenangkan debat.
Ia adalah latihan untuk membongkar ilusi bahwa kita sudah memahami sesuatu.
Dan anehnya, proses itu sering kali terasa sangat menyebalkan.
Karena tidak ada yang lebih tidak nyaman daripada dipaksa meragukan keyakinan sendiri.
Mengapa Sokrates Tidak Pernah Langsung Memberi Jawaban?
Kalau kita datang kepada seorang guru, biasanya kita berharap mendapatkan jawaban.
Kalau bertanya kepada dokter, kita berharap mendapat diagnosis.
Kalau bertanya kepada dosen, kita berharap mendapat penjelasan.
Tetapi jika bertemu Sokrates, yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin banyak kita bertanya, semakin banyak pertanyaan yang ia berikan kembali.
Misalnya seseorang datang dan berkata,
"Pak Sokra, apa sebenarnya keadilan itu?"
Alih-alih menjelaskan, Sokrates justru bertanya,
"Menurutmu sendiri apa itu keadilan?"
Orang itu menjawab,
"Keadilan adalah memberikan setiap orang haknya."
Sokrates tidak mengatakan benar atau salah.
Ia hanya bertanya lagi.
"Kalau begitu, apakah pencuri juga berhak mendapatkan hasil curiannya?"
Orang itu mulai berpikir.
"Lalu bagaimana kalau seseorang menggunakan haknya untuk menyakiti orang lain?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul.
Sampai akhirnya orang tadi berkata,
"Sebentar... saya jadi bingung."
Banyak guru akan menganggap itu kegagalan.
Sokrates justru menganggap itu kemajuan.
Karena untuk pertama kalinya orang tersebut sadar bahwa definisinya ternyata belum cukup kuat.
Ironi: Berpura-pura Tidak Tahu
Inilah tahap pertama metode Sokrates.
Namanya eironeia, atau ironi.
Ironi di sini bukan berarti mengejek atau menyindir.
Ironi adalah keputusan sadar untuk tidak tampil sebagai orang yang paling tahu.
Secara lahiriah, Sokrates tampak seperti murid.
Padahal diam-diam ia sedang mengajar.
Ia datang bukan membawa kesimpulan, melainkan pertanyaan.
Misalnya kita berkata,
"Semua orang kaya pasti bahagia."
Sokrates mungkin menjawab,
"Wah, menarik sekali. Aku belum pernah memikirkan itu. Boleh aku bertanya?"
Kita tentu merasa percaya diri.
"Iya, silakan."
"Lalu bagaimana dengan orang kaya yang bunuh diri?"
"Kok bisa?"
"Kalau uang memang selalu menghasilkan kebahagiaan, mengapa ada miliarder yang depresi?"
Seketika kalimat awal mulai retak.
Contoh lain.
Seseorang berkata,
"Nilai sekolah menentukan masa depan."
Sokrates mungkin bertanya,
"Semua orang sukses nilainya bagus?"
"Tidak juga."
"Semua yang nilainya bagus sukses?"
"Ya... tidak juga."
"Kalau begitu, apakah nilai benar-benar menentukan masa depan?"
Pelan-pelan kita mulai menyadari bahwa kalimat yang terdengar mutlak ternyata memiliki banyak pengecualian.
Ironi bekerja karena manusia memiliki ego.
Semakin yakin seseorang terhadap suatu pendapat, semakin sedikit ia memeriksanya.
Sokrates tidak menghancurkan ego dengan ceramah.
Ia membiarkan ego itu berbicara sampai kontradiksinya muncul sendiri.
Di sinilah kejeniusan metode ini.
Orang tidak merasa sedang diajar.
Ia merasa sedang berbicara.
Padahal sebenarnya ia sedang membongkar pikirannya sendiri.
Elenchus: Ketika Pertanyaan Menjadi Cermin
Setelah lawan bicara menjelaskan keyakinannya, Sokrates masuk ke tahap kedua.
Namanya elenchus.
Banyak orang menerjemahkannya sebagai penyangkalan atau pemeriksaan silang.
Saya lebih suka menyebutnya sebagai cermin logika.
Mengapa?
Karena Sokrates tidak memasukkan pikiran baru.
Ia hanya memperlihatkan bahwa pikiran lama ternyata saling bertabrakan.
Bayangkan seseorang berkata,
"Orang jujur selalu mengatakan kebenaran."
Sekilas terdengar benar.
Tetapi Sokrates bertanya,
"Kalau ada pembunuh mengejar anak kecil yang bersembunyi di rumahmu, lalu ia bertanya di mana anak itu, apakah kamu harus berkata jujur?"
Kalimat sederhana tadi tiba-tiba menjadi rumit.
Atau contoh lain.
"Kita harus selalu memaafkan."
Sokrates bertanya,
"Kalau seorang pelaku kekerasan terus mengulangi perbuatannya setiap kali dimaafkan, apakah memaafkan tetap menjadi tindakan terbaik?"
Atau,
"Semua tradisi harus dilestarikan."
"Kalau tradisi itu menyiksa manusia?"
"Kalau tradisi itu merendahkan perempuan?"
"Kalau tradisi itu bertentangan dengan keadilan?"
Pelan-pelan kita mulai melihat bahwa definisi sederhana jarang cukup untuk menjelaskan kenyataan yang kompleks.
Di sinilah fungsi elenchus.
Ia tidak memberi jawaban.
Ia membersihkan jawaban-jawaban dan kesimpulan yang terlalu cepat.
Aporia: Bingung Bukan Berarti Gagal
Ada satu keadaan yang sangat dibenci manusia modern.
Bingung.
Kita ingin semuanya jelas.
Hitam atau putih.
Benar atau salah.
Kawan atau lawan.
Padahal kehidupan hampir tidak pernah sesederhana itu.
Sokrates justru sengaja membawa lawan bicaranya ke sebuah keadaan yang disebut aporia.
Aporia adalah kebuntuan intelektual.
Saat seseorang berkata,
"Saya kira saya tahu... ternyata saya belum benar-benar tahu."
Mengapa keadaan ini penting?
Karena belajar baru dimulai setelah ilusi pengetahuan runtuh.
Bayangkan gelas yang sudah penuh.
Kalau kita terus menuangkan air baru, air itu hanya akan tumpah.
Tetapi kalau gelas dikosongkan terlebih dahulu, barulah ia bisa diisi kembali.
Begitulah pikiran manusia.
Selama dipenuhi kepastian palsu, hampir tidak ada ruang bagi pengetahuan baru.
Ironisnya, masyarakat sering menghargai orang yang selalu punya jawaban.
Padahal dalam filsafat, orang yang terlalu cepat menjawab sering kali justru belum berpikir cukup lama.
Maieutika: Menjadi Bidan bagi Pikiran
Kalau elenchus menghancurkan, apakah tugas Sokrates selesai?
Tidak.
Di sinilah muncul bagian yang paling indah dari seluruh metodenya.
Sokrates menyebut dirinya seperti seorang bidan.
Ibunya memang seorang bidan yang membantu perempuan melahirkan bayi.
Sokrates merasa pekerjaannya hampir sama.
Hanya saja, yang ia bantu lahir bukan bayi, melainkan pemahaman.
Inilah yang disebut maieutika.
Bayangkan seorang guru matematika.
Ada dua cara mengajar.
Cara pertama,
"Jawabannya 36. Hafalkan rumusnya."
Cara kedua,
"Mengapa menurutmu jawabannya 24?"
"Bagaimana kalau kita coba cara lain?"
"Apa pola yang kamu lihat?"
Pelan-pelan murid menemukan jawabannya sendiri.
Jawaban itu terasa lebih melekat.
Bukan karena dipaksa menghafal.
Tetapi karena ia ikut menemukannya.
Contoh lain dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang anak berkata,
"Ayah, aku gagal. Berarti aku bodoh."
Orang tua biasa mungkin menjawab,
"Tidak kok. Kamu pintar."
Selesai.
Tetapi pendekatan Sokrates berbeda.
"Menurutmu, apakah semua orang pintar selalu berhasil?"
"Tidak."
"Apakah semua orang yang pernah gagal bodoh?"
"Tidak."
"Lalu mengapa satu kegagalan membuatmu yakin bahwa kamu bodoh?"
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih kuat daripada nasihat panjang.
Karena kesimpulan akhirnya lahir dari dalam diri anak tersebut.
Bukan dipaksakan dari luar.
Pendidikan yang Terlalu Sibuk Memberi Jawaban
Kalau dipikir-pikir, pendidikan kita sering berjalan berlawanan dengan metode Sokrates.
Guru berbicara.
Murid mencatat.
Guru menjelaskan.
Murid menghafal.
Guru bertanya.
Murid menjawab sesuai buku.
Yang dihargai adalah jawaban yang benar.
Padahal dalam kehidupan nyata, persoalan paling penting sering kali tidak memiliki satu jawaban tunggal.
Apa itu keadilan?
Apa itu cinta?
Apa arti sukses?
Apa itu hidup yang baik?
Tidak ada pilihan A, B, C, atau D.
Yang dibutuhkan bukan hafalan, melainkan kemampuan berpikir.
Karena itu, metode Sokrates terasa sangat modern.
Ia mengajarkan bahwa pendidikan bukan proses mengisi kepala, melainkan melatih kepala agar mampu berpikir sendiri, menemukan kebenarannya sendiri.
Tetapi Apakah Sokrates Selalu Benar?
Di sinilah kita perlu bersikap kritis.
Jangan sampai metode Sokrates sendiri berubah menjadi dogma.
Ada kritik menarik terhadap metode ini.
Sokrates selalu berkata bahwa ia tidak tahu.
Tetapi anehnya, dialah yang menentukan arah dialog.
Dialah yang memilih pertanyaan.
Dialah yang memutuskan kapan jawaban dianggap tidak konsisten.
Dengan kata lain, ia tampak rendah hati, tetapi sebenarnya memiliki kendali penuh atas percakapan.
Di titik ini, ironi Sokrates bisa berubah menjadi alat manipulasi.
Kita juga bisa melihat praktik serupa hari ini.
Seorang pewawancara berkata,
"Saya hanya bertanya."
Padahal pertanyaannya sengaja disusun untuk menggiring opini.
Seorang politikus berkata,
"Saya cuma ingin masyarakat berpikir."
Padahal pertanyaannya penuh asumsi tersembunyi.
Jadi, pertanyaan tidak selalu netral.
Pertanyaan juga bisa menjadi alat kekuasaan.
Karena itu, metode Sokrates harus digunakan dengan kejujuran, bukan sebagai trik memenangkan debat.
Mengapa Metode Ini Masih Sangat Penting Hari Ini?
Kita hidup di era informasi.
Masalahnya, informasi tidak otomatis menghasilkan kebijaksanaan.
Yang sering terjadi justru sebaliknya.
Semakin banyak informasi, semakin sedikit refleksi.
Kita membaca judul berita tanpa membaca isinya.
Kita membagikan kutipan tanpa memeriksa sumbernya.
Kita marah hanya karena membaca satu potongan video berdurasi tiga puluh detik.
Bayangkan kalau setiap kali membaca sebuah klaim, kita bertanya seperti Sokrates.
"Apa buktinya?"
"Apakah ada kemungkinan lain?"
"Apakah kesimpulan ini terlalu cepat?"
"Apakah aku hanya percaya karena sesuai dengan pendapatku?"
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini bisa menjadi vaksin terhadap hoaks, propaganda, fanatisme, bahkan kesombongan intelektual.
Mungkin dunia tidak kekurangan orang yang pandai berbicara.
Yang lebih langka adalah orang yang pandai mempertanyakan dirinya sendiri.
Penutup: Berani Tidak Tahu
Pada akhirnya, warisan terbesar Sokrates bukanlah jawaban-jawabannya.
Ironisnya, ia hampir tidak meninggalkan jawaban final.
Yang ia wariskan adalah cara bertanya.
Cara meragukan.
Cara memeriksa.
Cara berpikir.
Ironi mengajarkan kita untuk mengosongkan gelas.
Elenchus mengajarkan kita membersihkan isi gelas yang ternyata keruh.
Maieutika membantu kita mengisi kembali gelas itu dengan pemahaman yang lebih jernih.
Mungkin inilah pelajaran yang paling sulit sekaligus paling membebaskan dari Sokrates: musuh terbesar pengetahuan bukanlah kebodohan, melainkan ilusi bahwa kita sudah tahu.
Dan selama manusia masih gemar mempertahankan keyakinan tanpa pernah mengujinya, selama itu pula metode Sokrates akan tetap dibutuhkan.
Bukan hanya di ruang kuliah filsafat.
Melainkan di mana saja kebijaksanaan itu dibutuhkan. Begitu!
