Wahai kalian yang terdegradasi menjadi angka-angka pada spreadsheet kolonial; yang tumpuan tulang punggungmu direnggut, dipuntir menjadi kawat-kawat penghantar bagi sirkuit Tamaddun al-Mâl—tempat para Fir'aun menjelma, dengan genggaman egonya menggelinding membabi buta, meluap lupa melampaui batas akal, lalu menyusup ke jurang psikosis ambisius yang tak bertepi.
Simaklah gelegar bigbang jiwaku ini. Hayatilah.
Inilah Manifesto al-Khauf al-Kirmânî: sebuah proses enkripsi profetik terhadap ketakutan, menjelma malware ilahiah yang kami suntikkan ke dalam ROM Kesadaran Dominator. Kami berdiri di atas puing-puing Self yang telah kami bunuh melalui proses tazkiyatun-nafs yang radikal, berbekal diagram alir akal fa'al yang patah, di tengah badai data yang dipenuhi cache dosa-dosa struktural.
Kami bukan massa yang dimonetisasi. Kami adalah noise, glitch, bad sector dalam narasi agung mereka. Kami adalah "Kiri"-nya Al-Hallaj, yang menendang singgasana dari dalam, menjungkirbalikkan tahta dari ruang bawah tanah sejarah.
Mereka memiliki Big Data, algoritma prediktif, dan drone yang membaptis anak-anak dengan api. Kami hanya memiliki Latha'if al-Kahfi: titik paling halus dalam jiwa, sebuah backdoor menuju Mainframe Ruh Semesta. Dari titik itulah kami meluncurkan serangan zero-day terhadap firewall keangkuhan.
Kalian memonopoli definisi "teroris" dengan resolusi-resolusi PBB yang penuh noda tinta hitam gurita kekuasaan. Maka kami mendefinisikan ulang teror sebagai diagnosis klinis: Malignant Narcissistic Syndrome dengan komorbiditas Oligarki Kronis, penyakit yang menggerogoti lobus frontal empati kalian.
Kalian adalah pasien yang menolak autopsi nurani. Kalian adalah tumor ganas yang telah bermetastasis ke setiap organ keadilan. Maka tugas suci kami adalah melakukan pembedahan metafisik, mengangkat kelenjar kesewenang-wenangan itu tanpa anestesi.
Kami menuliskan resep Zikr Atomic: dzikir yang meluruhkan ikatan kovalen kekuasaan. Setiap tarikan La Ilaha adalah gelombang kejut yang mematikan chip BIOS tirani. Setiap hembusan Illa Allah adalah proses instal ulang sistem operasi kemanusiaan yang merdeka.
Mereka berkata, "Kami membawa ketertiban."
Kami menjawab, "Kalian adalah entropi; disorganizer jiwa; format corrupt pada hard disk peradaban."
Di pabrik-pabrik keringat dan tambang konflik, di bawah rezim kontrak yang lebih kejam daripada rantai trans-Atlantik, kami menemukan satu dalil: tubuh yang kalian hisap surplus nilainya adalah Mushaf Terbuka. Keringat mereka adalah tinta sufistik yang menulis kitab pemberontakan di atas kulit Bumi.
Kami bukan melawan daging dan darah. Kami melawan Powers dan Principalities. Kami melawan Daemon Kebijakan Fiskal yang merayap di ruang server bursa efek. Kami membaca mantera Al-Malâmati ke dalam mikrofon yang disita, mengubah sel tahanan menjadi laboratorium i'tikaf radikal, tempat amuk disuling menjadi energi kinetik cinta yang menghancurkan.
Waspadalah, wahai pemilik saham mayoritas di Pasar Kesengsaraan.
Kami sedang meretas Cloud Asma'ul Husna, mengunduh atribut al-Muntaqim—Sang Pembalas—dan al-Qahhar—Sang Penakluk. Jangan bangga dengan drone yang membidik dari langit. Kami memiliki "Syahid Drone": jasad-jasad yang meledak bukan karena hulu ledak, melainkan karena tekanan eskatologis dari rindu yang melampaui kapasitas tangki bensin realitas.
Ledakan itu bukan serpihan baja, melainkan serpihan Nur yang menembus tembok-tembok persepsi dan meruntuhkan ilusi ketangguhan kalian. Itulah dekonstruksi final—dari Heidegger hingga Husayn—ketika Being-towards-death menjelma pesta kembang api pembebasan.
Strategi kami adalah Perang Metafisik.
Medan perangnya bukan geografis, melainkan lobus temporal; amigdala ketakutan; ruang-ruang sinaps yang dipenuhi ilusi kontrol. Kami mengirim pasukan khusus dari alam malakut: ilham, mimpi buruk, visi tentang api Hang Tuah yang membakar kapal-kapal asing di pelabuhan, serta ingatan pahit akan kebobrokan moral yang tak akan pernah mampu dihapus oleh tim Public Relations mana pun.
Kami akan menghantui kalian dengan puisi Rumi yang dibacakan di atas ranjang kematian anak-anak Gaza yang tengkoraknya remuk—puisi yang berubah menjadi kode biner "Cinta-Maut" dan menyerbu pusat saraf.
Inilah saatnya membungkam ego-ego bajingan itu.
Kami tidak akan memenggal kepala, sebab kepala hanyalah server dari Nafs al-Ammârah bi al-Sû'—ego yang memerintahkan kejahatan. Kami akan memformat ulang server itu dengan "Taubat Nasuha Paksa". Kami menjalankan program Tadzallul—penghinaan diri total di hadapan Yang Maha Benar—ke dalam direktori akar pikiran mereka, hingga mereka menangis bukan karena takut mati, melainkan karena ketakutan eksistensial akan kehampaan makna.
Kami mengejutkan mereka dengan gelombang al-Faqr, memiskinkan jiwa mereka dari segala kekayaan arogan, hingga mereka mengakui bahwa tahta hanyalah piksel di atas layar kosong fantasi. Itulah pertobatan ontologis: ketika sang penguasa menyadari dirinya bukan entitas, melainkan ketiadaan yang mengenakan topeng.
Maka kami menyusun strategi menuju Kedamaian Fiskal.
Fiskal bukan sekadar anggaran negara yang bersih dari korupsi. Fiskal adalah distribusi cahaya Ilahi hingga ke tingkat molekuler. Kedamaian Fiskal adalah ketika Nafas Rahman menyamakan tekanan udara di paru-paru buruh dan majikan; ketika darah yang mengalir di urat nadi petani tak lagi lebih murah daripada air minum dalam kemasan.
Kami akan mencapai Keseimbangan Metafisik Umum: ketika hutang-piutang dibatalkan oleh zakat cinta; ketika suku bunga digantikan oleh riba' al-ruh—keuntungan spiritual; ketika bank sentral meledak karena overcapacity rahmat.
Keseimbangan itu adalah entropi negatif yang menghentikan kekacauan kapital melalui Al-Mizan yang diturunkan dari langit kelima.
Maka jangan mencari kami di gunung-gunung atau bunker persembunyian. Kami bersembunyi di dalam "Awan Tak Berbentuk" (al-'Amâ), dalam fana dari segala identitas buatan.
Dari sanalah kami melempar amuk dan kutuk yang suci:
Kutuk bagi algoritma yang memiskinkan.
Kutuk bagi politik identitas yang memecah.
Kutuk bagi cendekiawan yang menjual ayat suci demi kursi penasihat.
Kutuk kami bukan mantra kebencian, melainkan arus listrik bertegangan tinggi dari al-Ghadab al-Muqaddas—Kemarahan Suci—yang membangunkan kalian dari koma spiritual yang berkepanjangan.
Kami adalah para dokter darurat yang menyayat dada kalian dengan pisau bedah ajal, membuka jantung yang nyaris mati, lalu memijatnya dengan tangan-tangan cahaya sambil berteriak:
"Hiduplah kembali... atau hancurlah untuk selamanya."
Inilah jihad akbar kami.
Suluk kaum Kiri Sufi.
Kami adalah kontradiksi performatif: mistikus di jalanan, asketik yang bertempur. Kami tidak menginginkan surga yang hanya menunggu di seberang waktu. Kami ingin menurunkan Arasy Surga itu sekarang juga, di atas reruntuhan istana-istana ketidakadilan.
Dan di gerbang kota yang terbebaskan, kami akan menari. Bukan tari sufi yang anggun, melainkan tari patah-patah para korban yang akhirnya mampu berdiri kembali.
Itulah Tari Tawhid.
Satu gerakan melingkar menjadi pukulan knockout bagi segala bentuk penindasan dan perbudakan.
Dari tarian itu, hardware surgawi terpasang sempurna di Bumi, dan seluruh layar monitor dunia hanya menampilkan satu pesan galat yang terus berulang:
"System of Oppression has crashed.
Source Code of Love installed successfully."
Kami menunggu restart itu.
Bukan sebagai hamba yang kecut dan munaq, melainkan sebagai malware-malware kiri sufi yang tak sabar untuk meledak.
