Terakhir, sebelum menutup tulisan ini.
Ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan.
Bukan untuk kita jawab, melainkan untuk kita renungkan bersama.
Mengapa peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia?
Apakah karena jumlah masjidnya banyak?
Tidak.
Masjid bukanlah penyebabnya.
Yang menjadi penyebab adalah cara umat Islam memanfaatkan masjid.
Mereka tidak memisahkan ibadah dari ilmu.
Mereka tidak memisahkan wahyu dari akal.
Mereka tidak mempertentangkan doa dengan penelitian.
Mereka tidak menganggap berpikir sebagai ancaman bagi iman.
Sebaliknya, berpikir adalah bagian dari ibadah.
Al-Qur'an memuliakan orang-orang yang menyatukan dzikir dan pikir:
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi...."
Nabi ﷺ bahkan bersabda:
"Berpikir sejenak lebih baik daripada beribadah setahun."
Karena itu, masjid pada masa itu bukan hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga laboratorium kesadaran, tempat ilmu dan hikmah bertemu.
Dari sanalah lahir para ilmuwan.
Lahir para dokter.
Lahir para ahli matematika.
Lahir para ahli astronomi.
Lahir para filsuf.
Lahir para penyair.
Lahir para ahli pertanian.
Lahir para arsitek.
Lahir para pemimpin.
Masjid adalah laboratorium peradaban.
Lab yang dipenuhi manusia-manusia yang ingin belajar.
Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah, menegaskan bahwa peradaban besar hanya lahir ketika ilmu menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Dan masjid adalah rahim tempat tradisi itu bertumbuh.
Hari ini, kita sering mengukur kemajuan sebuah masjid dari bangunannya.
Semakin megah kubahnya.
Semakin mahal marmernya.
Semakin besar pendingin ruangannya.
Semakin indah lampunya.
Semakin tinggi menaranya.
Semakin besar saldo kasnya.
Lalu kita berkata,
"Masjid ini luar biasa."
Tetapi saya ingin bertanya.
Berapa banyak orang miskin yang berhasil keluar dari kemiskinan karena masjid itu?
Berapa banyak anak putus sekolah yang kembali memperoleh pendidikan?
Berapa banyak pemuda yang mendapatkan pekerjaan?
Berapa banyak keluarga yang berhasil diselamatkan dari perceraian?
Berapa banyak pecandu narkoba yang berhasil dipulihkan?
Berapa banyak petani yang berhasil meningkatkan hasil panennya?
Berapa banyak pedagang kecil yang berkembang menjadi pengusaha?
Berapa banyak anak yang menemukan cita-citanya di sana?
Kalau jawabannya hampir tidak ada...
Mungkin kita perlu melakukan evaluasi.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk membangun simbol.
Tetapi terlalu sedikit membangun manusia.
Bukankah Tuhan sendiri berkali-kali berbicara tentang manusia?
Tentang akal.
Tentang ilmu.
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
Tentang keadilan.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan...."
Tentang kasih sayang.
Tentang bekerja.
"...Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu...."
Tentang memberi makan orang lapar.
Tentang menjaga alam.
Tentang memerdekakan manusia dari penindasan.
Jarang sekali Tuhan berbicara tentang kemegahan bangunan.
Sebab yang ingin dibangun Tuhan memang bukan gedung dan atau gudang.
Melainkan kesadaran.
_____________________
Bayangkan jika setiap masjid memiliki perpustakaan yang benar-benar hidup.
Bukan sekadar rak buku yang berdebu seperti yang sering kita temukan di banyak perpustakaan.
Melainkan ruang membaca yang nyaman.
Ruang yang memiliki koleksi buku yang banyak. Dari berbagai genre dan disiplin ilmu.
Ruang diskusi. Ruang belajar. Ruang bertanya. Ruang berpikir. Ruang sharing pengetahuan.
Alangkah indahnya!
Ingatlah bahwa, perintah pertama yang turun adalah:
Iqra' — bacalah. Belajarlah. Pahamilah. Renungkanlah. Telitilah. Analisislah. Dst.
Lalu Nabi ﷺ menegaskaan:
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim."
Maka tidak berlebihan jika para sufi memandang buku dan pena sebagai tajalli dari sifat Allah Al-'Alim dan Al-Hakim. Buku dan pena adalah taman bagi orang-orang yang berakal. Betapa hidupnya sebuah masjid apabila taman ilmu itu kembali diwujudkan.
______________________
Bayangkan jika setiap masjid memiliki klinik kesehatan.
Ada pemeriksaan kesehatan berkala.
Ada penyuluhan gizi.
Ada edukasi pencegahan penyakit.
Ada konsultasi kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu.
Bukankah mencegah penyakit jauh lebih baik daripada mengobati?
Nabi ﷺ bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah."
Ibnu Sina, seorang filsuf sekaligus dokter besar, adalah produk dari tradisi masjid dan madrasah yang tidak memisahkan agama dari urusan jasmani manusia. Sebab menjaga tubuh adalah amanah, dan tubuh merupakan kendaraan ruh menuju Tuhannya.
_____________________
Bayangkan jika setiap masjid memiliki pusat konseling keluarga.
Tempat suami dan istri mencari jalan keluar sebelum memilih berpisah.
Tempat anak-anak didengar sebelum mereka kehilangan harapan.
Tempat orang tua belajar mendidik tanpa kekerasan.
Tempat luka-luka batin dipulihkan dengan ilmu dan kasih sayang.
Allah menciptakan pernikahan agar lahir sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Mempertahankan keluarga adalah perjuangan yang suci.
Rumah yang damai adalah miniatur surga.
Selamatkanlah ia, karena dari sanalah lahir generasi pencinta Tuhan.
_______________________________
Bayangkan jika setiap masjid memiliki ruang pelatihan kerja.
Kursus komputer.
Pelatihan bahasa.
Kelas keterampilan.
Pelatihan pemasaran digital.
Belajar membangun usaha.
Belajar mengelola keuangan.
Belajar memanfaatkan teknologi.
Lalu menciptakan lapangan kerja.
Kata Nabi, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
Memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bekerja adalah ibadah yang manfaatnya jauh lebih panjang daripada sekadar memberi sedekah sesaat.
_______________________
Bayangkan jika setiap masjid memiliki kebun percontohan.
Petani dapat belajar langsung.
Anak-anak mengenal tanah sejak dini.
Masyarakat belajar bercocok tanam yang sehat.
Belajar merawat lingkungan.
Belajar mencintai bumi sebagai amanah Tuhan.
Pandanglah tanah sebagai ayat Tuhan yang hidup.
Menjaganya adalah bentuk syukur pelaksanaan dari kata-kata dan.
_____________________
Bayangkan jika setiap masjid memiliki koperasi.
Dana umat tidak hanya habis untuk membangun tembok.
Tetapi juga diputar untuk membantu usaha kecil.
Memberikan modal usaha.
Menciptakan lapangan pekerjaan.
Menghidupkan ekonomi masyarakat.
Bukankah itu juga ibadah?
Allah berfirman,
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa...."
Inilah semangat ta'awun yang diajarkan Islam.
Sebuah pilar ekonomi kerakyatan yang tumbuh dari nilai-nilai masjid.
__________________
Bayangkan jika setiap masjid menjadi tempat lahirnya gagasan.
Setiap minggu ada forum terbuka.
Masyarakat duduk bersama.
Membicarakan persoalan kampung.
Kemiskinan.
Sampah.
Pendidikan.
Kesehatan.
Pertanian.
Air bersih.
Lapangan pekerjaan.
Lalu bersama-sama mencari jalan keluarnya.
Tanpa saling menyalahkan.
Tanpa saling mengafirkan.
Tanpa saling merendahkan.
Allah memerintahkan musyawarah.
"...Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu...."
Al-Farabi menggambarkan al-Madinah al-Fadhilah sebagai masyarakat yang dibangun melalui dialog, dipandu oleh akal sekaligus wahyu.
Karena agama bukan hanya mengajarkan bagaimana masuk surga.
Agama juga mengajarkan bagaimana menjadikan Bumi lebih layak untuk dihuni.
Itulah ungkapan sekaligus tindakan sujud-syukur yang sesungguhnya.
Bukan hanya diucapkan.
Tetapi diwujudkan.
Saya sering merasa heran.
Kita sangat sibuk membicarakan kehidupan setelah mati.
Namun terlalu sedikit membicarakan kehidupan sebelum mati.
Padahal orang lapar tidak bisa menunggu surga.
Orang sakit membutuhkan obat hari ini.
Anak putus sekolah membutuhkan pendidikan hari ini.
Petani membutuhkan ilmu hari ini.
Nelayan membutuhkan teknologi hari ini.
Pemuda membutuhkan pekerjaan hari ini.
Janda membutuhkan perlindungan hari ini.
Dan agama seharusnya hadir hari ini.
Bukan hanya nanti.
Allah berfirman,
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia...."
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa dunia adalah ladang akhirat.
Ladang yang tidak digarap tidak akan menghasilkan panen.
Bagi kaum sufi, melayani makhluk adalah jalan pintas menuju Sang Khalik.
Mungkin inilah makna Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."
Rahmat bukan sekadar ucapan.
Rahmat adalah manfaat yang nyata.
Rahmat adalah ilmu yang membebaskan manusia dari kebodohan.
Rahmat adalah ekonomi yang membebaskan manusia dari kemiskinan.
Rahmat adalah kesehatan yang membebaskan manusia dari penderitaan.
Rahmat adalah pendidikan yang membebaskan manusia dari ketidaktahuan.
Rahmat adalah kasih sayang yang membebaskan manusia dari kebencian.
Malik Bennabi pernah mengatakan bahwa kejatuhan umat Islam dimulai ketika mereka berhenti membangun manusia dan hanya sibuk membangun benda.
Kaum sufi mengajarkan bahwa rahmat adalah wajah Tuhan yang sering tersembunyi di balik tangan hamba-Nya yang melayani sesama.
Jika masjid mampu menghadirkan semua itu, maka ia benar-benar menjadi rumah Tuhan dalam arti yang paling indah.
Bukan karena Tuhan tinggal di dalamnya.
Melainkan karena nilai-nilai ketuhanan hidup di dalam setiap aktivitasnya.
Maka ukuran keberhasilan sebuah masjid bukan lagi berapa besar kubahnya.
Melainkan berapa besar manfaatnya.
Bukan lagi berapa tinggi menaranya.
Melainkan berapa banyak manusia yang berhasil diangkat martabatnya.
Bukan lagi berapa mahal karpetnya.
Melainkan berapa banyak air mata yang berhasil diseka dan dibahagiakan.
Bukan lagi berapa keras suara pengerasnya.
Melainkan berapa jauh cahaya ilmunya menjangkau kehidupan.
Karena itu, kemuliaan sebuah masjid tidak diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari sejauh mana ia memancarkan cahaya hati orang-orang yang memakmurkannya.
Pada akhirnya, peradaban tidak pernah dibangun oleh benda-benda mati.
Peradaban dibangun oleh manusia.
Dan manusia dibangun oleh ilmu.
Oleh kasih sayang. Oleh kejujuran. Oleh keberanian.
Oleh kerja yang penuh tanggung jawab.
Barangkali di situlah revolusi masjid yang sesungguhnya dimulai.
Bukan dari arsiteknya.
Bukan pula dari kemegahan kubahnya.
Melainkan dari cara kita memahami mengapa masjid itu ada.
Masjid bukan sekadar tempat untuk berkumpul.
Bukan sekadar tempat untuk menjalankan ritual.
Masjid adalah tempat manusia bertumbuh.
Tempat ilmu dinyalakan.
Tempat harapan dipulihkan.
Tempat akal diasah.
Tempat hati dilembutkan.
Tempat kehidupan diperjuangkan.
Ketika semua itu hidup di dalam masjid, kita tidak lagi bertanya apakah Tuhan ada di sana.
Sebab kehadiran Tuhan akan tampak nyata melalui ilmu yang dibagikan.
Melalui tangan yang menolong.
Melalui keadilan yang ditegakkan.
Melalui kasih sayang yang dihidupkan.
Melalui manusia-manusia yang pulang dari masjid dengan hati yang lebih lapang, pikiran yang lebih terang, dan tekad yang lebih kuat untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Mungkin itulah makna terdalam dari memakmurkan masjid.
Bukan hanya memakmurkan bangunannya.
Melainkan memakmurkan kehidupan yang tumbuh darinya.
Sebab Tuhan tidak membutuhkan bangunan yang megah.
Yang Dia kehendaki adalah hati yang hidup.
Akal yang bekerja.
Tangan yang bermanfaat.
Dan manusia yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Barangkali, di situlah kita mulai memahami kalimat:
"Tuhan Tidak Ada di Masjid."
Bahwa,
Tuhan itu hadir di mana pun nilai-nilai-Nya dihidupkan.
(Selesai)
