Masa lalu
memang
menyimpan banyak luapan
kenangan—
gunungan genangan yang berlinang.
Di matamu tercipta danau-danau kesedihan,
letupan-letupan yang dalam.
Kau terlihat sedih, kekasih.
Barangkali perasaanmu sedang sakit.
Sini, kulihat lukamu,
kucarikan obatnya,
kudoakan sembuhnya,
kuambil aduhnya.
Kesedihan tak bisa kau kubur selamanya,
sekuat apa pun hatimu menyembunyikannya.
Air matamu
akan tetap membongkarnya.
Kesedihan laksana langit gelap,
kelam, berawan;
selaksa risau,
seusia gelisah perempuan perawan.
Kau yang muram di puisiku,
berkali-kali menitipkan luka
di kata-kataku.
Seandainya kesedihan adalah dagangan,
akan kubeli habis semuanya darimu,
meskipun akhirnya
aku bangkrut
dan jadi gelandangan.
Kau tetap
kuperempuankan.
