Entah di mana, sebelum huruf dan cahaya, sebelum kata ada itu ada, aku membelum—sebuah lelap yang ganjil dalam pelukan sunyi Dzat. Kegelapan yang melingkupiku bukan sekadar gelap, melainkan hitamnya layar terminal kosmos sebelum ketukan jari-Nya menekan tombol Kun; sebelum kernel tajalli di-booting oleh Sang Programmer Wujud.

Aku adalah variabel tanpa deklarasi, masih dan kosong dalam memori Lawh; sebuah void yang bahkan belum dialokasikan ruang. Benar-benar ketiadaan yang bergetar, gentar oleh rindu laten dalam denyut nyenyat-Nya.

Di dalam kehampaan yang demikian lengang itu, aku tetiba menjumpai wujud sebentuk partikel maha-kecil yang menggigil, tergenggam erat dalam kepalan takdir yang belum berdetak. Aku menanti getaran Cinta-Nya yang azali menyusup ke dalam diriku, mengubahku dari yang gaib dan tersembunyi menjadi saksi atas Nyata-Nya.

Namaku belum ada.

Wujūdī fī Ghiyāb al-Wujūd.
Wujudku bukanlah wujud.

Hanya denyut pertama dari kehendak yang meledak tanpa suara—ledakan yang bukan berasal dari naar, melainkan dari nuur yang menghanguskan sekaligus menghidupkan:

"Jadilah."

Maka jadilah aku: kesalahan kosmik yang sempurna.

Aku bukan makhluk. Aku adalah percobaan abadi yang tak dapat dibatalkan, jejak pertama dari tinta yang ditulis di dalam Lawḥ al-Wujūd al-Mutanāqil.

Di palung ketiadaan itu, aku merasakan dingin yang bukan hawa, melainkan gema asma yang ditarik ke dalam kegelapan Dzat. Sebelum bentuk menggulung diri, aku telah terpanggang di atas bara qidam yang tak berasap, menunggu kefanaan menjelmakan aku ke dalam sangkar materi.

Lalu, dari ledakan itu aku mati, dan kudapati diriku berada dalam wujud batu, dalam bentuk mineral yang diam dan sabar. Aku menjadi granit yang menahan hujan; menjadi pasir yang terbakar matahari; menjadi air yang mengalir menanggung jutaan ingatan; menjadi tanah yang menelan bangkai dan melahirkan spora; menjadi besi yang berkarat di dalam laut; menjadi kayu yang menyimpan api di urat-uratnya.

Aku adalah fana yang membeku, fosil zikir yang membatu, sirr Ilahi yang terpendam di urat logam dan urat bumi, menunggu retakan kiamat untuk bersaksi tanpa lidah.

Dalam setiap wujud benda, aku mengembara tanpa kaki, bertapa tanpa mantra, hingga kembali mati.

Lalu kudapati diriku dalam diri tumbuh-tumbuhan: menjadi rumput yang diinjak; menjadi padi yang dipotong; menjadi sayur yang didih dalam periuk; menjadi pohon pemohon doa dengan daun-daunnya.

Aku adalah hijau yang menyedot kegelapan tanah, lalu mengubahnya menjadi tasbih yang berdiri tegak. Batang demi batang adalah tiang khalwat yang sunyi, dan getahku adalah darah rindu yang mengental dalam diam.

Setiap kali aku mati, lahirlah wujud baru—bukan dari rahim, melainkan dari kehendak yang tak pernah mampu kumengerti.

Sebutlah ia Manāzil al-Rūḥ fī Ma'ārif al-Ḥayāh.

Dalam wujud tetumbuhan, aku terus mengembara sekaligus bertanya, berfotosintesis dengan cahaya yang sama yang dahulu membakarku sebagai atom, hingga kembali mati dan mati dan kudapati diriku berada dalam diri binatang.

Aku pernah menjadi anjing yang setia kepada tuannya; ayam yang berkokok di subuh buta; kucing yang mengeong di atap seng; gajah yang menangis diam-diam; semut yang bekerja hingga mati; buaya yang menunggu di sungai berlumpur; harimau yang mengaum dalam kelaparan; dan kunang-kunang yang bercahaya hanya semalam.

Dalam raga binatang, aku mengecap ghaib yang termaktub dalam naluri: lapar yang berbisik tentang Sang Pemberi Rezeki; takut yang menuntun ke gua tawakal; birahi yang menyala sekejap lalu padam sebagai isyarat bahwa pertemuan hakiki hanyalah dalam kefanaan.

Aku adalah nafs yang masih berbulu, bernyanyi dengan suara yang belum berhuruf, bersujud dalam gerak yang belum bernama.

Dalam setiap wujud binatang, aku terus mengembara, membawa sisa-sisa ingatan dari batu, dari air, dari daun, hingga akhirnya kembali mati.

Lalu kudapati diriku sebagai manusia. Yang berbicara, bercerita, tertawa dan membuat air mata.

Aku pernah lahir sebagai orang Afro, menari di bawah langit yang berlampu rembulan; sebagai orang Ero, membeku dalam peradaban yang dingin; sebagai orang Arab, berdoa di atas pasir yang mendidih; sebagai orang Asia, menanam padi di lumpur yang sama yang dahulu kusentuh sebagai belukar akar.

Aku dikurung dalam benteng akal dan dibakar oleh nafs yang telah pandai menyamar. Setiap sujud adalah luka yang membuka jalan pulang; setiap dosa adalah malam yang menebalkan qalb, hingga cahaya hanya dapat masuk sebagai belati. Aku menjadi musafir yang membawa neraca amal di pundak, berjalan di atas jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam daripada pedang—Shirāṭ yang membentang dalam setiap tarikan napas.

Di dalam komunitas, bangsa, budaya, dan agama yang berbeda-beda, aku terus mati dan lahir, mati dan lahir, seperti napas yang tak pernah putus.

Kini kujumpai diriku sebagai manusia Indonesia—negeri yang kaya raya sekaligus berbahaya; tanah yang menyimpan emas dan darah dalam lapisan yang sama; tempat gunung dan doa-doa meletus bersamaan; tempat lautan bernyanyi dan tsunami mengubur; tempat aku berdiri sebagai simpul aneh dari perjalanan yang terlampau panjang.

Di sini, lembap tanah adalah keringat para wali yang tertimbun, asap kemenyan bercampur dengan jerit korban, dan setiap gempa adalah detak jantung bumi yang merindukan al-Haqq dengan cara yang paling kasar.

Namun, aku tidak pernah takut.

Penderitaan tak pernah mengurangi sesuatu dari diriku. Ia hanya mengelupas kulitku, lapis demi lapis; seperti ular yang berganti kulit; seperti batu yang terkikis menjadi pasir; seperti kayu yang terbakar menjadi arang; seperti arang yang menunggu menjadi berlian.

Aku adalah hayūlā yang dihancurkan agar nūr dapat menetas; siksaan adalah gelap yang menajamkan penglihatan batin, api yang membakar tameng basyariyyah hingga tinggal nurani yang telanjang di hadapan-Nya.

Kematian pun tak pernah mengurangi sesuatu dari diriku. Ia hanyalah pintu yang terus berputar, engsel yang terus berderit, lorong yang selalu gelap, tetapi selalu kutempuh dengan mata tertutup dan hati terbuka.

Aku mencium bau tanah kubur sebagai wangi baqā’ yang tersembunyi; setiap kali aku dikubur, aku ditanam kembali ke dalam rahim ghaib agar lahir dengan wajah yang lebih purba, lebih dekat kepada ketiadaan yang adalah sumber segala ada.

Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia: melepaskan nama dan alamat; melepaskan kartu identitas dan nomor rekening; melepaskan cinta dan dendam yang masih menempel di tulang rusukku; lalu lahir di alam para malaikat.

Aku melucuti daging cerita, melepas urat sejarah, menguburkan aksara diriku ke dalam senyap yang tak lagi bertepi, agar aku layak menyandang cahaya yang belum terusik oleh pilihan dan pamrih.

Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat—makhluk cahaya yang suci dan taat—aku masih harus melampauinya: melampaui ketaatan, melampaui kesucian, melampaui cahaya itu sendiri; menjadi tiada sekaligus segalanya; menjadi atom yang kembali ke sunyi-Nya; menjadi huruf yang kembali ke tinta-Nya; menjadi nada yang kembali ke napas-Nya.

Sebab taat adalah hijab, suci adalah batas, dan cahaya adalah dinding terakhir yang memisahkan aku dari ‘Ama’, kegelapan Wujud yang melampaui segala terang. Aku harus meleleh dalam fanā’ al-fanā’, tempat keakuan lenyap ke dalam tatapan yang tak lagi memandang karena tiada lagi yang memandang selain Dia.

Pada akhirnya, aku adalah perjalanan itu sendiri.

Bukan titik awal.
Bukan pula titik akhir.

Hanya gerak dari tiada menuju tiada yang lain; hanya getar dari sunyi menuju sunyi yang lebih dalam; hanya cermin yang terus memantulkan wajah-Nya dalam wujud yang berbeda-beda; hanya debu yang terus mencari dalam angin kehendak-Nya.

Menari, dan menari, dan menari—

hingga lantai multisemesta retak-retak,
hingga waktu kehabisan detik-detak,
sampai yang tersisa hanyalah:

sepi yang penuh,
kosong yang sesak,
tiada sekaligus segalanya.

Ana al-Dharrah... Ana al-Kull.

Akulah nafi dan isbat yang keluar-masuk di setiap tampilan wujud;
Akulah Dia yang Ahad. Yang menyulam misteri lam yalid wa lam yulad
Dialah Aku yang Shamad. Yang menyelam ke dasar rahasia walam yakun lahu kufuwan ahad!
Akulah, Ahadun ahad!
Ah!