Ibuku adalah Perpustakaan Pertamaku
Ibuku adalah perpustakaan pertamaku.
Mengajariku apa itu cinta, menangis, dan tertawa.
Ibuku adalah guru tanpa buku.
Lebih buku dari buku.
Guru di atas guru.
Mencintaiku tanpa pernah mengatakan, "Aku mencintaimu, anakku."
Ibuku pernah menasihatiku:
"Nak, kalau kamu jatuh cinta kepada seorang perempuan, jangan terlalu lebih. Jangan terlalu dalam. Jangan terlalu luas. Jangan terlalu cinta. Nanti kamu akan sangat sakit, terluka, dan menderita.
Sekali lagi, Nak, cintailah sekedarnya saja.
Berjanjilah pada Ibu...."
Aku tertunduk.
Mengangguk-angguk.
Lalu berkata:
"Iya, Bu. Aku janji."
Namun di dalam hati, aku melanjutkan jawabanku sendiri:
"Aku janji, Bu. Aku akan mencintai seorang perempuan sepenuh hatiku, segenap jiwaku, tanpa logika, tanpa matematika. Dengan cara yang paling gila. Dengan cinta yang luas dan teramat dalam. Walaupun aku harus mati di tangannya."
Tiba-tiba ibuku roboh memelukku.
"Nak, aku sudah hafal isi hatimu.
Aku yang melahirkanmu.
Aku yang membesarkanmu.
Jangan bohongi Ibu.
Jangan lakukan itu!"
"Tapi aku ingin merasakan penderitaan cinta Ibu kepadaku saat melahirkan aku."
"Nak, kamu tidak akan kuat.
Cukup Ibu yang merasakannya."
Batinku pecah.
Pipiku basah.
Ibuku adalah perpustakaan air mataku.
Aku memang mencintai pengetahuan: buku.
Tetapi aku lebih mencintai perempuan:
Ibuku.
Kepada yang mulia semua ibu, dan semua perempuan yang kelak akan menjadi seorang ibu.
Syai'un lillah lahum Al-Fatihah.