Apa Itu Sufisme?
Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia tidak pernah berhenti mengajukan pertanyaan yang sama. Mengapa kita ada? Ke mana hidup ini berjalan? Mengapa di tengah kelimpahan, hati tetap merasa ada yang kurang? Kita membangun peradaban, menciptakan ilmu pengetahuan, mendirikan agama, menulis kitab-kitab, dan melahirkan berbagai filsafat. Namun, di balik semua itu, tetap ada satu kerinduan yang diam-diam tinggal di dalam dada: kerinduan untuk pulang kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri.
Di setiap zaman selalu muncul orang-orang yang tidak puas hanya dengan jawaban-jawaban di permukaan. Mereka tidak sekadar ingin mengetahui Tuhan, tetapi ingin mengalami-Nya. Mereka tidak puas hanya berbicara tentang cinta, tetapi ingin tenggelam di dalamnya. Mereka mencari bukan karena kehilangan arah, melainkan karena mendengar panggilan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Jalan yang mereka tempuh kemudian dikenal dengan banyak nama. Di dalam tradisi Islam, jalan itu disebut Tasawuf atau Sufisme.
Apa Itu Sufi?
Seorang sufi adalah seseorang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya. Ia tidak hanya percaya kepada Tuhan, tetapi berusaha mengenal, mencintai, dan mengalami kehadiran-Nya secara langsung dalam setiap tarikan napas, setiap langkah, dan setiap peristiwa hidup.
Bagi seorang sufi, agama bukan sekadar kumpulan aturan yang dijalankan karena kewajiban. Agama adalah jalan cinta. Ibadah bukan lagi beban, melainkan perjumpaan. Doa bukan sekadar permintaan, melainkan percakapan yang intim antara seorang hamba dengan Sang Kekasih.
Yang dicari seorang sufi bukanlah surga, bukan pula kemuliaan di mata manusia. Yang ia cari adalah Tuhan sendiri. Sebab ketika Tuhan telah ditemukan, semua yang lain menemukan tempatnya.
Perjalanan seorang sufi adalah perjalanan mengikis ego sedikit demi sedikit. Ia belajar melepaskan kesombongan, amarah, keserakahan, kebencian, dan segala sesuatu yang membuat hatinya jauh dari Cahaya. Ia memahami bahwa musuh terbesar manusia bukan dunia di luar dirinya, melainkan "aku" yang terus ingin dipuji, dimenangkan, dan dipertahankan.
Karena itu, seorang sufi tidak diukur dari pakaian yang dikenakannya, janggut yang dipeliharanya, tasbih yang dibawanya, atau gelar keagamaannya. Seorang sufi dikenali dari kelembutan hatinya, kerendahan dirinya, kasih sayangnya kepada semua makhluk, dan kedamaian yang memancar dari kehadirannya.
Seorang sufi bisa menjadi ulama, petani, pedagang, guru, dokter, seniman, debt collector, rektor, menteri, bahkan seorang pekerja biasa. Yang membedakannya bukan profesinya, melainkan kesadarannya. Ia bekerja dengan tubuhnya, tetapi hatinya selalu menghadap kepada Tuhan.
Seorang sufi bukanlah orang yang melarikan diri dari dunia. Justru ia hadir sepenuhnya di dalam dunia tanpa diperbudak olehnya. Ia mencintai kehidupan tanpa melekat padanya. Ia mencintai manusia tanpa memiliki mereka. Dan ia mencintai Tuhan hingga akhirnya tidak lagi melihat apa pun selain Dia.
Itulah sebabnya para sufi sering mengatakan bahwa seseorang tidak menjadi sufi karena mengaku sebagai sufi. Ia menjadi sufi ketika dirinya perlahan-lahan lenyap, dan yang tersisa hanyalah cinta.
Seorang sufi bisa lahir di mana saja, dalam budaya apa saja, dan memakai identitas apa saja. Sebab Sufisme adalah inti terdalam dari semua agama. Sufisme bukan milik Islam semata.
Sufisme bisa tetap ada tanpa Islam. Sebaliknya, Islam tanpa Sufisme hanyalah tubuh tanpa ruh. Baru ketika Sufisme hadir, agama menjadi hidup.
Setiap agama yang benar-benar hidup selalu memiliki ruh Sufisme di dalamnya.
Apa sebenarnya Sufisme?
Sederhananya, Sufisme adalah kisah cinta dengan Tuhan. Cinta kepada Yang Maha Ada. Cinta kepada seluruh keberadaan.
Seorang sufi rela melebur ke dalam keseluruhan hidup. Ia membuka hatinya agar Tuhan memenuhi seluruh ruang batinnya.
Karena itu, sufisme tidak terikat pada aturan-aturan lahiriah. Ia tidak dibatasi oleh dogma, mazhab, doktrin, ataupun lembaga agama.
Nabi Isa adalah seorang sufi.
Nabi Muhammad juga seorang sufi.
Krishna adalah seorang sufi.
Buddha juga demikian.
Inilah hal pertama yang perlu diingat.
Sufisme adalah inti terdalam dari pengalaman spiritual manusia, sebagaimana Zen dalam tradisi Buddha, Unio Mystica dalam tradisi Kristen, atau Hassidisme dalam tradisi Yahudi. Nama mereka berbeda, tetapi semuanya menunjuk pada hubungan terdalam antara manusia dan Tuhan.
Jalan yang Berbahaya
Hubungan seperti ini bukanlah jalan yang aman.
Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lenyap rasa "aku" di dalam dirinya.
Ketika akhirnya benar-benar sampai kepada Tuhan, yang tersisa bukan lagi ego pribadinya.
Karena itu jalan ini terasa seperti bunuh diri.
Namun ini adalah bunuh diri yang indah.
Mati di dalam Tuhan justru merupakan satu-satunya cara untuk benar-benar hidup.
Selama ego belum mati—selama kita belum rela melebur dalam cinta—kehidupan hanya berjalan biasa-biasa saja.
Kita sekadar bertahan hidup.
Tidak ada puisi yang lahir dari hati.
Tidak ada tarian.
Tidak ada perayaan.
Kita hanya meraba-raba dalam kegelapan.
Kita hidup sekadar pada batas minimum.
Belum pernah benar-benar dipenuhi kegembiraan yang meluap.
Kebahagiaan yang melimpah itu baru muncul ketika ego tidak lagi mendominasi.
Justru "aku"-lah yang menjadi penghalang.
Sufisme adalah seni menyingkirkan penghalang itu.
Penghalang antara dirimu dengan dirimu sendiri.
Antara ego dengan hakikat dirimu.
Antara bagian kecil dengan Keseluruhan.
Siapa Itu Seorang Sufi?
Ada sebuah kamus Persia kuno yang memberikan definisi yang sangat unik.
"Siapakah seorang sufi?
Seorang sufi adalah... seorang sufi."
Sekilas definisi ini terdengar tidak menjelaskan apa-apa.
Namun justru di situlah keindahannya.
Pengalaman menjadi seorang sufi memang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Tidak ada sinonimnya.
Tidak ada definisi yang benar-benar mampu menangkap maknanya.
Sufisme bukan sesuatu yang bisa dipahami hanya dengan berpikir.
Ia harus dialami.
Satu-satunya cara mengetahui apa itu Sufisme adalah dengan menjalaninya.
Bukan dengan membaca kamus.
Melainkan dengan merasakan sendiri kenyataannya.
Begitulah Sufisme.
Kalau hari ini kamu belum siap 'meminum anggur' Sufisme, setidaknya cobalah mencicipinya sedikit.
Karena begitu seseorang merasakan setetes saja manisnya pengalaman itu, ia akan haus untuk merasakan lebih banyak lagi.
Saat itulah untuk pertama kalinya muncul rasa 'lapar' yang agung kepada Tuhan.
(Bersambung ... )
