Ada dua cara mengenal sesuatu. Cara pertama adalah dengan mengumpulkan informasi tentangnya. Kita membaca buku, mendengar ceramah, menghafal istilah, lalu merasa sudah mengerti. Cara kedua jauh lebih sunyi. Kita tidak lagi sibuk menambah pengetahuan, melainkan membiarkan diri disentuh oleh pengalaman. Yang pertama memenuhi kepala. Yang kedua mengubah hati. Hampir semua hal penting dalam hidup—cinta, keindahan, kesedihan, kebahagiaan—sesungguhnya hanya bisa dipahami melalui cara yang kedua.

Sufisme termasuk di antaranya. Ia bukan sekadar pengetahuan yang bisa dipindahkan dari satu pikiran ke pikiran lain. Ia lebih mirip aroma bunga. Kamu bisa membaca ribuan halaman tentang wangi mawar, tetapi tidak akan pernah benar-benar mengenalnya sebelum menghirupnya sendiri. Begitu pula dengan Sufisme. Ia tidak meminta kita untuk sekadar memahami, melainkan untuk mengalami. Dan perjalanan itu selalu dimulai ketika kita berani melampaui kata-kata.

Sufisme Tidak Bisa Dipelajari dari Buku

Tulisan saya ini tidak akan mampu menjelaskan apa itu Sufisme.

Mengapa?

Karena saya bukan seorang filsuf.

Saya juga bukan ahli teologi.

Dan sebenarnya saya tidak sedang berbicara tentang sufisme.

Saya sedang berbicara dengan cara sufi.

Kalau kamu bersedia memasuki petualangan ini, kamu akan mulai merasakan sedikit demi sedikit rasanya.

Sesuatu akan mulai bergerak di dalam hatimu.

Seperti kuncup bunga yang perlahan mekar.

Atau seperti hati yang telah lama tertidur, lalu mulai terbangun oleh cahaya fajar yang pertama.

Di situlah kamu akan mulai mencicipi sufisme.


Sufisme Diturunkan dari Hati ke Hati

Sufisme adalah sejenis keajaiban.

Bukan keajaiban yang ramai dipertontonkan.

Melainkan keajaiban yang sangat halus dan sangat langka.

Keajaiban itu tidak bisa dipindahkan melalui buku.

Tidak bisa diwariskan hanya lewat kitab suci.

Sufisme ditransmisikan dari satu hati ke hati yang lain.

Dalam tradisi sufi, proses ini disebut silsilah.

Dalam tradisi Hindu dikenal dengan istilah parampara.

Artinya sama.

Sebuah aliran kehidupan yang berpindah dari seorang guru kepada muridnya.

Dari hati ke hati.

Dari jiwa ke jiwa.

Karena itu Sufisme adalah jalan yang sangat personal.


Mengapa Seorang Guru Diperlukan?

Kamu bisa membaca semua buku tentang Sufisme yang pernah ditulis.

Tetapi tanpa seorang pembimbing yang telah mengalami sendiri jalan itu, kamu hanya akan tersesat di tengah belantara hutan kata-kata.

Buku hanya menunjukkan arah.

Guru menunjukkan jalannya.

Dan bukan sekadar menunjukkan.

Ia mengajakmu berjalan.

Karena itu, selama seseorang belum menemukan guru yang tercerahkan—dan belum membuka hatinya kepada sang guru—ia baru mengenal teori, belum mengenal rasa.


Jalan Ini untuk Orang yang Berani

Saya siap mengajakmu melakukan perjalanan yang sangat jauh.

Tetapi hanya jika kamu cukup berani.

Hanya jika kamu benar-benar haus akan kebenaran.

Saya berharap kamu termasuk orang seperti itu.

Sebab biasanya yang tertarik adalah orang-orang yang memiliki keberanian untuk mempertaruhkan dirinya.

Ajaran ini bukan untuk para pengecut.

Bukan pula untuk orang-orang yang sekadar ingin terlihat religius.

Bukan untuk mereka yang hanya takut kepada Tuhan.

Sufisme adalah untuk orang-orang yang mencintai Tuhan.

Dan itu adalah dua hal yang sama sekali berbeda.


Takut kepada Tuhan atau Mencintai Tuhan?

Orang yang hanya takut kepada Tuhan tidak akan pernah mampu masuk ke kedalaman agama.

Rasa takut selalu membuat seseorang menjaga jarak.

Padahal cinta justru membuat seseorang mendekat.

Karena itu, ungkapan "takutlah kepada Tuhan" sesungguhnya terasa aneh.

Kalau kepada Tuhan saja kita takut, lalu kepada siapa lagi kita akan belajar mencintai?

Bagaimana mungkin cinta bisa tumbuh jika hubungan kita sejak awal dibangun di atas ketakutan?

Cinta tidak pernah lahir dari rasa takut.

Dan rasa takut juga tidak pernah lahir dari cinta.

Ketika kamu benar-benar mencintai seseorang, rasa takut perlahan menghilang.

Sebaliknya, ketika kamu takut kepada seseorang, cinta menjadi mustahil.

Paling jauh, yang muncul hanyalah kepatuhan.

Atau bahkan kebencian yang dipendam.

Tetapi bukan cinta.


Agama yang Dibangun di Atas Ketakutan

Sejak kecil kita diajarkan untuk takut.

Takut kepada neraka.

Takut kepada hukuman.

Takut kepada dosa.

Takut kepada Tuhan.

Akhirnya kita berbuat baik bukan karena mencintai kebaikan.

Melainkan karena takut dihukum.

Tetapi kebajikan seperti apa yang lahir dari rasa takut?

Jika dasar hubunganmu dengan Tuhan adalah ketakutan, bagaimana mungkin cinta bisa tumbuh?

Itu mustahil.


Mengapa Nietzsche Berkata "Tuhan Telah Mati"

Selama berabad-abad, manusia diajarkan untuk takut kepada Tuhan.

Akibat akhirnya sangat ironis.

Suatu hari, Friedrich Nietzsche berkata,

"Tuhan telah mati."

Lalu ia menambahkan,

"Sekarang manusia menjadi bebas."

Pernyataan itu bukan sekadar serangan terhadap agama.

Ia adalah akibat dari cara manusia memandang Tuhan selama berabad-abad.

Jika Tuhan selalu dipersepsikan sebagai sumber ancaman dan ketakutan, lambat laun manusia akan memberontak.

Sampai akhirnya ia berkata,

"Aku tidak mau lagi hidup dalam ketakutan."

Lalu ia "membunuh" Tuhan di dalam pikirannya.

Ketakutan tidak pernah melahirkan kebebasan.

Hanya cinta yang mampu melakukannya.


Orang-Orang yang Datang ke Seorang Mursyid

Mereka yang datang kepada seorang guru atau mursyid bukanlah orang yang sekadar ingin percaya.

Mereka ingin mengetahui.

Bukan pengetahuan pinjaman.

Bukan keyakinan hasil warisan.

Mereka ingin mengalami sendiri.

Mereka ingin merasakan sendiri.

Mereka ingin berjumpa langsung dengan Tuhan.

Mereka ingin menatap-Nya, seolah memandang ke dalam mata-Nya sendiri.

Namun, sebelum seseorang mampu menatap Tuhan, ia harus terlebih dahulu belajar menatap mata seorang Mursyid.

Di sanalah perjalanan dimulai.

Mursyid bukanlah tujuan.

Ia hanyalah pintu.

Melalui pintu itulah seseorang mulai memasuki rumah Tuhan.


(Bersambung ke bagian berikutnya: Asal-usul Kata "Sufi", yang membahas makna kata suf, sufa, dan simbol pakaian wol sebagai lambang kepolosan dan kebebasan batin.)