Asal-usul Kata "Sufi"
Sebenarnya saya tidak sedang berbicara tentang Sufisme. Saya sedang menghidupkan Sufisme itu sendiri.
Menariknya, kata Sufisme memiliki beberapa kemungkinan asal-usul. Dan semuanya indah.
Saya tidak ingin memilih salah satunya lalu menganggap yang lain salah.
Masing-masing memberi sudut pandang yang berbeda, dan semuanya menyimpan makna yang berharga.
Seorang guru sufi tua, Abul Hasan, pernah berkata,
"Dahulu Sufisme adalah kenyataan tanpa nama. Sekarang Sufisme menjadi nama tanpa kenyataan."
Ucapan ini sangat menyentuh.
Berabad-abad lamanya, Sufisme memang hidup tanpa pernah disebut "Sufisme".
Ia hadir sebagai pengalaman.
Bukan sebagai sebuah label.
Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa Nabi Isa adalah seorang sufi.
Nabi Muhammad juga seorang sufi.
Mahavira juga seorang sufi.
Krishna pun demikian.
Siapa pun yang benar-benar mengenal Tuhan adalah seorang sufi, apa pun nama agamanya.
Mengapa Disebut "Sufi"?
Kata Sufi sebenarnya relatif baru.
Istilah itu mulai populer melalui para sarjana Barat sekitar satu setengah abad yang lalu.
Dalam bahasa Arab, istilah yang lebih tepat adalah tasawuf.
Baik Sufi maupun tasawuf sama-sama dianggap berasal dari akar kata ṣūf, yang berarti wol.
Sekilas terdengar aneh.
Mengapa wol?
Mengapa kain wol justru menjadi lambang kehidupan spiritual?
Banyak ahli mengatakan bahwa para sufi zaman dahulu memang memakai pakaian dari wol.
Benar.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah:
Mengapa mereka memilih pakaian wol?
Di sinilah letak makna simboliknya.
Mengapa Memakai Pakaian Wol?
Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Nabi Musa mengenakan pakaian dari wol ketika menerima wahyu dari Tuhan.
Tetapi pakaian itu bukan sekadar soal bahan.
Ia adalah simbol.
Wol adalah bulu domba.
Pakaian wol melambangkan kehidupan hewan.
Pesan yang ingin disampaikan adalah:
Seorang sufi harus kembali memiliki kepolosan seekor binatang.
Bukan menjadi liar.
Melainkan menjadi alami.
Menjadi murni.
Menjadi apa adanya.
Ia harus melepaskan segala lapisan buatan yang selama ini dibangun oleh peradaban, budaya, dan berbagai bentuk pengondisian.
Ia kembali kepada keadaan yang paling asli.
Kembali Menjadi Alami
Jangan salah paham.
Ketika saya mengatakan manusia harus menjadi seperti binatang, bukan berarti ia turun derajat.
Justru sebaliknya.
Ia naik.
Manusia tidak mungkin benar-benar kembali menjadi binatang.
Yang terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih indah.
Ia menjadi seorang suci.
Mengapa?
Karena kesadarannya tetap utuh.
Namun kesadaran itu sudah tidak dibebani oleh identitas-identitas buatan.
Ia tidak lagi hidup sebagai seorang Hindu.
Tidak lagi sebagai seorang Muslim.
Tidak lagi sebagai seorang Kristen.
Ia hidup sebagai bagian dari alam semesta.
Sebagaimana burung.
Sebagaimana pohon.
Sebagaimana sungai.
Sebagaimana bintang.
Ia tidak lagi membawa beban ideologi di kepalanya.
Tidak lagi dipenuhi konsep-konsep.
Pikirannya menjadi bening.
Ia masih ada.
Tetapi ia tidak lagi hidup di dalam pikirannya.
Pikiran yang Kosong
Inilah makna terdalam dari pakaian wol.
Menjadi seperti binatang yang polos.
Belum mengenal pembagian antara baik dan buruk.
Belum sibuk memberi label pada segala sesuatu.
Justru dari kepolosan seperti itulah kebaikan yang sejati lahir.
Kebaikan yang tidak dibuat-buat.
Kebaikan yang mengalir begitu saja.
Bahaya Terlalu Banyak Memilih
Selama kita terus membagi dunia menjadi "ini baik" dan "itu buruk", batin kita akan selalu terpecah.
Begitu kita memilih satu sisi, kita otomatis menolak sisi lainnya.
Penolakan itu melahirkan penekanan.
Kita mulai berkata,
"Aku tidak boleh marah."
"Aku tidak boleh iri."
"Aku tidak boleh membenci."
Akibatnya, semua perasaan yang kita tolak tidak hilang.
Mereka hanya didorong masuk lebih dalam.
Tetapi tetap hidup.
Dan diam-diam terus menggerogoti diri kita.
Suatu saat nanti, semua yang ditekan itu akan meledak.
Cepat atau lambat.
Ketika ledakan itu terjadi, seseorang bisa kehilangan keseimbangan batinnya.
Mengapa Manusia Modern Gelisah?
Karena itulah orang-orang yang menganggap dirinya paling beradab justru sering hidup di ambang kegilaan.
Lihatlah dunia ini.
Betapa banyak kecemasan.
Betapa banyak depresi.
Betapa banyak konflik batin.
Perbedaannya hanya soal kadar.
Ada yang sudah meledak.
Ada yang baru menyimpan bara.
Mungkin hari ini kita masih terlihat baik-baik saja.
Namun di dalam diri kita ada begitu banyak kemarahan, ketakutan, rasa bersalah, dan luka yang terus dikubur.
Kita menyibukkan diri dengan pekerjaan, hiburan, media sosial, dan seribu aktivitas lain hanya agar tidak perlu menghadapi diri sendiri.
Padahal semua itu terus menumpuk.
Terus mengumpulkan tenaga.
Dan suatu hari, pemicu yang sangat kecil saja bisa membuat semuanya meledak.
Kepolosan Seorang Sufi
Binatang tidak memilih.
Ia menerima hidup sebagaimana adanya.
Demikian pula seorang sufi.
Ia tidak hidup dalam penolakan.
Ia menjalani hidup dengan kesadaran penuh.
Apa pun yang datang diterimanya sebagai pemberian Tuhan.
Bukan karena pasrah tanpa daya.
Melainkan karena ia tidak lagi mempercayai ego kecilnya sebagai pusat kehidupan.
Ia lebih percaya kepada kebijaksanaan Tuhan daripada kepada pikirannya sendiri.
Karena itulah, ketika bertemu seorang sufi, sering kali kita melihat sesuatu yang sangat langka.
Tatapan matanya begitu jernih.
Kehadirannya terasa ringan.
Ada kebebasan.
Ada kegembiraan.
Ada kepolosan yang mengingatkan kita pada anak kecil, pada burung-burung di langit, pada pepohonan yang bergoyang diterpa angin.
Ia hidup selaras dengan keberadaan.
Bukan lagi melawan arusnya.
Menjadi Seperti Binatang
Mengapa?
Karena bagi saya, menjadi seperti binatang bukanlah sebuah penghinaan.
Justru itu adalah pujian.
Binatang hidup tanpa kepura-puraan.
Ia tidak mengenal kemunafikan.
Ia tidak berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Seekor burung tidak pernah berpura-pura menjadi elang.
Seekor rusa tidak iri kepada singa.
Pohon mangga tidak pernah bercita-cita menjadi pohon kelapa.
Segalanya menerima dirinya sendiri.
Segalanya hidup sesuai kodratnya.
Hanya manusia yang sibuk memakai topeng.
Manusia yang Penuh Topeng
Lihatlah kehidupan kita.
Hampir setiap saat kita sedang memainkan peran.
Kita tersenyum padahal hati sedang marah.
Kita berkata, "Saya baik-baik saja," padahal di dalam sedang hancur.
Kita berpura-pura rendah hati, padahal diam-diam ingin dipuji.
Kita berpura-pura mencintai, padahal yang kita inginkan hanyalah memiliki.
Kita bahkan sering menipu diri sendiri.
Begitu lama kita memakai topeng, sampai akhirnya kita lupa wajah asli kita.
Bahkan Dalam Cinta Pun Kita Masih Bersembunyi
Bayangkan ketika dua orang saling jatuh cinta.
Mereka saling memeluk.
Mereka saling menyentuh.
Tetapi benarkah mereka benar-benar bertemu?
Belum tentu.
Sering kali yang saling bertemu hanyalah dua topeng.
Dua citra yang sama-sama ingin terlihat menarik.
Dua pribadi yang sama-sama takut memperlihatkan dirinya yang sebenarnya.
Kalau kepada sesama manusia saja kita masih memakai topeng, bagaimana mungkin kita berharap bisa bertemu Tuhan?
Tuhan hanya dapat ditemui oleh orang yang berani hadir apa adanya.
Tanpa kepura-puraan.
Tanpa pencitraan.
Tanpa topeng.
Kepolosan Mengundang Kehadiran Tuhan
Karena itu, seorang sufi tidak berusaha menjadi orang suci.
Ia hanya berusaha menjadi dirinya sendiri.
Apa adanya.
Tanpa tambahan.
Tanpa pengurangan.
Ketika seseorang kembali kepada kepolosan seperti itu, Tuhan datang dengan sendirinya.
Bukan karena dipanggil.
Melainkan karena memang tidak ada lagi yang menghalangi-Nya masuk.
Agama yang Hanya Berhenti di Bibir
Begitulah kebanyakan agama dijalankan.
Hanya permainan kata-kata.
Hanya perubahan label.
Tidak pernah benar-benar menyentuh kehidupan.
Kita mengucapkan satu hal.
Memikirkan hal yang lain.
Melakukan hal yang berbeda lagi.
Pikiran berjalan ke satu arah.
Ucapan ke arah lain.
Perbuatan ke arah yang lain lagi.
Kita seperti terdiri dari tiga orang yang saling bertentangan.
Akibatnya kita hidup dalam kekacauan.
Mengapa Binatang Tampak Damai?
Seekor binatang tidak mengalami konflik seperti itu.
Ia utuh.
Karena itulah ia tampak damai.
Lihat seekor kucing yang sedang tidur di bawah matahari.
Ia tidak memiliki rumah mewah.
Tidak punya rekening bank.
Tidak punya jabatan.
Tidak punya televisi.
Tidak punya media sosial.
Tetapi ia tampak begitu tenteram.
Mengapa?
Karena ia tidak hidup dalam pertentangan dengan dirinya sendiri.
Memilih Berarti Memecah Diri
Demikian pula seorang sufi.
Ia tidak hidup dalam pilihan-pilihan ego.
Begitu seseorang mulai memilih berdasarkan kesombongan egonya, saat itulah ia mulai menjauh dari dirinya sendiri.
Ia mulai menciptakan citra.
Mulai berpura-pura.
Mulai menjadi manusia buatan.
Padahal kehidupan sejati hanya bisa lahir dari keaslian.
Kemunafikan yang Kita Pelihara
Begitulah keadaan banyak orang.
Di bibir mereka memuji Tuhan.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari mereka justru lebih tunduk kepada ego, nafsu, dan ketakutan.
Mereka tampak religius di luar.
Namun batinnya dikuasai oleh hal-hal yang selama ini mereka tekan dan sembunyikan.
Semakin sesuatu ditekan, semakin dalam ia masuk ke alam bawah sadar.
Dan semakin kuat pula pengaruhnya.
Itulah sebabnya kemunafikan begitu mudah tumbuh.
Seseorang tampak suci di permukaan.
Namun jauh di dasar dirinya, ia sedang menyimpan segala sesuatu yang ditolaknya.
(Bersambung .... )
