Makna Kedua: Sufi Berarti Kemurnian

Selain berasal dari kata ṣūf (wol), ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata Sufi berasal dari kata ṣafā, yang berarti kemurnian, kejernihan, atau kesucian.

Penafsiran ini juga sangat indah.

Sebab ketika seseorang hidup tanpa terus-menerus memilih, menghakimi, dan menolak kehidupan, batinnya perlahan menjadi jernih dengan sendirinya.

Namun jangan salah mengerti.

Kemurnian yang dimaksud para sufi bukanlah kesucian dalam arti moral.

Bukan berarti seseorang menjadi "orang baik" menurut ukuran masyarakat.

Bukan pula berarti ia selalu tampak saleh.

Kemurnian yang dimaksud jauh lebih dalam.


Kemurnian Bukan Soal Menjadi "Baik"

Banyak orang mengira bahwa menjadi suci berarti selalu melakukan perbuatan baik.

Padahal menurut para sufi, itu belum tentu.

Sebab selama seseorang masih sibuk membagi dunia menjadi "baik" dan "buruk", pikirannya masih dipenuhi konsep.

Ia belum bebas.

Kemurnian sejati bukanlah kemenangan sisi "baik" atas sisi "buruk".

Kemurnian adalah keadaan ketika pikiran tidak lagi dipenuhi oleh penilaian-penilaian semacam itu.

Ia hadir sepenuhnya.

Melihat segala sesuatu apa adanya.

Tanpa prasangka.

Tanpa label.

Tanpa kacamata ego.


Pikiran yang Terlalu Penuh

Mengapa manusia sulit merasakan Tuhan?

Karena pikirannya terlalu ramai.

Kepala kita dipenuhi pendapat.

Dipenuhi teori.

Dipenuhi keyakinan.

Dipenuhi penilaian.

Kita membawa begitu banyak konsep ke mana pun pergi.

Akibatnya, kita tidak lagi melihat kenyataan.

Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat.

Ibarat kaca yang tertutup debu tebal, cahaya tetap ada, tetapi tidak pernah masuk.

Begitu pula hati manusia.

Bukan karena Tuhan jauh.

Melainkan karena hati dipenuhi oleh kebisingan pikiran.


Bahkan Gagasan Tentang Tuhan Pun Bisa Menjadi Penghalang

Mungkin ini terdengar mengejutkan.

Tetapi bagi seorang sufi, bahkan gagasan tentang Tuhan pun bisa menjadi penghalang.

Mengapa?

Karena gagasan tetaplah gagasan.

Ia bukan kenyataan.

Bayangkan seseorang membaca seratus buku tentang madu.

Ia tahu warna madu.

Ia tahu kandungannya.

Ia hafal proses pembuatannya.

Tetapi jika ia belum pernah mencicipinya, apakah ia benar-benar mengenal madu?

Tentu tidak.

Begitu pula dengan Tuhan.

Tuhan bukanlah teori.

Bukan sekadar konsep.

Tuhan adalah pengalaman yang hidup.

Ia harus dialami.

Bukan hanya dipikirkan.


Tuhan Ada di Sini, Bukan Jauh di Sana

Bagi seorang sufi, Tuhan bukanlah sosok yang duduk di singgasana langit yang sangat jauh.

Tuhan hadir di sini.

Saat ini juga.

Dalam setiap napas.

Dalam setiap daun yang bergoyang.

Dalam setiap suara burung.

Dalam setiap detak jantung.

Nama "Tuhan" hanyalah cara kita menyebut keseluruhan kehidupan ini.

Karena itu, mengenal Tuhan bukan berarti pergi ke tempat lain.

Melainkan benar-benar hadir di tempat kita berada sekarang.


Pikiran yang Kosong, Hati yang Penuh

Kemurnian berarti pikiran menjadi bening.

Bukan karena dipaksa kosong.

Tetapi karena tidak lagi dipenuhi oleh tumpukan konsep.

Saat pikiran menjadi sunyi, hati justru mulai berbicara.

Kesadaran menjadi terang.

Dan pada saat itulah seseorang mulai merasakan kehadiran Tuhan, bukan sebagai keyakinan, melainkan sebagai pengalaman.


Mengapa Para Sufi Sering Ditolak?

Ironisnya, orang-orang seperti ini justru jarang diterima oleh masyarakat.

Sejarah menunjukkan bahwa para sufi sering dicurigai.

Bahkan dimusuhi.

Mengapa?

Karena kehadiran mereka membongkar kepalsuan.

Mereka tidak menyerang siapa pun.

Tetapi kehidupan mereka sendiri menjadi cermin yang memantulkan kemunafikan orang lain.

Ketika seseorang hidup dengan jujur, orang-orang yang terbiasa berpura-pura akan merasa terusik.

Mereka merasa dihakimi, meskipun tidak ada satu kata pun yang diucapkan.

Karena itulah banyak sufi mengalami pengasingan, penjara, bahkan hukuman mati.

Bukan karena mereka berbahaya.

Melainkan karena mereka terlalu jujur untuk dunia yang terbiasa memakai topeng.


Ketika Kebenaran Menjadi Ancaman

Mengapa orang seperti Al-Hallaj dan Abu Yazid itu tidak cocok hidup di tengah-tengah masyarakat?

Karena orang yang benar-benar hidup dalam Tuhan sering kali menjadi ancaman bagi masyarakat yang hidup dalam kepura-puraan.

Masyarakat bisa mencintai simbol agama.

Masyarakat bisa membangun rumah ibadah yang megah.

Masyarakat bisa menghormati tokoh-tokoh agama yang sudah lama wafat.

Tetapi ketika ada seseorang yang benar-benar menghadirkan cahaya Tuhan dalam hidupnya, banyak orang justru merasa terganggu.

Mengapa?

Karena cahaya selalu menyingkap apa yang selama ini disembunyikan oleh kegelapan.

Kehadiran seorang sufi menjadi cermin.

Dan tidak semua orang siap bercermin.


Kita Mencintai Nama, Bukan Kenyataannya

Manusia sering kali lebih mudah mencintai sejarah daripada kenyataan.

Kita mengagumi Al-Hallaj.

Tetapi ketika ia masih hidup, masyarakat menganggapnya berbahaya.

Setelah orang-orang suci itu tiada, barulah kita membangun monumen, menulis buku, dan memuji mereka.

Mengapa?

Karena orang yang sudah wafat tidak lagi mengusik kenyamanan kita.

Ia tidak lagi menantang kemunafikan kita.

Ia telah berubah menjadi kenangan.

Padahal ketika masih hidup, kehadirannya seperti api.

Api yang membakar segala kepalsuan.


Hanya Mereka yang Siap Terbakar

Karena itulah, hanya orang-orang yang siap berubah yang berani mendekati seorang guru sejati.

Berjumpa dengan seorang guru bukanlah mencari kenyamanan.

Melainkan bersedia dibakar.

Dibakar kesombongan.

Dibakar kepura-puraan.

Dibakar ego.

Api itu memang menyakitkan.

Namun hanya dengan cara itulah emas dipisahkan dari kotorannya.

Dan hanya dengan cara itulah manusia menemukan dirinya yang sejati.


Kemurnian yang Dimaksud Para Sufi

Inilah makna kemurnian menurut para sufi.

Bukan sekadar memiliki akhlak yang baik.

Bukan sekadar menaati aturan.

Melainkan sebuah keadaan ketika pikiran menjadi begitu sunyi sehingga tidak lagi dipenuhi oleh konsep, penilaian, dan ego.

Dalam tradisi Zen keadaan ini disebut satori.

Dalam tradisi India disebut samadhi.

Islam menyebutnya makrifah.

Para sufi menyebutnya dengan berbagai nama.

Namun semuanya menunjuk pada pengalaman yang sama:

Keheningan batin yang begitu dalam hingga hanya Tuhan yang tersisa.


Bersambung .... )