Makna Ketiga: Sufi Adalah Sahabat Pilihan Tuhan
Ada satu lagi kemungkinan asal-usul kata Sufi.
Dan menurut saya, makna ini juga sangat indah.
Kata Sufi bisa berasal dari kata á¹£ufiyah, yang berarti orang yang dipilih menjadi sahabat Tuhan.
Perhatikan baik-baik.
Bukan manusia yang lebih dulu memilih Tuhan.
Justru Tuhanlah yang lebih dahulu memilih manusia.
Inilah salah satu ajaran yang paling khas dalam tradisi sufi.
Siapa Sebenarnya yang Mencari?
Kita sering berkata,
"Aku sedang mencari Tuhan."
Tetapi para sufi tersenyum mendengarnya.
Mereka berkata,
"Kalau Tuhan belum lebih dulu mencarimu, mustahil engkau bisa mulai mencari-Nya."
Keinginan untuk mengenal Tuhan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja dari dirimu.
Kerinduan itu adalah panggilan.
Ia adalah undangan.
Ia adalah bisikan halus dari Tuhan sendiri.
Tanpa panggilan itu, manusia akan sibuk mengejar seribu hal lain dan tidak pernah terpikir untuk mencari makna hidup.
Kerinduan Itu Adalah Anugerah
Pernahkah kamu bertanya mengapa ada orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah tertarik pada hal-hal spiritual?
Mereka hanya mengejar harta, jabatan, atau kesenangan.
Sebaliknya, ada orang yang sejak muda selalu gelisah.
Ada sesuatu yang terus memanggilnya.
Ia merasa ada yang kurang, meskipun semua kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi.
Menurut para sufi, kegelisahan itu bukanlah kutukan.
Itu adalah anugerah.
Tanda bahwa Tuhan sedang mengetuk pintu hatinya.
Rasa haus kepada Tuhan bukanlah hasil usahamu semata.
Itu adalah hadiah.
Begitu Juga dengan Seorang Guru
Hal yang sama berlaku ketika seseorang bertemu dengan seorang guru sejati.
Banyak murid berkata,
"Aku memilih guru ini."
Namun para sufi akan berkata,
"Tidak."
"Yang terjadi justru sebaliknya."
Guru itulah yang memilih muridnya.
Mungkin murid tidak menyadarinya.
Ia merasa sedang mencari.
Padahal, tanpa disadari, ia sedang dituntun.
Bagaimana mungkin seseorang mampu memilih guru sejati jika ia sendiri belum mengetahui siapa yang benar-benar telah sampai kepada Tuhan?
Dengan ukuran apa ia menilai?
Dengan pengetahuan apa ia memastikan?
Karena itu, pertemuan antara guru dan murid bukanlah kebetulan.
Ia adalah peristiwa yang telah dipersiapkan oleh kehidupan.
Tuhan Selalu Memulai Lebih Dulu
Hubungan manusia dengan Tuhan ternyata tidak dimulai dari manusia.
Selalu Tuhan yang mengambil langkah pertama.
Ia yang menanamkan benih kerinduan.
Ia yang membangunkan hati.
Ia yang membuat seseorang mulai mempertanyakan hidupnya.
Barulah setelah itu manusia merasa seolah-olah dirinya sedang mencari Tuhan.
Padahal, pencarian itu hanyalah jawaban atas panggilan yang lebih dahulu datang.
Bersyukurlah Jika Hatimu Merindukan Tuhan
Karena itu, para sufi mengatakan bahwa kerinduan kepada Tuhan adalah nikmat yang sangat besar.
Jika suatu hari kamu merasa haus akan makna hidup...
Jika kamu mulai ingin mengenal Tuhan lebih dekat...
Jika doa-doamu terasa lebih dalam daripada sekadar rutinitas...
Jangan anggap itu kebetulan.
Bersyukurlah.
Mungkin itu adalah tanda bahwa Tuhan sedang memanggilmu.
Panggilan pertama itu biasanya begitu halus.
Ia terdengar bukan oleh telinga, melainkan oleh hati.
Ia muncul dari kedalaman jiwa, sehingga kita sering mengira kerinduan itu berasal dari diri kita sendiri.
Padahal, menurut para sufi, kerinduan itu berasal dari Tuhan.
Dialah yang lebih dahulu mencari kita.
Dan seluruh perjalanan spiritual hanyalah jawaban kita atas panggilan cinta-Nya.
Tuhan jatuh cinta kepadamu dan berkali-kali ia menyatakan cintanya padamu.
Namun, kita selalu cuek dan jual mahal.
Manusialah yang tanpa sadar menolak cinta-Nya yang begitu tulus dan agung!
